BCA Restrukturisasi Kredit Rp 82,6 Triliun untuk 72.000 Debitur

BCA Restrukturisasi Kredit Rp 82,6 Triliun untuk 72.000 Debitur
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja saat pemaparan kinerja keuangan BCA Full Year 2019 di Jakarta, Kamis (20/2/2020). BCA menutup tahun 2019 dengan pertumbuhan laba bersih setelah pajak 10,5% YoY menjadi Rp28,6 triliun. (Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal)
Lona Olavia / FER Rabu, 27 Mei 2020 | 17:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hingga pertengahan Mei 2020, BCA sedang memproses restrukturisasi kredit Rp 65 triliun hingga Rp 82,6 triliun, setara dengan 10 persen hingga 14 persen dari keseluruhan portofolio kredit, yang berasal dari sekitar 72.000 debitur atau 10 persen dari total debitur seluruh segmen.

Baca Juga: Kuartal I, Laba Bersih BCA Naik Tembus Rp 6,6 Triliun

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, mengatakan, upaya ini sejalan dengan inisiatif pemerintah dalam mendukung kelanjutan usaha pelaku bisnis dan perekonomian nasional. Bahkan, perseroan memproyeksikan jumlah yang direstrukturisasi akan terus bertambah, mengingat belum adanya kepastian kapan pandemi virus corona (Covid-19) akan selesai.

BCA melihat ada potensi peningkatan jumlah restrukturisasi kredit beberapa bulan ke depan hingga sekitar 20 persen hingga 30 persen dari total kredit yang berasal dari 250.000 hingga 300.000 debitur,” kata Jahja dalam konferensi pers virtual, Rabu (27/5/2020).

Meski demikian, Jahja mengaku likuiditas BCA sejauh ini masih terjaga. Apalagi, pada Maret 2020, dana CASA perseroan tumbuh 17,3 persen year-on-year (YoY), mencapai Rp 568,5 triliun dan berkontribusi sebesar 76,7 persen dari total dana pihak ketiga.

Baca Juga: BCA Luncurkan Lab Uji Software di Yogyakarta

Selain itu, jumlah rekening juga menunjukkan tren kenaikan, yaitu sebesar 13,7 persen YoY mencapai 22 juta rekening, karena turut didukung layanan pembukaan rekening online.

Sementara, deposito tumbuh tinggi sebesar 15,1 persen YoY mencapai Rp 172,5 triliun, meskipun terdapat tren penurunan suku bunga deposito. Adapun total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 16,8 persen YoY menjadi Rp 741,0 triliun.

"Posisi likuiditas tetap kokoh dengan rasio LDR sebesar 77,6 persen, cukup stabil. Jadi, kami tidak perlu keluarkan bond atau rights issue, apalagi pinjaman juga agak melemah," kata Jahja.



Sumber: BeritaSatu.com