Upaya Nasabah BTPN Syariah Meraih Mimpi (Bagian Kedua)

Supiyah Ingin Punya Showroom Mebel Kayu

Supiyah Ingin Punya Showroom Mebel Kayu
Business Coach Jateng 1 BTPN Syariah Anom Arditta (tengah) sedang berbincang dengan Supiyah (kanan), nasabah inspiratif yang menjalankan usaha warung dan kayu di daerah Pedurungan, Semarang pada 20 Agustus 2019. ( Foto: Investor Daily / Happy Amanda Amalia )
Happy Amanda Amalia / PYA Senin, 9 September 2019 | 09:18 WIB

SEMARANG, beritasatu.com – Peran wanita, disadari sangat penting bagi semua orang karena kehadirannya mampu menciptakan kebahagiaan keluarga. Di pelosok negeri ini, tersebar wanita-wanita perkasa yang disebut sebagai “Ibu” yang turut berjuang demi keluarga mewujudkan hidup yang lebih baik, meraih sejahtera.

Walau berasal dari keluarga pra-sejahtera, para ibu ini tetap memiliki mimpi besar baik untuk keluarganya maupun untuk lingkungan sekitar. Tidak ingin berpangku tangan dan hanya berharap kepada suami, para wanita yang didominasi ibu rumah tangga itu mulai menggerakkan tangan-tangan terampilnya sehingga melahirkan sejumlah karya, mulai dari bantal, mebel, souvenir, laundry, mukena, tas anyama, batik, songket, sampai makanan ringan.

Untuk memulai usaha-usaha tersebut, tentunya dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Dan umumnya, rintangan awal bagi para ibu adalah soal ketersediaan modal, yang kemudian membuatnya terpaksa mengubur impiannya.

Adalah BTPN Syariah yang sampai saat ini menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang memfokuskan diri melayani keluarga pra-sejahtera produktif (unbankable). Melalui model bisnis BTPN Syariah yang unik, yaitu mengkombinasikan misi bisnis dan sosial (do good do well) itulah, keluarga pra-sejahtera jadi memiliki kesempatan untuk mengejar mimpinya.

Beberapa waktu lalu, Investor Daily bersama beberapa media nasional dan lokal berkesempatan memenuhi undangan BTPN Syariah mengunjungi Semarang untuk melihat bagaimana bank itu menjalankan bisnis pembiayaan sekaligus berinteraksi dengan para nasabah inspiratif di Semarang.

Sosok nasabah inspiratif prasejahtera BTPN Syariah yang ditemui kali ini adalah Supiyah. Seorang ibu rumah tangga yang menjalankan usaha produksi dan perdagangan kayu, serta warung kelontong di Pedurungan, Semarang.

Supiyah menceritakan soal usahanya yang berkembang pesat setelah diajak bergabung dengan BTPN Syariah oleh tetangganya, Ibu Eko. Bergabung pada Januari 2016, ibu tiga anak ini mengawali usahanya dengan membuka warung kelontong kecil-kecilan, setelah keluar dari pekerjaan sebagai pengelola resto milik warga negara asing.

Pertama kali kenal BTPN Syariah, Supiyah diberikan pinjaman Rp 5 juta untuk menambah barang-barang dagangan di warung kelontong depan rumahnya. Dia bercerita bahwa kulakannya menjadi bertambah, dari rokok tiga bungkus menjadi lima, sementara yang laris ditambah menjadi 1 slop. Beras juga bertambah dari satu sak menjadi lima sak, begitu juga dengan gula yang sebelumnya hanya bisa membeli 5-10 kilogram (kg) jadi bertambah satu sak.

“Uang lima juta itu saya putar dan saya sisakan sedikit untuk menabung. Alhamdulillah, usaha ini ramai dan maju,” katanya.

Selang satu tahun, Supiyah kembali mendapat pinjaman Rp 10 juta karena pihak BTPN Syariah melihat usaha yang dijalankan berjalan lancar, mampu melunasi pinjaman awal, dan meningkatkan jumlah tabungannya. Supiyah mengatakan, saat itu dirinya hanya menabung Rp 80.000 per dua minggu sekali.

Saat ditawari penambahan modal, dia sempat berpikir bagaimana cara mengelola uang tersebut. Suami Supiyah pun mengusulkan supaya ikut terjun di usaha kayu bersama, dengan menggunakan uang Supiyah sendiri.

“Modal Rp 10 juta itu terus saya pakai untuk membeli kayu jati londo satu truk. Tapi saya nggak bisa milih kayunya karena uang terbatas. Setelah itu, saya terjun di kayu, tapi juga masih usaha warung. Setelah pinjaman Rp 10 juta, saya dapat pinjaman lagi Rp 17 juta dan berani masuk ke pabrik bersama suami. Tetapi, tetap dipakai adalah uang saya sendiri, bukan dari suami,” tutur dia.

Di tengah-tengah merintis usaha kayu, suami Supiyah kemudian menderita sakit lemah jantung. Dia pun harus pontang-panting menangani semuanya, mulai dari merawat suami yang sakit, menjalani usaha kayu dan warung kelontong, sampai mengurus anak-anaknya yang saat itu masih kecil.

Namun, Supiyah telah bertekad untuk terus menjalani usahanya sekaligus mengurus keluarga. Dirinya mengaku ikhlas demi mendapat surganya suami.

“Saat suami sakit lemah jantung, anak saya yang pertama baru selesai di STM Penerbangan, anak kedua SMP kelas 3, dan yang kecil baru umur 2 tahun. Jadi itu lagi lelah-lelahnya orang, mengurus suami dan anak-anak. Saya jemput anak-anak sekolah, usaha kayu di pelabuhan Barutikung juga saya pindahkan kesini (depan rumah, red),” katanya.

Namun kerja kerasnya terus membuahkan hasil. Supiyah mendapat pinjaman lagi dari BTPN Syariah Rp 40 juta. Dengan modal itu, dirinya berani mengontrak tanah di sebelah rumahnya selama lima tahun untuk mengembangkan usaha kayunya. Dengan modal itu pula, dia bisa mengambil kayu jati londo dengan berbagai ukuran antara 3-4 meter agar usaha perkayuannya menjadi lengkap.

Karena suami sakit maka usaha kayu Supiyah ini kemudian dibantu oleh putra pertamanya. Diceritakan bahwa awalnya dia berharap putranya mau melanjutkan sekolah polisi, namun karena khawatir tidak bisa ikut membantu mengurus ayahnya yang sedang sakit, Supiyah kemudian menawarkan putranya untuk membantu usaha kayu.

“Dapat 3 bulan di kayu, dia bilang gimana kalau buka mebel. Karena sama bapaknya diijinkan, jadi mereka berdua mencari alat-alatnya semua sampai komplit. Pertama kali dapat tukang 2 orang, sekarang sudah ada 7 pengrajin, 5 orang bagian finisihing,” ujarnya.

Selain usaha kayu jati londo, Supiyah juga sedang menggeluti usaha kayu kruwing yang diambil sebulan sekali dari Surabaya. Sedangkan untuk pemasaran kayu, dia mengatakan baru sampai seluruh Jawa saja, serta sudah sampai ke Surabaya, Jakarta.

Dengan bergabung menjadi nasabah BTPN Syariah, Supiyah mengatakan bahwa sekarang pengelolaan keuangannya sudah mulai teratur, usaha yang dijalankan pun sudah maju, dan sedang mengejar cita-citanya untuk membuka showroom di Semarang.

“Kalau omzet nggak tentu. Kadang dalam satu haru saya bisa dapat penjualan sampai di angka Rp 20 juta-an, kadang satu hari kosong,” pungkas dia.

Selain itu, dia juga punya mimpi dapat menunaikan ibadah umroh/haji, ingin agar anak-anaknya sukses dan menghabiskan masa tua bersama-sama suami.

Saat ditanya alasan tetap bertahan dengan BTPN Syariah, Supiyah mengaku tidak sulit untuk mendapat pinjaman dibandingkan bank-bank lain.

“Di BTPN Syariah mereka menanyakan kekuatan angsuran saya berapa, terus dia ngasih solusi 'Kalau besarannya segini setahun gimana?' Itu kan artinya sama-sama mendoakan, saling percaya. Istilahnya kalau sama BTPN Syariah itu sudah bagaikan suami kedua,” tuturnya.

Dengan menjadi nasabah BTPN Syariah, Supiyah ingin menunjukkan bahwa dirinya juga bisa memberi manfaat untuk keluarga dan lingkungan sekitar.

“Prinsip saya ingin hidup normal, bisa menjadi istri yang baik, ibu yang bisa mendampingi anak-anak saya, ingin menunjukkan ke mertua kalau saya mampu mengurus suami dengan baik, bisa bagi waktu di warung, bantu usaha mebel tetapi masih bisa membimbing anak saya. Itu yang bikin saya semangat, saya juga masih punya orang tua satu masih bisa bagi waktu, dan bahagia lahir batin. Ingin berguna bagi lingkungan keluarga sendiri juga linkungan sekitar,” jelas dia.



Sumber: Investor Daily