Ditopang Dana PEN, Kredit Perbankan Diyakini Bisa Tumbuh 4%-5%

Ditopang Dana PEN, Kredit Perbankan Diyakini Bisa Tumbuh 4%-5%
Nasabah melakukan transaksi di Bank Mandiri di Jakarta, Senin, 29 Juni 2020. Pemerintah memberikan fasilitas penempatan Rp30 triliun kepada Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) guna mempercepat pemulihan ekonomi nasional. (Foto: Beritasatu Photo / Mohammad Defrizal)
Lona Olavia / FMB Kamis, 30 Juli 2020 | 09:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Para bankir meminta kegiatan ekonomi harus terus dijalankan, tanpa mengesampingkan protokol pencegahan Covid-19. Hal itu sejalan dengan penempatan dana pemerintah di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sebesar Rp 30 triliun. Di mana per 22 Juli 2020 sudah tersalurkan kredit Rp 43,5 triliun kepada 518.797 nasabah, atau 145% dari total dana yang ditempatkan pemerintah pada 25 Juni 2020.

Secara rinci, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) telah memperbesar penyaluran kredit hingga dua kali lipat, dari penempatan dana pemerintah sebesar Rp 10 triliun mencapai Rp 21,2 triliun. Sementara PT Bank Mandiri Tbk mencatat realisasi penyaluran kredit sebesar Rp 14,9 triliun dari penempatan dana sebesar Rp 10 triliun. Lalu PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mampu merealisasi kredit sebesar Rp 6 triliun dari penempatan dana pemerintah sebesar Rp 5 triliun. Terakhir, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) telah menyalurkan kredit sebesar Rp 3 triliun dari penempatan dana pemerintah sebesar Rp 5 triliun.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan pasca-Covid, pertumbuhan kredit harus di level yang moderat. Dalam kondisi normal seharusnya kredit bisa tumbuh 8%-10%, namun dalam kondisi seperti ini 4%-5% sudah cukup bagus. Meski begitu, dengan adanya penempatan dana pemerintah dan insentif yang lebih agresif, maka ia meyakini target tersebut akan tercapai.

Untuk itu, Kementerian BUMN akan meminta dana tambahan jika Himbara sudah berhasil menyalurkan kredit tiga kali lipat dari uang yang ditempatkan pemerintah atau Rp 90 triliun. Apalagi, perbankan cukup agresif dalam penyaluran kreditnya. "Kalau nanti uangnya sudah tiga kali lipat kami akan minta mungkin dana tambahan lagi kepada Bu Menteri Keuangan (Sri Mulyani)," katanya dalam webinar bertajuk Peran Perbankan Dalam Pemulihan Ekonomi Nasional, Rabu (29/7/2020) malam.

Sementara itu, Bank Himbara per 30 Juni telah melakukan restrukturisasi kredit untuk segmen UMKM dan Koperasi kepada 3,76 juta debitur. Adapun total saldo pokok plafon pinjaman perjanjian kredit (baki debet) yang direstrukturisasi senilai Rp 441,08 triliun.

Menanggapi itu, Anggota DPR Komisi XI Muhamad Misbakhun menilai sudah sewajarnya pemerintah menempatkan perbankan sebagai motor penggerak perubahan. Apalagi, tidak ada satu negarapun yang mempunyai cerita sukses terkait dana penempatan untuk menangani Covid-19. "Saya usulkan ke pemerintah terbitkan dana penempatan Rp 1.000- Rp 2.000 triliun ditaruh ke perbankan terus diprogramkan 5 tahun harus diambil pelan-pelan dan dijadikan subdebt sehingga bisa memperbaiki kualitas CAR (rasio permodalan) perbankan," pungkasnya.

Namun, menurut Direktur Utama BRI Sunarso persoalan yang dihadapi saat ini lebih kepada daya beli yang masih rendah. Ia pun mengkritik pembuat kebijakan stimulus untuk pelaku usaha tetapi implementasinya molor. Sedangkan, krisis akibat pandemi Covid-19 ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi.

"Untuk menumbuhkan ekonomi bukan hanya likuiditas, tapi bagaimana bisa diserap secara produktif, sehingga demand harus didorong. Kegiatan ekonominya harus terus dipulihkan kembali baru buka likuiditas dari berbagai stimulus tadi. Stimulus kalau tidak diikuti kegiatan ekonomi tidak akan jalan. Mari kita tetap aktivitas ekonomi dengan protokol disiplin sehingga ekonomi akan bergerak kembali dan pulih," tegasnya.

BRI, sebut Sunarso, telah menyalurkan kredit sebesar Rp 24,93 triliun hingga 29 Juli. "Dalam 1 bulan, kita salurkan jadi Rp 24,93 triliun. Kami (Bank Himbara) diberikan Rp 30 triliun dan kami berjanji untuk me-leverage 3 kali selama 3 bulan, harus sudah disalurkan Rp 90 triliun," katanya.

Sementara itu, total modal kerja yang disalurkan kepada UMKM mencapai Rp 348,96 miliar ke 768 debitur hingga 27 Juli 2020. Sedangkan, hingga 6 Juli 2020, BRI telah merestrukturisasi kredit ke 2,88 juta nasabah. "Puncak restrukturisasi terjadi di April sebesar Rp 86 triliun, kalau dari sisi portofolio. Kalau dari sisi nasabah tertinggi di Mei. Juni kecenderungan menurun, Juli makin menurun. Artinya ada tanda perbaikan," jelas ia.

Oleh karena itu, soal target kredit, Sunarso optimis bisa tercapai 4%-5%, setelah direvisi turun dari sebelumnya Rp 10%-11%.

Senada, Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar memastikan kredit tumbuh positif tahun ini. Perseroan pun akan mengusulkan revisi rencana bisnis bank dalam waktu dekat. "Angkanya belum bisa kami sampaikan, tetapi akan tetap tumbuh positif," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com