BTN Optimistis Kredit Bisa Tumbuh 5%-6% di Tengah Pandemi

BTN Optimistis Kredit Bisa Tumbuh 5%-6% di Tengah Pandemi
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Pahala N. Mansury memperkenalkan Whistle Blower System bertajuk WBS BTN SIIPS dan e-Mitra Operation pada acara Business Partnership Gathering yang diselenggarakan BTN di Jakarta, Kamis (18/6/2020). (Foto: Beritasatu Photo/Istimewa)
Lona Olavia / FMB Senin, 29 Juni 2020 | 19:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Seiring penempatan uang negara sebesar Rp 5 triliun akhir pekan lalu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) akan menggenjot penyaluran kredit khususnya di sektor perumahan hingga Rp 15 triliun dalam tiga bulan ked epan.

Bahkan, dikatakan Direktur Utama BTN Pahala Mansury ditambah adanya stimulus bantuan Subsidi Selisih Bunga (SSB) untuk 146.000 unit rumah guna mendorong pembiayaan perumahan bagi masyarakat menengah ke bawah, maka setidaknya nilai kredit yang dapat disalurkan oleh bank pelat merah tersebut bisa mencapai sekitar Rp 18-20 triliun pada akhir tahun.

"Penempatan dana baru akhir minggu lalu, tapi kalau kami optimis karena bersamaan dengan itu, kami dapat alokasi untuk salurkan kredit Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bersubsidi sampai akhir tahun sebanyak 146.000 unit rumah atau dikonversikan Rp 18-20 triliun," ucapnya dalam Special Dialogue yang ditayangkan di Beritasatu TV, Senin (29/6).

BTN pun lantas menargetkan pertumbuhan kreditnya di tahun ini bisa mencapai 5%-6% secara year on year (yoy). Persentase tersebut berubah dari sebelumnya tumbuh 9% kemudian dipangkas menjadi 2%-3% di tengah pandemi Covid-19 yang mengganggu aktivitas ekonomi, lalu kini sebesar 5%-6% seiring perbaikan permintaan KPR di Juni ini.

"Sampai Maret lalu, pertumbuhan kredit di BTN 4,9% dan segmen yang masih bertumbuh adalah KPR Bersubsidi yang naik 10% atau penyaluran kredit baru sebesar Rp 200-400 miliar per bulannya. Untuk jumlah akhir tahun kredit bisa tumbuh estimasi kita 5%-6% secara year on year dipacu adanya pertumbuhan KPR Bersubsidi yang akan tumbuh 10% sampai akhir tahun," sebutnya.

Lanjut Pahala, sejalan dengan kenaikan kredit KPR, maka kredit konstruksi juga terkerek naik, mengingat belum semua rumah sudah terbangun. Di mana, biasanya jumlah rumah yang baru terbangun baru 30.000-40.000 unit, sisanya masih perlu dibangun dan dibutuhkan waktu dua bulan untuk membangunnya hingga siap dihuni.

Pahala menuturkan, sektor KPR Subsidi, KPR nonsubsidi, dan kredit konstruksi akan menjadi motor utama dalam mendorong ekspansi tersebut. Tercatat, pertumbuhan KPR Subsidi hingga 25 Juni 2020 dibandingkan Mei 2020 sudah naik 75%, sedangkan non subsidi naik 20%-30%. Adapun, dari total kredit konsumer BTN, 60% dikontribusi dari KPR Subsidi dan sisanya 40% Non Subsidi. Diprediksi hingga akhir tahun, rasio masih akan sama persentasenya.

"Dilihat dari sisi permintaan KPR Bersubsidi di Juni ini sudah ada pemulihan. Ini indikator positif dimana KPR Bersubsidi permintaannya masih kuat di tengah pandemi Covid-19. Sulit memang untuk mencari sektor yang masih potensial dan tumbuh, sektor perumahan adalah salah satu sektor yang bisa jadi andalan. Begitu PSBB dilonggarkan, permintaan KPR naik signifikan," jelasnya.

Sektor properti, sambung Pahala, khususnya residensial akan mulai kembali menggeliat pada bulan Juli esok. Sebab, selepas Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Juni ini, nampak ekonomi mulai bergerak kembali dan mendorong minat masyarakat untuk membeli rumah muncul lagi. Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) juga akan mendorong sektor ini makin kinclong ke depannya. "Properti residensial akan lebih baik di Juli atau kuartal III dibandingkan kuartal II," ungkapnya.

BTN, sebut Pahala memiliki peran yang sangat besar dalam mendorong sektor perumahan. Di mana, porsi pembangunan rumah BTN dalam program Sejuta Rumah sebanyak 200.000-250.000 unit rumah per tahunnya ditambah dengan kredit konstruksinya tiap tahun sekitar 400.000 unit rumah. Sehingga, secara total kontribusinya mencapai 700.000 unit rumah atau 70%-80% dari total pembangunan rumah yang dibangun dalam 1 tahun. Bahkan, tahun lalu capai 89%. Dengan demikian, pangsa pasar BTN untuk KPR mencapai 39,6%.

Di sisi lain, rasio kinerja BTN juga disebutkan Pahala masih sangat baik saat ini. Misalnya, likuiditas yang di atas 130% dan alat likuiditas dibandingkan dana ketiga terjaga diatas 10%, dan total posisi penempatan dana selalu diatas Rp 14-15 triliun, bahkan di saat tertentu diatas Rp 22 triliun. Begitupula, rasio pencadangan BTN yang awal tahun ini sudah naik capai 110% dan rasio kredit bermasalah (NPL) bersih di 2,5%-3%.

“Kami beruntung bahwa sebelum terjadi Covid, BTN sudah naikkan pencadangan yang cukup signifikan sehingga permodalan cukup baik untuk beroperasi secara aman di masa pandemi Covid-19. Jadi, tetap percaya kami di BTN yang tergabung di Himbara, bank pemerintah, kondisi keuangan dan tata kelolanya baik. Kami pun akan jaga dana Anda sebaik-baiknya di tengah kondisi ekonomi yang volatile,” ungkap Pahala.



Sumber: BeritaSatu.com