Andalkan Digitalisasi Bisnis Mikro, BRI Raup Laba Rp 34,41 T

Andalkan Digitalisasi Bisnis Mikro, BRI Raup Laba Rp 34,41 T
Kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI) ( Foto: istimewa / Istimewa )
Lona Olavia / FMB Kamis, 23 Januari 2020 | 18:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sepanjang tahun 2019, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencetak laba sebesar Rp 34,41 triliun atau tumbuh 6,15 persen yoy. Sementara, aset BRI tercatat Rp 1.418,95 triliun, tumbuh 9,41 persen.

"Pertumbuhan kredit realisasinya lebih rendah dari tahun lalu, kenaikan NPL di korporasi jadi NIM dari pinjaman berkurang. Ini tambah cadangan untuk cover risiko likuditas jadi laba tumbuh 6,15 persen jadi masih di atas rata-rata. Tahun depan kalau kredit 10 persen, dana masyarakat 10 persen-12 persen dan fokus ke UMKM khususnya di ultramikro lewat digitalisasi jadi bisa lebih murah biayanya dan efisien, kualitas kredit bisa dijaga jadi tidak perlu cadangan sebesar tahun lalu dan coverage cost bisa ditekan single digit jadi laba bisa tumbuh double digit tahun ini," kata Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo dalam paparan kinerja 2019 di Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Di sisi kredit, tercatat penyaluran kredit BRI mencapai Rp 908,88 triliun atau tumbuh 8,44, di atas rata rata industri perbankan yang tumbuh sebesar 6,08 persen.

“Salah satu faktor utama pendukung pertumbuhan kredit tersebut yakni penyaluran kredit mikro yang tumbuh double digit di angka 12,19 persen di sepanjang tahun 2019. Bahkan porsi kredit mikro pada Bank BRI sebagai perusahaan induk saja telah meningkat dari 34,3 persen menjadi 35,8 persen. Hal ini sejalan dengan aspirasi Bank BRI di tahun 2022, di mana komposisi kredit mikro mencapai 40 persen dari total portofolio pinjaman,” ujar Direktur Utama BRI Sunarso.

Pertumbuhan kredit BRI juga ditopang oleh pertumbuhan kredit ritel dan menengah yang tumbuh 12,08 persen yoy menjadi Rp 269,64 triliun. Di mana, rasio kredit bermasalah (NPL) berada di 2,80 persen dengan NPL Coverage mencapai 153,64 persen.

Sementara, pada sisi dana pihak ketiga (DPK) berhasil menembus angka di atas Rp 1.000 triliun yakni mencapai Rp 1.021,39 triliun atau naik sebesar 8,17 persen yoy.

Dana murah (CASA) masih mendominasi portofolio simpanan BRI, mencapai 57,71 persen dari total DPK atau senilai Rp 589,46 triliun. Perseroan juga catat FBI Rp 14,29 triliun atau tumbuh 20,1 persen. Dengan pertumbuhan FBI yang signifikanini, untuk pertama kalinya bagi Bank BRI fee income to total income Ratio mencapai double digit sebesar 10 persen. “Melalui inovasi dan digitalisasi, perseroan terus menciptakan sumber sumber pendapatan berbasis non bunga untuk menjaga tingkat profitabilitas,” imbuhnya.

Salah satu inovasi produk dan layanan yang memberikan dampak secara nyata bagi pertumbuhan FBI BRI adalah Agen BRILink. Hingga akhir tahun 2019, tercatat Bank BRI memiliki 422.000 agen dengan transaksi mencapai 521 juta kali transaksi finansial dengan volume mencapai Rp 673 triliun atau tumbuh 31,2 persen yoy. “FBI yang dihasilkan oleh Agen BRILink tercatat mencapai Rp 788,7 miliar atau tumbuh 75 persen yoy,” imbuh Sunarso.

Pada sisi permodalan, BRI mencatat rasio CAR 22,77 persen yang mencerminkan modal BRI cukup kuat untuk melakukan ekspansi baik dalam jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Secara likuiditas, BRI masih mempunyai ruang tumbuh di mana rasio likuiditas BRI di akhir tahun 2019 terjaga di level 88,98 persen.



Sumber: Suara Pembaruan