BRI: Tak Selalu Uang, UMKM Lebih Butuh Edukasi dan Pendampingan

BRI: Tak Selalu Uang, UMKM Lebih Butuh Edukasi dan Pendampingan
Direktur Utama BRI Sunarso. (Foto: Istimewa)
Lona Olavia / CAH Rabu, 15 Juli 2020 | 22:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) telah memberikan restrukturisasi kredit kepada 2,88 juta nasabah dari periode 16 Maret hingga 6 Juli 2020 dengan nilai mencapai Rp 177,3 triliun.

Secara rinci, restrukturisasi di segmen mikro disalurkan untuk 1,3 juta nasabah dengan baki debet mencapai Rp 64,01 triliun, segmen kredit usaha rakyat (KUR) disalurkan ke 1,3 juta nasabah sebesar Rp 24,33 triliun, segmen ritel ke 99.065 debitur Rp 73,69 triliun, segmen konsumer disalurkan ke 41.373 debitur Rp 10,25 triliun, serta segmen korporasi menengah ke 127 debitur Rp 5,01 triliun.

Direktur Utama BRI Sunarso mengaku, restrukturisasi itu tidak mengganggu likuiditas di bank pelat merah tersebut.
"Ini (restrukturisasi) berdampak tidak terhadap likuiditas? Sebenarnya kita tidak butuh amat likuiditas, karena untuk apa likuiditas kalau demand kredit tidak ada?," ujarnya dalam Webinar CORE Economic Forum "Langkah Penting Perbankan dalam Mendorong Bisnis UMKM di Masa Pandemi", Jakarta, Rabu (15/7/2020).

Baca Juga: Gandeng Google Cloud, BRI Berdayakan UMKM

Sementara itu, BRI mencatat pada periode 25 Juni-15 Juli 2020 telah menyalurkan kredit untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebesar Rp 13,59 triliun kepada 295.617 debitur dari penempatan dana yang diterima dari pemerintah Rp 10 triliun. Dengan rincian untuk mikro KUR kredit yang disalurkan mencapai Rp 5,15 triliun dengan 202.701 debitur, untuk mikro non KUR mencapai Rp 4,10 triliun dengan 85.516 debitur dan untuk kecil ritel dan menengah mencapai Rp 4,34 triliun dengan 7.415 debitur.

Seperti diketahui, Bank BRI mendapatkan suntikan penempatan dana pemerintah sebesar Rp 10 triliun dalam rangka mendorong percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) terutama untuk sektor riil. Dari penempatan dana tersebut Bank BRI harus menyalurkan kredit 3 kali lipat yakni Rp 30 triliun dalam waktu 3 bulan.

Untuk menumbuhkan permintaan kredit baru, BRI mencari celah ke sektor-sektor yang membutuhkan, seperti sektor pangan dan tekstil. "Kita terima Rp 10 triliun kemarin dan janji deliver kredit 3 kali lipat. Dalam waktu 3 bulan, ekspansi kredit (Bank Himbara) harus mencapai Rp 90 triliun. Di BRI dari 25 Juni sampai 15 Juli pagi, uang Rp 10 triliun itu sudah disalurkan sebanyak Rp 13,9 triliun," pungkas Sunarso.

Baca Juga: Ditjen Pajak Harap UMKM Bisa Manfaatkan Insentif Pajak

Adapun, untuk memudahkan UMKM, BRI saat ini memiliki website pasar untuk pasar tradisional dengan cara digital serta memperkenalkan belanja online baik melalui WA website, mobile apps maupun kerja sama dengan startup. Selain itu juga membantu pemasaran web pasar melalui sosial media dalam bentuk video singkat, tutorial belanja dan promo belanja. Untuk web pasar ini BRI sudah berhasil menyasar 2,54 juta pedagang. Sementara web pasarnya berjumlah 3.983 web dengan 30.607 pedagang yang terdaftar. Sedangkan targetnya sekitar 5.241 web pasar dengan 52.410 pedagang yang terdaftar.

Adapun sebaran web pasar ini paling banyak di provinsi DI Yogyakarta sebanyak 602 web pasar, disusul Badung 569 web pasar, kemudian Malang sebanyak 485 web pasar dan Denpasar 309 web pasar serta paling rendah ada di Jayapura dengan 32 web pasar.

"Kalau bicara UMKM semua selalu bicara soal uang, saya tidak setuju. Bahwa UMKM lebih membutuhkan edukasi dan pendampingan supaya mereka bisa menjadi mitra lembaga keuangan secara fair dan setara. Kalau bicara edukasi yakni soal skill entrepreneurship dan administrasi manajerial, dan bagaimana mereka akses pasar, informasi, dan teknologi. Jangan lupa kita punya kewajiban untuk mengajarkan UMKM dengan GCG yang benar. Kalau itu dipenuhi oleh UMKM, dia akan jadi gadis cantik yang tidak perlu diadvokasi, tapi akan dilamar oleh banyak lembaga keuangan," jelas Sunarso.

Baca Juga: BRI Salurkan Subsidi Bunga KUR ke 214.000 Nasabah

Senada, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, masalah yang dihadapi UMKM bukan pada likuiditasnya, namun pada daya beli masyarakat. Untuk itu, pemerintah sebaiknya perlu membuat program yang konkret termasuk soal stimulus dan subsidi bunga.

Meski begitu, diakuinya bahwa kendala yang dihadapi UMKM 60 persen adalah permodalan, 15 persen pemasaran, 13 persen bahan baku, 10 persen keterampilan, dan 2 persen perizinan. Namun, terlepas dari itu, pelaku UMKM diharapkannya bisa adaptif terhadap perubahan di tengah pandemi, memacu kreatifitas dan inovasi, memperluas akses pasar, penguatan pemanfaatan teknologi digital, dan kemudahan akses pembiayaan.

Di lain sisi, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter A Redjalam mengatakan menjaga ketahanan dan keberlangsungan dunia usaha (sektor riil) sekaligus menjaga stabilitas sektor keuangan menjadi penentu keberhasilan dalam menghindari terjadinya krisis.

"Kebijakan restrukturisasi (kredit) ini membantu dunia usaha sekaligus membantu sektor keuangan. Cakupan kebijakan pemerintah sudah luas. Perlu adanya sinergi, bahu membahu menjaga dunia usaha dan sektor keuangan, sinergi antar lembaga mutlak diperlukan," ucapnya.



Sumber: BeritaSatu.com