OJK Patok Pertumbuhan Kredit Perbankan 11% di 2020

OJK Patok Pertumbuhan Kredit Perbankan 11% di 2020
Wimboh Santoso. ( Foto: ID/David Gita Roza )
Lona Olavia / FMB Kamis, 16 Januari 2020 | 13:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan di tahun 2020 kinerja intermediasi perbankan tumbuh di kisaran 11 persen plus minus 1 persen, dengan tingkat risiko tetap terjaga rendah. Dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) juga ditargetkan ekspansi kredit akan tumbuh sebesar 10 persen.

Target tersebut di atas pencapaian pertumbuhan kredit di tahun 2019 yang hanya 6,08 persen, tetapi lebih rendah dari tahun 2018 yang 11,7 persen, seiring dengan lemahnya permintaan komoditas global. Di mana, bank BUMN tumbuh 8,5 persen di 2019 dari tahun sebelumnya 14 persen, Bank Swasta Nasional tumbuh 4,3 persen dari 9,4 persen, BPD tumbuh 11,2 persen dari 8,0 persen.

Terkait prospek ekonomi tahun ini ini, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso memperkirakan masih akan diwarnai dengan downside risks dari perlambatan ekonomi global dan gejolak geopolitik di sejumlah kawasan. Namun demikian, dengan selesainya beberapa proyek infrastruktur strategis dan konsistensi pemerintah menjalankan reformasi struktural, termasuk terobosan melalui hadirnya beberapa Omnibus Law.

"OJK optimistis perbaikan pertumbuhan ekonomi dan kinerja sektor jasa keuangan yang positif akan berlanjut di 2020,” katanya pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 yang dihadiri Presiden Joko Widodo di Jakarta, Kamis (16/1).

Di tahun 2019, di tengah dinamika perekonomian global OJK mencatat stabilitas sektor jasa keuangan terjaga dengan baik, didukung tingkat permodalan dan likuditas yang memadai serta profil risiko yang terjaga. Fungsi intermediasi lembaga jasa keuangan mengalami moderasi meski tetap sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik.

Pertumbuhan kredit perbankan didominasi oleh bank BUKU IV yang tumbuh 7,8 persen yoy sedangkan BUKU III tumbuh 2,4 persen yoy, BUKU II tumbuh 8,4 persen yoy, dan BUKU I tumbuh 6,4 persen yoy. Pertumbuhan kredit ini ditopang oleh sektor konstruksi tumbuh 14,6 persen yoy dan rumah tangga tumbuh 14,6 persen yoy. Sejalan dengan itu, kredit investasi meningkat 13,2 persen yang menunjukkan potensi pertumbuhan sektor riil kedepan.

Pertumbuhan kredit ini, sebut Wimboh diikuti dengan profil risiko kredit yang terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan tercatat rendah yaitu sebesar 2,5 persen atau net 1,2 persen.

Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan mencapai 23,3 persen, likuiditas yang cukup dengan LDR 93,6 persen, Net Interest Margin (NIM) tercatat turun menjadi 4,9 persen, dari 5,1 persen di tahun 2018 dan rata-rata suku bunga kredit turun dari 10,8 persen di akhir 2018 menjadi 10,5 persen di akhir 2019.

“Dari data ini kami optimistis stabilitas sektor perbankan ke depan akan tetap terjaga meski pertumbuhan kredit masih berhati-hati dengan ruang likuiditas yang menyempit namun risiko kredit terjaga dengan baik,” kata Wimboh.



Sumber: Suara Pembaruan