Perbankan Nilai Relaksasi LTV Akan Dorong Permintaan KPR Non Subsidi

Perbankan Nilai Relaksasi LTV Akan Dorong Permintaan KPR Non Subsidi
Direktur BTN Budi Satria memberi sambutan saat acara penandatangan kerjasama penjaminan kredit di Jakarta, Selasa 18 Desember 2018. ( Foto: Beritasatu Photo / Uthan A Rachim / Uthan A Rachim )
Mashud Toarik / MT Jumat, 20 September 2019 | 13:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Perbankan menyambut positif sejumlah kebijakan moneter yang digulirkan Bank Indonesia dalam rangka memacu pembiayaan hunian bagi masyarakat.

Kebijakan moneter tersebut yaitu, penurunan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (DRRR) menjadi 5,25% atau turun sebesar 25 basis poin. Ini merupakan kali ketiga BI memangkas BI 7DRRR sejak Juli 2019.

Selain stimulus penurunan suku bunga, BI memberikan relaksasi Loan to Value (LTV) dan Finance to Value (FTV) untuk pembiayaan kepemilikan properti, baik rumah tapak, rumah tinggal maupun rumah kantor (rukan) dan rumah toko (ruko).

Bagi perbankan, relaksasi ini akan membuat uang muka yang dibayar debitur Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen (KPR/KPA) atau properti lainnya berkurang. Semakin longgar atau besar rasio LTV maka makin kecil uang muka atau DP yang disediakan konsumen.

Pandangan ini diungkapkan oleh Direktur Consumer Bangking PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Budi Satria. Menurutnya relaksasi yang mulai berlaku pada 2 Desember 2019 tersebut merupakan angin segar bagi perbankan. Sementara bagi masyarakat akan meringankan dalam mengakses pembiayaan hunian khususnya KPR Non Subsidi.

“Bank Indonesia mempermudah masyarakat untuk mengakses pembiayaan perumahan dengan memperbesar LTV untuk pembelian rumah kedua dan seterusnya, juga membebaskan LTV untuk rumah pertama. Bebijakan BI patut diapresiasi karena saat ini pembelian properti agak melandai dan berdampak pada penyaluran KPR khususnya KPR non subsidi,” kata Budi di Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Lebih jauh Budi menilai, sektor properti yang terhubung dengan 170 industri lainnya akan menjadi andalan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 yang diproyeksi BI mencapai 5,1-5,5%.

Sinyal perlambatan pertumbuhan properti sudah terlihat pada bulan Juli 2019, sehingga BI mengambil kebijakan relaksasi LTV. Berdasarkan Analisis Uang Beredar yang dirilis BI, pertumbuhan kredit properti melambat per Juli 2019 hanya tumbuh 15,9% (yoy) sementara bulan Juni tumbuh 16,2% (yoy).

Pertumbuhan kredit properti diperlambat oleh rendahnya pertumbuhan KPR dan KPA. Per Juli 2019, KPR dan KPA tumbuh 12,3% (yoy) melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 12,8 % (yoy). Diakuinya perlambatan kredit secara umum yang dialami perbankan juga dialami oleh Bank BTN. Per Juli 2019, emiten dengan kode saham BBTN ini mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 18,03% (yoy) padahal Juni 2019, kredit tumbuh 18,78% (yoy).

“Relaksasi LTV ini akan berpengaruh tidak hanya bagi pembeli rumah pertama, tapi juga investment buyers karena dapat dengan mudah dan cepat membeli properti kedua, ketiga dan seterusnya untuk dijadikan portofolio investasinya,” kata Budi menambahkan.

Sebelum kebijakan relaksasi LTV digulirkan BI, Bank BTN mengaku berupaya memberikan kemudahan bagi konsumen. Lewat strategi marketing yang digalang dengan bersinergi bersama BUMN Properti diantaranya Perumnas, PT PP Properti, PT Waskita Karya Realty dan sebagainya.

Program promosi seperti Uang Muka ringan, suku bunga kredit yang murah dan tenor yang lama menjadi andalan Bank BTN meraup minat konsumen. Nah, dengan tambahan kebijakan relaksasi LTV ini menurutnya tentu akan ditangkap Bank BTN untuk mendongkrak penyaluran KPR terutama segmen KPR non subsidi.

“Tahun 2020 ketika relaksasi LTV mulai berdampak, Bank BTN sudah siap karena sudah merangkul BUMN Properti maupun swasta untuk bekerjasama mengembangkan strategi promosi yang makin memudahkan masyarakat berinvestasi di segmen properti,” kata Budi.

Menurut Budi relaksasi LTV, selain mempermudah konsumen juga membantu developer karena penjualan rumah menjadi lebih mudah, sebelumnya pada Juni 2018, pengembang juga lebih mudah mendapatkan pencairan kredit memberikan persyaratan yang lebih terutama pembelian rumah inden dengan KPR Inden.

“Pengembang mendapat pencairan kredit lebih cepat dan mudah, penjualan rumah lebih lancar sehingga likuiditas developer lebih baik,” pungkasnya.



Sumber: Majalah Investor