Likuiditas BRI Masih Sehat

Likuiditas BRI Masih Sehat
BRI akan segera menurunkan suku bunga bank pasca-penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI).
Lona Olavia / MPA Kamis, 14 Mei 2020 | 15:43 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Sunarso mengklaim, isu likuiditas akibat adanya pemberian keringanan kredit (restrukturisasi) terhadap debitur yang terdampak Covid-19 sejauh ini belum berpengaruh signifikan terhadap portofolio bank dengan laba terbesar tersebut. Hal itu nampak dari loan to deposit ratio (LDR) BRI yang hingga akhir Maret 2020 sebesar 90,45%.

"Sampai kuartal I sebenarnya diujung Maret baru terganggu, Januari, Februari masih normal. Terasa aktivitas ekonomi menurun di pertengahan Maret kesini. Kalau kinerjanya masih kinclong bagus, karena dampaknya di kuartal I belum kelihatan, paling diujungnya saja," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (14/5/2020).

Meski demikian, ia tak menampik, likuiditas kedepannya akan terganggu seiring tambah besarnya restrukturisasi yang dilakukan. Hingga akhir April 2020 perseroan tercatat telah memberikan relaksasi berupa restrukturisasi pinjaman kepada lebih dari 1,4 juta UMKM total pinjaman mencapai Rp 101 triliun.

"Memang ada masalah likuiditas, tapi antisapatif kita sudah siap. Kami mengharapkan adanya penempatan dana. Mudah-mudahan pemerintah tempatakan dana di bank yang lakukan restrukturisasi. Kita paling banyak memberikan restrukturisasi ke UMKM, mudah-mudahan dapat paling banyak meski tidak sepenuhnya Rp 101 triliun. Kita tanggung rasa sakit sama-sama, kemudian kalau ada restrukturisasi hendaknya saling bantu," ungkap Sunarso.

Dijelaskannya, BRI memiliki berbagai alternatif skema restrukturisasi untuk nasabah pelaku UMKM. Nasabah mikro, kecil dan ritel, apabila mengalami penurunan omzet sampai dengan 30% maka suku bunga diturunkan dan diberikan perpanjangan jangka waktu kredit. Bagi nasabah yang mengalami penurunan omzet antara 30%-50% mendapatkan penundaan pembayaran bunga dan angsuran pokok selama 6 bulan. Sementara itu, untuk debitur yang mengalami penurunan omzet 50%-75% mendapatkan penundaan pembayaran bunga selama 6 bulan dan penundaan angsuran pokok selama 12 bulan. Sedangkan, bagi debitur yang mengalami penurunan omzet di atas 75% mendapatkan penundaan pembayaran bunga selama 12 bulan dan penundaan angsuran pokok selama 12 bulan.

"Dampak restrukturisasi ada dua. Kalau tidak bayar pokok yang berkurang likuiditas. Yang tidak bayar bunga maka yang terpengaruh income," pungkas Sunarso.

Selain itu, BRI juga akan cari sumber dana likuiditas lain dengan fund raising dengan kreditur di luar. Baru-baru ini, BRI raih komitmen pinjaman luar negeri sebesar US$ 1 miliar dengan bunga 1,9% dalam skema club loan dari 10 bank regional Asia, Eropa, dan Amerika. Fasilitas pinjaman tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur liabilities dan meningkatkan net stable funding ratio, menjaga likuiditas valas, dan menyiapkan sumber pendanaan untuk ekspansi kredit.

Pinjaman luar negeri tersebut, dikatakannya memperlihatkan kepercayaan investor asing terhadap BRI dan Indonesia masih cukup tinggi di tengah ketidakpastian global. Terlebih lagi menjadi bukti bahwa Indonesia menjadi salah satu tujuan investasi menarik di dunia.



Sumber: BeritaSatu.com