Waspada Penyebab Awal Bunuh Diri
INDEX

BISNIS-27 503.6 (2.5)   |   COMPOSITE 5652.76 (48.27)   |   DBX 1032.04 (3.25)   |   I-GRADE 164.451 (1.87)   |   IDX30 490.95 (3.33)   |   IDX80 128.766 (0.95)   |   IDXBUMN20 358.484 (4.17)   |   IDXG30 133.521 (0.92)   |   IDXHIDIV20 437.723 (3.27)   |   IDXQ30 142.408 (1.41)   |   IDXSMC-COM 239.978 (2.77)   |   IDXSMC-LIQ 292.98 (3.3)   |   IDXV30 120.747 (2.08)   |   INFOBANK15 969.323 (8.87)   |   Investor33 424.184 (2.73)   |   ISSI 165.497 (1.49)   |   JII 607.992 (3.57)   |   JII70 207.954 (1.77)   |   KOMPAS100 1151.81 (10.08)   |   LQ45 901.663 (6.22)   |   MBX 1571.94 (14.64)   |   MNC36 316.426 (2.22)   |   PEFINDO25 300.975 (9.54)   |   SMInfra18 283.853 (1.3)   |   SRI-KEHATI 362.321 (2.15)   |  

Waspada Penyebab Awal Bunuh Diri

Kamis, 11 September 2014 | 15:56 WIB
Oleh : Herman / B1

Jakarta - Tingginya angka bunuh diri di berbagai negara di dunia kian memprihatinkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, tiap 40 detik satu orang di dunia meninggal karena bunuh diri.

Di Indonesia, berdasarkan data WHO pada 2012, estimasi angka bunuh diri mencapai 4,3 per 100.000 penduduk.

Pengamat Kesehatan Jiwa dr. Albert Maramis Sp.KJ mengatakan, salah satu faktor utama risiko bunuh diri adalah depresi. Karena itu, masyarakat diimbau agar lebih peka terhadap orang-orang di sekelilingnya yang menunjukkan gejala depresi.

"Kita perlu membuka diri terhadap orang-orang yang mengalami depresi, tawarkan bantuan atau bantu dia menemukan pertolongan," katanya, di Jakarta, Kamis (11/9).

"Misalkan ada orang yang berbicara tentang niatnya untuk bunuh diri, jangan diabaikan atau malah disalahkan. Dengarkan dengan sepenuh hati apa yang disampaikan."

Beberapa gejala depresi yang bisa terlihat seperti hilangnya rasa gembira, menarik diri dari pergaulan, serta kehilangan energi yang berlebih diikuti nafsu makan yang menurun.

"Perubahan perilaku yang mencolok dari orang-orang terdekat harus kita waspadai, misalnya tiba-tiba dia menyelesaikan segala utangnya, atau meminta maaf kepada semua orang. Dua hal ini paling sering dilakukan dan perlu ditangkap sebagai tanda bahaya," ujarnya.

Selain depresi, lanjut Albert, faktor risiko bunuh diri lainnya adalah gangguan penggunaan alkohol, penderita bipolar dan skizofrenia. Bahkan pada penderita gangguan jiwa, risikonya 10 kali lebih besar untuk bunuh diri.


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Puluhan Pasien BPJS Antre Seharian Demi Berobat

Puluhan Pasien BPJS Antre Seharian Demi Berobat

KESEHATAN | 11 September 2014

BPJS Kesehatan Optimalkan Sistem Rujukan Berjenjang

BPJS Kesehatan perlu berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menyukseskan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

KESEHATAN | 11 September 2014

Begini Cara Turunkan Risiko Hilang Ingatan saat Lansia

Faktor risiko yang dapat dimodifikasi, yaitu tekanan darah tinggi, diabetes mellitus dan resistensi insulin, dyslipidemia, merokok, obesitas, dan gagal jantung.

KESEHATAN | 10 September 2014

TP2RKOKI Minta Revolusi Sistem Perawatan Kesehatan Segera Digalakkan

Pemerintah harus mulai membangun rakyatnya agar sehat dan kuat secara mandiri, yang keluar dari dalam dirinya sendiri.

KESEHATAN | 10 September 2014

Masalah Gangguan Ingatan Ternyata Lebih Banyak Menyerang Wanita

Gangguan ini umumnya menyerang di atas usia 65 tahun.

KESEHATAN | 10 September 2014

IDI Mewaspadai Kemungkinan Ebola Masuk ke Indonesia

"Tetap waspada, bila virus tersebut menyebar bisa berbahaya."

KESEHATAN | 10 September 2014

Kenali 10 Gejala Demensia

Gangguan ini menyerang satu dari sepuluh orang berusia di atas 65 tahun.

KESEHATAN | 10 September 2014

Orang dengan Skizofrenia Bisa Pulih Sepenuhnya

Rangkaian recoveri dimulai dari terapi obat-obatan dan dilanjut dengan terapi fungsi kognitif.

KESEHATAN | 10 September 2014

DBD Masih Tinggi, Pemkot Jakarta Utara Sosialisasikan Pencegahan

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara sendiri merilis angka DBD dari awal tahun sampai bulan Agustus mencapai 915 kasus.

KESEHATAN | 10 September 2014

Penanganan Cepat dan Tepat Bayi Prematur Meminimalkan Dampak Negatif

Dengan minimnya pengetahuan dan informasi, penanganan dan perawatan bayi prematur kadang menjadi kurang optimal.

KESEHATAN | 10 September 2014


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS