Pengkot Jakut Tolak Calon Tunggal di Munas Perbasi

Pengkot Jakut Tolak Calon Tunggal di Munas Perbasi
Ketua Umum PP Perbasi Danny Kosasih. ( Foto: Perbasi )
Hendro D Situmorang / CAH Rabu, 16 Oktober 2019 | 18:27 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Pengurus Kota (Pengkot) Perbasi Jakarta Utara (Jakut) menolak hanya ada satu calon untuk memimpin Pemgurus Pusat Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PP Perbasi) di masa mendatang. Diketahui saat ini, sang incumbent Danny Kosasih menjadi satu-satunya calon yang ada untuk memimpin federasi basket Indonesia periode 2019-2023. Musyawarah Nasional (Munas) PP Perbasi sendiri akan digelar pada 23-25 Oktober mendatang di Jakarta.

Satu calon yang ada merupakan buntut dari persyaratan bagi bakal calon (balon) yang disusun oleh Tim Penjaringan. Dimana, salah satunya adalah balon wajib mengantongi minimal 15 dukungan dari pengurus provinsi (Pengprov). Syarat tersebut sangat memberatkan. Sebab, Pengprov Perbasi hanya terdiri dari 33. Belum lagi persyaratan yang mewajibkan balon harus memiliki pengalaman organisasi di basket minimal empat tahun.

Ketua Pengkot Perbasi Jakut, Halimin Suginta menyebutkan pihaknya merasa lebih baik perihal pemilihan ini seperti sebelumnya. Dimana, saat itu, setiap balon hanya diwajibkan mendapat dukungan dari 5 Pengprov.

”Kalau lebih banyak calon yang ada kan lebih baik juga. Kan setiap orang kan beda-beda. Kami mengakui sangat berharap adanya calon lain sebagai alternatif pilihan untuk dipilih. Sebab, selama kepemimpinan Danny tidak melihat prestasi yang membanggakan. Selain itu, banyak juga program yang kurang berjalan dengan baik,” ujar Halimin, Kamis (16/10/2019).

Menurutnya, Danny kurang keatif dalam mencari pendanaan. Sebagai ketua seharusnya bisa memiliki kekuatan untuk mencari dana dengan melobi sponsor. Ia menyebut Perbasi tidak boleh hanya bergantung dari dana yang dikucurkan pemerintah. Sebab, dana yang ada cukup terbatas.

“Makanya harus menggandeng swasta. Nah, swasta itu mau membantu kalau program yang dimiliki bagus. Otomatis akan datang. Tapi kalau programnya jelek siapa yang mau jadi sponsor,” ketusnya.

Dia menyebut sebetulnya banyak figur yang memiliki potensi dan peluang untuk membawa Perbasi menjadi lebih baik lagi ke depannya. ”Banyak yang punya potensi untuk pembinaan berjenjang. Itu saja,” ucapnya.

Diketahui kemarin (15/10/2019) tim penjaringan akan menetapkan calon ketua umum dari hasil penjaringan yang ada. Halimin menyebutkan, sebagai salah satu voters, pihaknya berharap jangan sekadar disodorkan calon ketua.

”Maksudnya kami punya hak suara. Tolong dong beri kami kesempatan untuk menimbang calon yang ada. Dimana dilihat dari visi misinya. Jangan sebelum ini sudah ditentukan. Jadi tidak ada pilihan. Seolah-olah ada calon cuma ini, jadi tidak fair,” keluhnya.

Jika keputusan tidak berubah, Danny Kosasih bisa saja menjadi calon aklamasi. Menurutnya, hal itu sah-sah saja. Tapi, pihaknya masih melihat perkembangan nanti di lapangan.

”Kalau saya gini, kami punya daerah dikasih kesempatan. Dari daerah juga punya pemimpin yang bagus. Dibawa ke Jakarta. Kami butuh yang lebih baik lagi untuk perubahan,”paparnya.

Terakhir, pihaknya berharap pada munas kali ini Perbasi bisa mendapat pemimpin yang lebih baik dan perhatian. Terutama pembinaan usia dini di KU-8 tahun dan KU-10. ”Karena itu cikal bakal untuk pemain,” ucapnya.

Tim Penjaringan Caketum pada pergelaran Munas PP Perbasi pun mengeluarkan rekomendasi Danny Kosasih sebagai caketum PP Perbasi 2019-2023.

“Kami sudah melakukan rapat pleno hari Senin kemarin. Kami memberikan rekomendasi Danny Kosasih sebagai calon ketua umum PP Perbasi periode 2019-2023,” kata Wawan Mulyana, Ketua Tim, Selasa (15/10). Hal itu ditegaskan juga oleh anggota tim Penjaringan, George Fernando. “Hari ini kami siapkan administrasi berupa SK untuk dilaporkan pada saat Musyawarah Nasional PP Perbasi nanti,” ucap George.

Tim Penjaringan Bakal Calon Ketua Umum PP Perbasi ditetapkan oleh Surat Keputusan PP Perbasi Nomor 017 tahun 2019 terdiri dari ketua Wawan Mulyana, Rifki Antolyon, Ariel Tigor Binafsihi, George Fernando Dendeng, dan administrator Alvin Indra. 



Sumber: Suara Pembaruan