Orang dengan Skizofrenia Bisa Pulih Sepenuhnya
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Orang dengan Skizofrenia Bisa Pulih Sepenuhnya

Rabu, 10 September 2014 | 16:41 WIB
Oleh : Dina Manafe / B1

Jakarta - Gangguan jiwa skizofrenia sering kali berlangsung kronis dengan gejala utama berupa gangguan proses berpikir. Gangguannya berupa pembicaraan kurang bisa dimengerti, isi pikiran yang tidak sesuai realita disertai gangguan persepsi pancaindera, yaitu halusinasi, tingkah laku aneh, seperti berbicara atau tertawa sendiri.

Gangguan jiwa ini kerap muncul di usia produktif, remaja dan dewasa muda, yaitu 15-25 tahun. Karenanya, perlu mengenali gejala dan dilakukan terapi sedini mungkin, guna meningkatkan probabilitas pemulihan sempurna (recovery). Sebab, pulih utuh bukan lagi hal mustahil bagi penyandang gangguan jiwa skizofrenia. Sayangnya, konsep recovery ini belum dianggap. Padahal, sangat diperlukan untuk kehidupan Orang Dengan Skizofrenia (ODS) dalam jangka panjang.

“Prevalensi ODS di Indonesia akan terus bertambah dan semakin membebani penderitanya, keluarga maupun masyarakat bila mereka tidak mencapai pemulihan sempurna. Karena menunda waktu mereka untuk kembali produktif di masyarakat,” kata Ketua Seksi Skizofrenia Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Ayu Agung Kusumawardhani, pada workshop media, di Jakarta, Selasa (9/9).

Acara yang diselenggarakan atas kerja sama Kementerian Kesehatan, PDSKJI, Komunitas Peduli Skizofrenia (KPSI) dan Johnson and Johnson ini sebagai rangkaian peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) yang jatuh pada Rabu, 10 Oktober 2014.

Menurut Ayu, rangkaian recovery ini dimulai dari terapi dengan obat-obatan. Setelah obat tersebut bekerja dengan baik dan mendapat respons dari penderita, kondisi tersebut dipertahankan. Kemudian dilanjutkan dengan mengembalikan fungsi kognitif penderita, hingga mencapai pemulihan sempurna.

“Sekarang tujuan kami adalah ODS mencapai recovery, itulah tujuan akhir dari pengobatan. Bila pasien berhasil kembali ke fungsi seperti semula, dia akan independen, tidak tergantung pada orang lain dan melaksanakan kegiatan sehari-hari tanpa harus diawasi serta mencapai sosial interaksi yang baik,” ucap Ayu.

Menurutnya, seorang ODS baru dikatakan recovery bila ia mengalami proses pemulihan dan fungsi kognitifnya kembali normal selama dua tahun. Recovery ini, dijelaskan Ayu, sangat penting agar ODS tidak bolak balik ke rumah sakit. Sebab, sekali masuk rumah sakit akan terjadi kekambuhan gangguan otak dan kondisinya bakal jauh lebih berat.

Kepatuhan Minum Obat
“Ini yang harus dihindari. Kami dorong agar ODS yang sudah sembuh kembali ke komunitasnya dan bekerja untuk diri sendiiri. Dan keluarga adalah faktor penentu ODS mencapai pemulihan sempurna dan kepatuhannya minum obat,” kata Ayu.

Sayangnya, karena minimnya pengetahuan tentang penanganan gangguan kejiwaan, keluarga kerap membawa ODS kepada pengobatan yang tidak tepat. Akibatnya gangguannya semakin parah dan berat ketika dibawa ke dokter atau psikiater. Pengobatannya pun terlambat dan menelan biaya yang lebih besar. Padahal dengan terapi yang cepat dan tepat, orang dengan skizofrenia sebetulnya dapat hidup produktif.

Ayu menjelaskan, gejala psikotik awal skizofrenia dapat menyebabkan ODS kesulitan berinteraksi serta menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar. Hal ini tentunya mengganggu produktivitas dan kapasitas bekerja serta bersosialisasi di masyarakat.

Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi gangguan jiwa berat, termasuk skizofrenia, mencapai 1,7 per mil atau 1-2 orang dari 1.000 warga di Indonesia. Dari jumlah tersebut sebagian besar belum mendapat pengobatan yang tepat, sehingga mengakibatkan kondisi ODS masih sulit diterima kembali di masyarakat.

Oleh karenanya, menurut Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemkes, dr Eka Viora, selain upaya pengadaan obat-obatan yang menyeluruh ke pelosok daerah, ODS berhak diperlakukan secara manusiawi dan tanpa pasung. Ini merupakan perintah UU Kesehatan Jiwa yang disahkan baru-baru ini.

“Dengan UU Kesehatan Jiwa diharapkan penanganan gangguan kejiwaan terutama skizofrenia lebih komprehensif dan terintegrasi mulai dari edukasi, terapi, dan dukungan psikologis bagi ODS agar dapat produktif kembali di masyarakat,” kata Eka.

Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

DBD Masih Tinggi, Pemkot Jakarta Utara Sosialisasikan Pencegahan

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara sendiri merilis angka DBD dari awal tahun sampai bulan Agustus mencapai 915 kasus.

KESEHATAN | 10 September 2014

Penanganan Cepat dan Tepat Bayi Prematur Meminimalkan Dampak Negatif

Dengan minimnya pengetahuan dan informasi, penanganan dan perawatan bayi prematur kadang menjadi kurang optimal.

KESEHATAN | 10 September 2014

Omni Hospital Pulomas Hadirkan Pusat Kemoterapi

Omni Hospital Pulomas menghadirkan fasilitas Chemo Center atau Pusat Kemoterapi.

KESEHATAN | 10 September 2014

Inilah Penyebab Terjadinya Penyakit Jiwa Skizofrenia

Selain faktor genetik, kondisi pra-kelahiran juga memberi kontribusi terhadap terjadinya skizofrenia.

KESEHATAN | 9 September 2014

Obat Herbal Indonesia Mulai Dilirik Pasar Global

Perlu adanya peningkatan produksi obat herbal dalam negeri untuk memenuhi permintaan pasar.

KESEHATAN | 9 September 2014

Kenali Gejala Awal Penyakit Jiwa Skizofrenia

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi gangguan jiwa berat, termasuk skizofrenia, mencapai 1-2 orang dari 1.000 warga di Indonesia.

KESEHATAN | 9 September 2014

Dokter Umum di Puskesmas Harus Bisa Tangani Pasien Skizofrenia

Dikhawatirkan kasus pemasungan semakin banyak.

KESEHATAN | 9 September 2014

8 Hal yang Patut Anda Ketahui tentang Gigitan Nyamuk

Ada 3.500 jenis nyamuk di dunia.

KESEHATAN | 9 September 2014

Omni Hospital Pulomas Hadirkan "Chemo Center"

Pasien juga diberi sesi konsultasi dengan ahli kanker Jepang.

KESEHATAN | 9 September 2014

Presiden Resmikan Pusat Kesehatan Ibu dan Anak RSCM

Prioritas terhadap bidang kesehatan ini harus menjadi program penting bagi pemimpin Indonesia selanjutnya.

KESEHATAN | 9 September 2014


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS