BNI Tetap Aman, Sindikat Investasi Tak Wajar Perlu Diwaspadai

BNI Tetap Aman, Sindikat Investasi Tak Wajar Perlu Diwaspadai
Ilustrasi BNI (Foto: Beritasatu.com)
Anselmus Bata / AB Sabtu, 19 Oktober 2019 | 19:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menegaskan bahwa dana nasabah tetap aman. Nasabah dan masyarakat tidak perlu khawatir untuk tetap bertransaksi di BNI.

Direktur Bisnis Korporasi BNI Putrama Wahju Setyawan menuturkan peristiwa yang terjadi di Ambon merupakan perbuatan oknum dalam sebuah sindikat, sehingga tidak memengaruhi kondisi BNI secara umum. Nasabah dan masyarakat umum tidak perlu khawatir untuk tetap bertransaksi dan menyimpan dananya di BNI.

Menurut Putrama yang akrab disapa Iwan, beberapa faktor yang membuat nasabah tidak perlu khawatir dengan BNI, yakni pertama, operasional layanan perbankan di BNI tetap berjalan normal, termasuk di seluruh outlet yang berada di bawah koordinasi Kantor Cabang Utama Ambon.

Kedua, kepercayaan sebagian besar nasabah tetap terjaga dibuktikan jumlah transaksi masuk berupa tabungan lebih besar dibandingkan jumlah transaksi keluar.

Ketiga, BNI tetap berkomitmen menjaga ketersediaan uang tunai yang dapat digunakan masyarakat melalui berbagai channel, termasuk mesin ATM selama 24 jam sehari tujuh hari seminggu.

"Pelanggaran yang terjadi di Ambon adalah kasus yang memiliki dampak minimal terhadap operasional dan ketersediaan dana di BNI. Kasus ini sudah dalam proses penyelidikan pihak Kepolisian sehingga diharapkan dapat mempercepat proses pengungkapannya," ujar Putrama melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (19/10/2019).

Hasil investigasi menunjukkan kondisi yang tidak wajar, yaitu terdapat dugaan adanya sindikat yang menawarkan investasi yang tidak wajar. FY, yang merupakan bagian dari sindikat, mengumpulkan dana dari para investor dengan janji imbal hasil yang cukup besar untuk berbisnis. Para penerima aliran dana disinyalir adalah para pemilik modal yang seolah-olah menerima pengembalian dana dan imbal hasil dari oknum, padahal dananya berasal dari hasil penggelapan dana bank. Nilai dana yang digelapkan FY berdasarkan temuan hasil pemeriksaan internal mencapai sekitar Rp 58,95 miliar.

BNI menemukan adanya kejanggalan transaksi dan segera melaporkan kejadian tersebut ke Polda Maluku agar kasus tersebut segera dituntaskan, serta mengupayakan recovery dana BNI yang digelapkan oleh sindikat.

Salah satu potret yang dapat menunjukkan kinerja BNI Ambon memuaskan dapat dilihat dari kinerja dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun di seluruh outlet yang berada di bawah koordinasi Kantor Cabang Ambon. Animo masyarakat Ambon untuk menabung dan menggunakan layanan transaksi digital BNI juga cukup tinggi.

Data per September 2019 menunjukkan DPK yang dihimpun di Ambon dan sekitarnya tumbuh sebesar 20,06% secara year on year (YoY) dibandingkan DPK yang terkumpul selama tahun 2018. DPK yang tumbuh merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur kepercayaan masyarakat terhadap BNI.

Fakta lain menunjukkan DPK tersebut sebagian besar karena ditopang oleh pertumbuhan tabungan dan giro yang merupakan sumber dana murah. BNI mencatat bahwa di Ambon dan sekitarnya terjadi pertumbuhan tabungan dan giro masing-masing sebesar 19,99% dan 27,96% secara YoY.

Tidak hanya meningkatkan pelayanan perbankan. BNI juga hadir di Ambon dan sekitarnya dengan beragam dukungan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara langsung. Dukungan tersebut antara lain adalah Desa Wai, Desa Liang, Kabupaten Seram Bagian Barat, BNI menyalurkan bantuan bagi korban gempa berupa bahan kebutuhan pokok dan perlengkapan kedaruratan, seperti selimut hingga makanan bayi.

Hal yang sama dilakukan BNI di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat. BNI menyalurkan 1.000 paket bahan kebutuhan pokok untuk masyarakat yang kurang beruntung bekerja sama dengan Kodam. Di bidang pendidikan, BNI juga menyalurkan bantuan renovasi untuk taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar Rutong di Kota Ambon.



Sumber: BeritaSatu.com