Perekam dan Penyebar Video Dugaan Kekerasan oleh Densus Diburu
INDEX

BISNIS-27 503.6 (2.5)   |   COMPOSITE 5652.76 (48.27)   |   DBX 1032.04 (3.25)   |   I-GRADE 164.451 (1.87)   |   IDX30 490.95 (3.33)   |   IDX80 128.766 (0.95)   |   IDXBUMN20 358.484 (4.17)   |   IDXG30 133.521 (0.92)   |   IDXHIDIV20 437.723 (3.27)   |   IDXQ30 142.408 (1.41)   |   IDXSMC-COM 239.978 (2.77)   |   IDXSMC-LIQ 292.98 (3.3)   |   IDXV30 120.747 (2.08)   |   INFOBANK15 969.323 (8.87)   |   Investor33 424.184 (2.73)   |   ISSI 165.497 (1.49)   |   JII 607.992 (3.57)   |   JII70 207.954 (1.77)   |   KOMPAS100 1151.81 (10.08)   |   LQ45 901.663 (6.22)   |   MBX 1571.94 (14.64)   |   MNC36 316.426 (2.22)   |   PEFINDO25 300.975 (9.54)   |   SMInfra18 283.853 (1.3)   |   SRI-KEHATI 362.321 (2.15)   |  

Perekam dan Penyebar Video Dugaan Kekerasan oleh Densus Diburu

Selasa, 5 Maret 2013 | 17:04 WIB
Oleh : Farouk Arnaz / B1

Jakarta - Selain mengevaluasi kemungkinan pelanggaran prosedur dalam video kekerasan yang diduga dilakukan anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dan Brigadir Mobil (Brimob) di Poso, Sulawesi Tengah, pada 2007, Mabes Polri juga akan mencari siapa pelaku perekaman dan penyebarluasan gambar tersebut. Hal tersebut dikatakan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Boy Rafli Amar di Mabes Polri Selasa (5/3).

"Mudahan mudahan ini juga (akan terungkap) dan kita cari tahu meski saat ini (siapa perekamnya dan pengedarnya) itu tidak begitu penting. Kita harus mencari adakah unsur kesalahan prosedur atau tidak di sana," kata Boy.

Pada kesempatan tersebut, Jenderal bintang satu itu, kembali menegaskan bahwa video yang dibawa Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin kepada Kapolri Jenderal Timur Pradopo itu terkait penangkapan tersangka terorisme Wiwin alias Rahman Kalahe. "Saat itu ada 200 senjata yang disita dari mereka. Komplotan Wiwin mengakibatkan Briptu Rony tewas tertembak, menyebabkan lima anggota polisi terluka parah. Wiwin sendiri saat itu membawa M16. Beberapa anggotanya ada yang membawa MK3, yang diperoleh dari Filipina dan Maluku. Itu kondisi yang terjadi," ungkap Boy.

Wiwin, terang Boy, merupakan satu dari 60 pelaku teror yang saat itu dicari, akibat kasus teror bom rakitan dan pemenggalan kepala tiga siswi pada Oktober 2005. "Jadi tayangan itu pascapenangkapan. Mereka dibawa ke kantor polisi, lalu tangannya diikat menggunakan borgol plastik. Menghadapi terorisme, dalam prosedur kita, memang pelaku harus buka baju. Karena ditakutkan masih simpan bahan peledak atau senjata api," imbuh Boy.

"Sedangkan adegan di mana ada terduga teroris tertembak dan dibiarkan saja, tidak diobati, dan hanya diminta oleh polisi untuk berdoa karena mau mati, pelaku itu adalah Wiwin. Tapi, kesehatan dia sekarang bagus. Meski begitu, apakah ada kata-kata kurang layak dari anggota, kami akan cari tahu," lanjutnya.

Lebih lanjut Boy memastikan bahwa HAM telah menjadi kurikulum dan pedoman seluruh anggota polisi di lapangan. Senjata api pun hanya digunakan dalam kondisi tertentu dengan pertimbangan dari petugas di lapangan.

Seperti diberitakan, wacana pembubaran detasemen berlambang burung hantu yang kini digawangi Brigjen M. Syafii itu kembali mencuat, setelah kemunculan video beraroma kekerasan yang diduga dilakukan oleh oknum Densus dan Brimob.

Dalam video itu, yang kini telah di upload di Youtube, terlihat ada lebih dari empat orang terduga teror. Juga ada satu regu Brimob yang berpakaian seragam dengan helm dan rompi.

Dalam video terebut terjadi interogasi oleh polisi kepada para terduga teror yang sengaja ditelanjangi. Mereka direbahkan di tanah dengan tangan terikat ke belakang. Juga terlibat ada beberapa terduga teror yang tampak berdarah karena luka tembak.

Tak terlibat upaya untuk mengobati pendarahan akibat luka tembak itu. Sehingga darah terus mengucur membahayakan nyawa para terduga pelaku teror itu.

Ketua MUI Amidhan mengecam tindakan aparat yang terekam dalam video itu. Menurutnya tindakan yang luar biasa itu bisa dikategorikan pelanggaran HAM berat.


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Misbakhun Resmi Bergabung dengan Golkar

"Ada tiga orang dari partai lain yang gabung ke Golkar".

NASIONAL | 5 Maret 2013

Draf Sprindik KPK Bocor, Polri Diminta Menahan Diri

"Saya kira Mabes Polri harus bisa menghormati adanya Komite Etik".

NASIONAL | 5 Maret 2013

Draf Sprindik Bocor, Komite Etik Belum Tentu Mampu Temukan Pelanggaran

Bocornya draf sprindik merupakan peristiwa yang pertamakali terjadi dalam sejarah berdirinya KPK.

NASIONAL | 5 Maret 2013

Seluruh Rumah Sakit Milik BUMN Akan Dimerger

Penggabungan rumah sakit tersebut dilakukan untuk membuat rumah sakit-rumah sakit milik BUMN berkapasitas 1000 tempat tidur sehingga lebih efisien.

NASIONAL | 5 Maret 2013

Reekspor Kontainer Blackberry, Banding Jonny Abbas Ditolak Pengadilan Singapura

Dengan putusan itu juga, Mctrans tetap bertanggung jawab untuk memberikan ganti rugi kepada tiga penggugat.

NASIONAL | 5 Maret 2013

Pembersihan Kawasan Halimun dari Penghuni Liar Dilakukan Bertahap

"Ada puluhan ribu KK di situ sekitar 40 ribuan KK".

NASIONAL | 5 Maret 2013

17 Anggota DPRD Maluku Utara Bergabung ke NasDem

Seluruh anggota DPR yang bergabung memiliki tujuan yang sama, yakni menginginkan perubahan Indonesia pada 2014 mendatang.

NASIONAL | 5 Maret 2013

Untuk Rampungkan RUU Pilkada Perlu Diskusi Sekali Lagi

Hingga saat ini pemerintah dan DPR RI sudah membahas secara keseluruhan revisi rancangan Undang-Undang (RUU) Pilkada.

NASIONAL | 5 Maret 2013

Dua Mantan Pimpinan KPK Ikuti Pemaparan Anggaran Pendidikan 2013

"Kita enggak tahu dimana, bunganya bagaimana".

NASIONAL | 5 Maret 2013

Timwas Century Belum Akan Periksa Anas Urbaningrum

"Apakah Anas akan dipanggil dan bersaksi secara terbuka di hadapan tim, atau tidak, saya belum bisa jawab. Kalau dianggap perlu, bisa saja dipanggil."

NASIONAL | 5 Maret 2013


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS