Kemunculan Romantisme Kejayaan Masa Lalu Bisa Picu Konflik Sosial
INDEX

BISNIS-27 448.146 (0.31)   |   COMPOSITE 5091.82 (20.37)   |   DBX 966.643 (7.34)   |   I-GRADE 139.941 (-0.23)   |   IDX30 428.154 (0.15)   |   IDX80 113.358 (0.41)   |   IDXBUMN20 291.199 (0.73)   |   IDXG30 119.599 (-0.42)   |   IDXHIDIV20 379.423 (-0.2)   |   IDXQ30 124.629 (0.03)   |   IDXSMC-COM 218.961 (1.24)   |   IDXSMC-LIQ 257.997 (1.39)   |   IDXV30 107.251 (0.23)   |   INFOBANK15 832.7 (-1.05)   |   Investor33 373.408 (0.72)   |   ISSI 150.953 (0.22)   |   JII 549.986 (0.88)   |   JII70 187.543 (0.51)   |   KOMPAS100 1019.5 (2.84)   |   LQ45 788.563 (1.25)   |   MBX 1407.83 (4.87)   |   MNC36 279.661 (0.67)   |   PEFINDO25 277.129 (5.34)   |   SMInfra18 242.149 (-0.57)   |   SRI-KEHATI 316.134 (0.38)   |  

Kemunculan Romantisme Kejayaan Masa Lalu Bisa Picu Konflik Sosial

Senin, 27 Januari 2020 | 20:29 WIB
Oleh : BW

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio mengatakan, kemunculan romantisme sejarah kejayaan masa lalu berupa seperti Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire, dan lainnya berpotensi memicu terjadinya konflik sosial di masyarakat.

“Walaupun bentuknya sistem pemerintahan alternatif dan kelihatannya seperti dagelan, fenomena ini bisa menjadi alat baca. Barangkali tak sedikit masyarakat yang muak dengan politik pemerintahan hari ini. Apalagi diperparah dengan situasi sosial dan ekonomi yang mereka hadapi,” kata dia Hendri, di Jakarta, Senin (27/1/2020).

Menurut Hendri, hal-hal seperti itu sebenarnya bukan hal baru, sebelumnya juga pernah muncul kerajaan-kerajaan imajinatif dan tak sedikit masyarakat yang percaya dengan imajinasi kejayaan masa lalu. Contohnya, seperti SwissIndo yang bisa melunasi hutang Indonesia dan masyarakat, atau harta karun peninggalan masa lalu.

Pada 2002 lalu, Menteri Agama bahkan menggali Istana Batu Tulis untuk mendapatkan harta karun. Ada juga Kerajaan Ubur-Ubur, Gafatar, bahkan Kerajaan Lia Eden yang sempat gempar dengan membawa isu agama

“Saya pikir ada dua hal yang memang menjadi pemicu maraknya narasi semacam ini. Pertama kondisi ekonomi dan sosial yang makin rumit bagi masyarakat, mereka butuh alternatif. Kedua literasi sains kita begitu rendah,” ungkap Hendri.

Selain itu, lanjut Hendri, gejala kerinduan kejayaan masa lalu dengan kembali ke identitas primordial seperti suku, kerajaan yang pernah jaya, bahkan seperti white supremacy di Amerika, supremasi Hindu di India, oleh karena reaksi kekecewaan masyarakat terhadap modernisasi dan globalisasi yang tak kunjung menyejahterakan.

Pendiri lembaga survei KedaiKopi itu menegaskan, perlu menggarisbawahi terkait literasi sains dan nalar kritis masyarakat sebab sejak beberapa tahun lalu bahkan hingga sekarang, masih banyak orang percaya teori bumi datar atau konspirasi lain.

Menurut dia, fenomena belakangan ini landasannya mirip dengan yang terjadi beberapa tahun lalu, yaitu memanfaatkan ketidakmampuan masyarakat mengkonfirmasi suatu narasi dengan landasan sains.

“Bila flat earth terkait fisika dan astronomi, maka kesultanan dan segala kerajaan itu terkait dengan disiplin ilmu sejarah. Sejarawan-sejarawan kita mesti berbicara dan mengkonfirmasi dagelan ini,” kata Hendri.

Ia menjelaskan, mental atau psikologisme masyarakat itu hanyalah sebuah bentuk gejala, justru hal yang perlu dilihat adalah situasi dan kondisi seperti apa yang membuat masyarakat bisa mempercayai itu.

Hendri memandang, kondisi tersebut tercipta karena fatalisme yang berkombinasi dengan nostalgia, hal itu membuat masyarakat benar-benar muak dengan situasi yang mereka hadapi hari ini seperti kondisi sosial, ekonomi, dan seterusnya.

“Ada alasan kenapa masyarakat kita tak sedikit yang terjebak pada penipuan dengan bentuk MLM atau penipuan cara cepat untuk menjadi kaya yang lain. Apa yang ditawarkan inisiator kerajaan imajinatif itu juga mirip pada pengikutnya yaitu kekuasaan dan kekayaan dengan cara cepat,” ucapnya.

Kemudian, mengenai peran media sosial, Hendri menilainya sangat kecil, karena media sosial hanya memantik masyarakat di Jakarta tahu tentang apa yang terjadi di daerah, bukan sebagai sarana utama mereka mendulang pengikut.

Hendri melanjutkan, eskalasi post-truth yang terjadi pasca 2013-2014 membuat masyarakat dekat dengan misinformasi dan disinformasi, hal itu berkontribusi cukup besar dalam kemunculan-kemunculan klaim kejayaan masa lalu itu, meski bukan variabel utama.



Sumber:ANTARA


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Pameran Garis Mahir, Upaya Memahami Tahapan Berpikir Anak

Rumah Perubahan Rhenald Kasali berkolaborasi dengan Yayasan Tegar menggelar pameran pendidikan bertajuk Garis Mahir.

NASIONAL | 28 Januari 2020

EcoNusa: Papua dan Maluku, Garda Terakhir Hutan Indonesia Bahkan Dunia

Yayasan EcoNusa didirikan pada tahun 2017 yang diprakarsai oleh Bustar Maitar, seorang tokoh penggiat lingkungan yang lahir dan besar di Papua.

NASIONAL | 28 Januari 2020

Polri Akui Tarik Penyidiknya dari KPK

Masa tugas dua penyidik KPK yang ditarik Polri telah berakhir.

NASIONAL | 28 Januari 2020

Warga Resah, Revitalisasi Monas Dinilai Tidak Ramah Lingkungan

Sejumlah warga resah terhadap proyek ini yang dianggap tak ramah lingkungan.

NASIONAL | 28 Januari 2020

Dirjen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot

Irjen Kemkumham, Jhoni Ginting menjadi pelaksana harian dirjen Imigrasi.

NASIONAL | 28 Januari 2020

Menlu Siapkan Skenario Evakuasi WNI dari Tiongkok

Berdasarkan catatan Kemlu, saat ini sebanyak 243 WNI ada di 17 lokasi karantina virus corona di Tiongkok.

NASIONAL | 28 Januari 2020

Menkes Tegaskan Belum Ada Pasien Korona di Indonesia

Menkes Terawan Agus Putranto menegaskan sampai hari ini, belum ada warga negara Indonesia (WNI) yang terjangkit virus Korona.

NASIONAL | 28 Januari 2020

Menko PMK: Pemerintah Jamin Logistik WNI di Tiongkok Cukup

Menko PMK Muhadjir Effendy, memastikan ratusan WNI yang sebagian besar adalah mahasiswa ini aman dan dalam kondisi sehat. Mereka juga tidak kekurangan logistik.

NASIONAL | 28 Januari 2020

Pelajar SMP Tewas Tenggelam di Sungai Jenggalu, Seluma

Jenazah Eko Ekstrada ini baru ditemukan warga setelah tenggelam selama 22 jam.

NASIONAL | 28 Januari 2020

WNI yang Dievakuasi dari Tiongkok Akan Masuk Karantina

Muhadjir memastikan, para WNI yang dievakuasi dari Tiongkok akan disteril terlebih dahulu.

NASIONAL | 28 Januari 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS