Detik-detik Sebelum Aksi Bom Natal 2000
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

Detik-detik Sebelum Aksi Bom Natal 2000

Selasa, 8 Mei 2012 | 06:00 WIB
Oleh : B1

24 Desember 2000, pada sore hari, Dulmatin membawa bahan peledak yang sudah dibungkusi ke kotak kardus sebesar kotak tissue.

Medio awal 2000-an menjadi awal mimpi buruk lahirnya aksi terorisme berlatar belakang jihad keagamaan di Indonesia. Saat itu, publik Indonesia dikejutkan serangan bom di sejumlah gereja di Jakarta tepat pada malam Natal 2000.

Pada malam 12 Oktober 2002, Indonesia kembali dikejutan tiga rangkaian serangan bom di Bali. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan.

Aksi biadab ini menewaskan 202 orang, 164 di antaranya merupakan warga asing dari 24 negara, sedangkan 38 lainnya warga Indonesia. Korban luka dalam serangan itu mencapai 209 orang.

Indonesia pun kembali dihajar sejumlah aksi teror besar secara berturut-turut, dimulai aksi Pengeboman hotel JW Mariott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa siang, 5 Agustus 2003. Ledakan itu berasal dari bom mobil bunuh diri dengan menggunakan mobil Toyota Kijang dengan nomor polisi B 7462 ZN yang dikendarai oleh Asmar Latin Sani. Ledakan tersebut menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang.

Pada 9 September 2004, aksi bom mobil bunuh diri menyerang kedutaan Besar (Kedubes) Australia di Jakarta, Kuningan. Jumlah korban jiwa tidak begitu jelas. Pemerintah Indonesia mengidentifikasi 9 orang, namun Australia menyebut angka 11. Korban yang meninggal adalah satpam-satpam Kedubes, pemohon visa, staf Kedubes, serta warga yang berada di sekitar tempat kejadian saat bom tersebut meledak. Tercatat tidak ada WNA Australia yang tewas.

Jakarta kembali dilanda aksi Bom pada 17 Juli 2009, yang dikenal dengan peristiwa Bom Mega Kuningan 2009. Ledakan bom terjadi di dua tempat, hotel JW Mariott dan Ritz-Carlton pada pukul 07.47 dan 07.57. Aksi itu menewaskan 9 orang korban dan melukai lebih dari 50 orang lainnya, baik warga Indonesia maupun warga asing.

Sejumlah serangan itu melahirkan nama-nama yang dikenal sebagai gembong teroris, misalnya Noordin M Top, Dulmatin, Imam Samudera, dan Umar Patek.

Kronologi Bom Malam Natal

Umar Patek, salah satu tokoh utama serang Bom Natal, mengisahkan bagaimana kronologis lahirnya aksi serangan bom di sejumlah gereja pada Malam Natal 2000, saat memberikan keterangan terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin (7/5).

Keikutsertaan terdakwa Umar Patek dalam kasus terorisme Bom Natal tidak jauh dari peran serta teman dekatnya, Dulmatin, teroris yang ditembak mati di Pamulang Maret tahun lalu.

Patek yang bertetanggga dengan Dulmatin sejak kecil di Pemalang, Jawa Tengah, telah banyak menghabiskan waktu bersama berkaitan dengan ajaran-ajaran agama terutama mengenai jihad. Keterlibatan Patek berawal dari kepulangan dirinya dari Filipina pada Desember 2000 ke Pemalang, Jawa Tengah, Indonesia.

"Tidak lama saya pulang, Dulmatin pergi ke Jakarta, katanya ada kerjaan di sana, tapi waktu ditanya kerja apa, tidak dijawab. Dia cuma bilang, 'kalau sudah tertata, kamu ikut saya ke Jakarta.' Entah apa dirinya tidak mau sebut," ungkap Patek, saat pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin (7/5).

Dituturkan Patek, setelah beberapa hari kepergian Dulmatin ke Jakarta, dirinya mendapat perintah untuk menyusul ke Jakarta. Di Jakarta, Patek tinggal di suatu rumah dan di rumah itulah pertama kalinya Patek bertemu dengan Imam Samudera.

"Di situ bertemu Imam Samudera. Dulmatin juga suka bermain handphone, tapi ga tau sama siapa," ujar pria kelahiran Pemalang yang mulai belajar tentang ilmu agama dan jihad pada tahun 1991 bersama Dulmatin.

Dalam pertemuannya dengan Imam Samudera, diakui Patek, Imam pernah mengaku ingin balas dendam untuk sejumlah umat muslim yang ada di Ambon dan Poso. "Mau ledakin gereja-gereja Jakarta katanya," kenang Patek.

Patek pun membalas dengan pertanyaan mengapa kalau memang ingin membalas dendam tidak di Ambon dan Poso saja? Pasalnya, menurut Patek, di sanalah tempat konflik terjadi. Keyakinan Patek pada saat itu, meledakkan gereja dilarang oleh Islam, bertentangan dengan perintah Rasulullah. "Imam Samudera bilang gereja adalah tempat menyimpan senjata untuk serang Islam," ungkap terdakwa.

Namun, Patek tidak dapat melawan karena Imam Samudera lebih senior dibanding dirinya. Dia mendapat perintah membantu Dulmatin meramu bahan peledak.

"Saya lihat bahan jadi peledak dari campuran, ada arang, sulfur, potasium klorat, di rumah kontrakan Imam Samudera. Dulmatin saat itu tumbuk arang, saya yang mengayak pakai saringan santan biar halus. Hari selanjutnya Dulmatin yang meramu, lalu saya yang memasukkan sekilo-kilo ke plastik," jelasnya.

Tiap malam sebelum terjadinya pengeboman tersebut, Dulmatin, lanjut Patek, membuat rangkaian elektronik untuk bomnya. Menurut Patek, kemampuan Dulmatin merangkai bom tersebut berasal dari Afghanistan. "Semua personil yang pernah ke Afghanistan, pasti bisa meramu peledak."

Pada hari berikutnya, yakni pada tanggal 23 Desember 2000, terpidana mati terorisme lainnya, Mukhlas datang ke rumah Imam Samudera. "Abis sholat tarawih, Mukhlas kasih tausiah bertiga," ujar Patek.

Lalu pada 24 Desember 2000, pada sore hari, Dulmatin membawa bahan peledak yang sudah dibungkusi ke kotak kardus sebesar kotak tissue. "Ada yang tas jinjing yang berisi device elektronik. Dulmatin yang bungkusin. 'Kamu tunggu di sini, saya mau keluar, nanti jam 9 ya bawa kamu, kita pulang ke Pemalang,' kata Dulmatin. Lalu saya baca Al-Quran nunggu buka puasa," tutur Patek.

Tidak ada sejam dari itu, Dulmatin kemudian datang menggunakan mobil dengan disupiri Edi Setiono menjemput Patek. Dalam mobil tersebut, Dulmatin kemudian mengatur jam di dalam kotak.

"Semua diset jam 00.00, pake jam alarm, kayak yang dijual di pinggir jalan. Tinggal dipencet pas jam 9 katanya," ujar Patek, sambil menjelaskan di dalam mobil tersebut terdapat tiga tas jinjing dan 10 kotak.

Ledakan malam Natal pada tahun 2000 lalu yang dilakukan oleh Dulmatin dan rekan-rekannya terjadi di Gereja Katedral, Sekolah Kanisius Menteng Raya, Gereja Matraman, Gereja Koinonia Jatinegara, dan Gereja Oikumene Halim. Ledakan tersebut telah merenggut ratusan nyawa tewas.


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Sepekan, Densus Ciduk 12 Terduga Teroris

Ke-12 terduga teroris itu diciduk di sejumlah tempat di Indonesia, mulai dari Jakarta, Palembang, dan sebuah lokasi di Sumatera Utara.

NASIONAL | 7 Mei 2012

BNP2TKI Buka Penempatan TKI Ke Korea Mulai Hari Ini

Pendaftaran Ujian mulai hari ini hingga 10 Mei 2012.

NASIONAL | 7 Mei 2012

DPR: Polisi Jangan Jadikan Izin Senjata Api Lahan Bisnis

TNI dan Kepolisian perlu melakukan pengawasan ketat terhadap aparatnya dalam memakai senpi dengan mengadakan psikologi, test urine

NASIONAL | 7 Mei 2012

Dibantah, Pemecatan 12 Pengurus DPD Sumut Terkait Penolakan Ical

Revitalisasi itu sudah jauh-jauh hari diagendakan dengan alasan non-aktifnya Syamsul Arifin karena sedang ditahan KPK.

NASIONAL | 7 Mei 2012

KPK Akan Periksa Lagi Wayan Koster

Terkait kasus dugaan penerimaan hadiah dalam penganggaran di Kemenpora dan Kemendiknas dengan tersangka Angelina Sondakh.

NASIONAL | 7 Mei 2012

Kasus Suap Dewan Dominasi Kinerja KPK Kwartal I 2012

Berdasarkan pelaku selama empat bulan pertama tahun 2012 mayoritas pelaku tindak pidana korupsi berasal dari institusi DPR RI dan DPRD.

NASIONAL | 7 Mei 2012

IPW: Polri Biarkan Senpi Ilegal Beredar

Pihak kepolisian pun tidak tegas dalam menyita senjata ilegal tersebut yang sudah tidak memiliki izin.

NASIONAL | 7 Mei 2012

Politikus Demokrat Curiga Malaysia Masih Incar Ambalat

Oleh karena itu Komisi I mendukung modernisasi TNI.

NASIONAL | 7 Mei 2012

Dosen UI Sebut Marzuki 'Macet Pikiran'

Alumni korup tidak dapat dijadikan alibi untuk memojokkan universitas.

NASIONAL | 7 Mei 2012

Marzuki Alie: Pemerintah Kurang Memperhatikan PTS

Pemerintah harus memikirkan pembinaan untuk PTS termasuk dalam hal akreditasi.

NASIONAL | 7 Mei 2012


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS