Akademisi: Perlu Pendekatan Baru Cegah Intoleransi di Lingkup Pendidikan
INDEX

BISNIS-27 503.122 (7.61)   |   COMPOSITE 5724.74 (89.25)   |   DBX 1066.46 (9.81)   |   I-GRADE 166.255 (3.05)   |   IDX30 491.004 (8.8)   |   IDX80 129.735 (2.65)   |   IDXBUMN20 364.991 (9.26)   |   IDXG30 133.352 (2.1)   |   IDXHIDIV20 441.973 (8.53)   |   IDXQ30 143.512 (2.54)   |   IDXSMC-COM 247.38 (3.5)   |   IDXSMC-LIQ 301.054 (8.02)   |   IDXV30 127.096 (4)   |   INFOBANK15 976.214 (12.27)   |   Investor33 422.656 (6.59)   |   ISSI 167.54 (3)   |   JII 607.336 (12.69)   |   JII70 209.626 (4.39)   |   KOMPAS100 1162.4 (23.4)   |   LQ45 904.834 (17.52)   |   MBX 1587.29 (26.24)   |   MNC36 315.598 (5.98)   |   PEFINDO25 317.232 (4.1)   |   SMInfra18 287.626 (7.78)   |   SRI-KEHATI 361.444 (5.7)   |  

Akademisi: Perlu Pendekatan Baru Cegah Intoleransi di Lingkup Pendidikan

Minggu, 22 November 2020 | 23:23 WIB
Oleh : BW

Jakarta, Beritasatu.com - Dosen sosiologi Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) M Najib Azca menilai, perlu ada program dan pendekatan baru untuk mencegah adanya intoleransi di lingkup pendidikan.

Najib Azca mengatakan, kasus intoleransi di lingkungan pendidikan akhir-akhir ini sudah meresahkan.

Kondisinya sangat mengkhawatirkan, apalagi masalah intoleransi, momok yang bisa mengancam perdamaian dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, dibutuhkan program dan pendekatan baru dalam mencegah berkembangnya intoleransi di lingkungan pendidikan.

“Saya kira sudah cukup banyak riset menemukan bahwa ada tren meningkatnya intoleransi atau radikalisme di sekolah atau kampus. Ini suatu warning bagi kita semua, baik pendidik, pemerintah, masyarakat untuk mewaspadai atau hati-hati terhadap tren seperti ini,” kata dalam keterangan tertulisnya, Minggu (22/11/2020).

Najib mengatakan, program untuk mengikis penyebaran intoleransi di lingkungan sekolah harus segera diberlakukan. Salah satunya dengan bergerak melibatkan komunitas kaum muda seperti siswa SMP, SMA, dan mahasiswa.

“Karena mereka sendiri yang harus mampu mengenali, mengidentifikasi gejala-gejala, misalnya menguatnya intoleransi di lingkungannya, dan itu bisa dilakukan bila mereka terlibat langsung dan proaktif untuk melakukan aktivitas ini. Misalnya terjadinya gejala radikalisasi di lingkungannya teman sebayanya,” ucap Najib.

Saat ini, lanjut dia, pihaknya tengah mengembangkan program dan pendekatan dengan membangun sekolah damai berbasis siswa sebaya.

"Dengan program itu, mereka (siswa dan mahasiswa) sendiri yang melihat dan mengamati, lalu mencoba mengembangkan upaya-upaya untuk membina damai di lingkungannya," kata dia.

Ia juga menyarankan upaya mengikis intoleransi di sekolah tidak terkesan top down atau dari atas ke bawah.

"Kita harus mampu menyemai teman-teman muda untuk proaktif merawat toleransi, perdamaian di lingkungannya dengan cara-cara yang sesuai dengan kemudaan mereka. Soalnya kalau menggunakan cara orang tua, kadang-kadang gak cocok,” tutur Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM itu.

Cara-cara yang dipakai, kata Najib, dengan menggunakan platform TikTok atau Podcast. Menurutnya, penggunaan media baru dalam membangun toleransi di kalangan muda sangat penting ketika sasarannya adalah anak muda.

Adapun cara-cara lama atau cara ala orang tua dinilai tidak akan menyambung dengan kaum muda karena frekuensi mereka beda.

"Kita harus belajar juga dari anak-anak muda terutama dalam mengemas pesan-pesan damai, pesan-pesan kontra ekstremisme dengan cara-cara anak muda," katanya.

"Itu akan lebih mudah cepat diterima melalui proses dialog dan diskusi dengan mereka. Kita perlu mendengar juga dari anak muda sendiri apa yang mereka rasakan, mereka pikirkan, dan mereka inginkan, dari situ kita rumuskan agenda kolaboratifnya,” lanjut Najib.

Ia menegaskan perlu adanya kombinasi untuk mengatasi masalah tersebut. Artinya, kalau dari sekolah, keberadaan pendidik memang sangat penting, karena pada dasarnya sekolah masih menghargai senioritas dan secara hirarki ada guru sebagai pendidik yang memiliki otoritas.

Namun, menurut dia, itu saja tidak cukup, oleh karena itu siswa harus dilibatkan secara langsung, baru setelah itu pemerintah yang wajib ikut terlibat.

Selain itu, ia melihat pelibatan tokoh agama dan organisasi masyarakat juga penting seperti dengan NU, Muhammadiyah, Al Washliyah dan lainnya, sehingga dari titik tersebut program itu juga bisa dianggap sebagai agenda komunitas agama.

Dengan begitu, ia yakin efek dari program akan sangat kuat dibandingkan seolah-olah agenda hanya berupa program yang berasal dari pemerintah saja.

Ia pesimistis bila agenda tersebut hanya bertumpu dari pemerintah saja. Pasalnya kalau itu yang terjadi, program dinilai belum berhasil untuk mendiseminasi, me-mainstream-kan, dan memperluas pencegahan dan pendekatan kontra ekstremisme dan radikalisme di lingkungan sekolah.

Hal penting lain, menurut Najib, yakni dilakukannya penguatan wawasan kebangsaan di lingkungan sekolah. Penguatan wawasan kebangsaan itu merupakan suatu paket yang lengkap sebagai upaya meningkatkan pendekatan keagamaan moderat.

Hal itu seperti cara pendekatan yang dilakukan NU dengan Islam Nusantara-nya, yaitu pendekatan agama berbasis kebudayaan dan adat.

“Itu sekaligus untuk mengokohkan identitas kebangsaan kita, karena agama dan budaya adalah bagian kolektif kita sebagai bangsa. Kalau itu bisa kita solidkan, maka sebagian persoalan bangsa yang sekarang ini terjadi akan terkikis,” ujarnya.



Sumber:ANTARA


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

IDAI Siapkan Persyaratan Terkait Pembukaan Sekolah Tahun Depan

Namun menurutnya, poin terpenting adalah kunci perlindungan masyarakat untuk terus mendapatkan edukasi 3M dari pemerintah secara terus menerus.

NASIONAL | 22 November 2020

Digitalisasi Majukan UMKM

Salah satu program yang dilakukan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) adalah mengajak inovator muda untuk mendukung digitalisasi UMKM lewat program Pahlawan Digital UMKM

NASIONAL | 22 November 2020

Sekolah Dibuka Januari 2021, Kak Seto: Utamakan Hak Hidup dan Sehat, Baru Hak Pendidikan

Jangan karena selama ini orangtua sudah mengeluh stres selama pembelajaran jarak jauh dan ingin membuat anak senang saja akhirnya diizinkan

NASIONAL | 22 November 2020

Punya Kinerja Baik, Masyarakat Surabaya Lebih Suka Eri Cahyadi

Masyarakat suka dengan Eri Cahyadi karena kinerja bagus.

NASIONAL | 22 November 2020

Politisi Golkar: Ancaman Mendagri Sebagai Pengingat Penegakan Protokol Kesehatan

Arse Sadikin menilai instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian yang memuat sanksi pemberhentian bagi kepala daerah sangat penting.

NASIONAL | 22 November 2020

Survei SRMC, Eri Cahyadi Lebih Populer Ketimbang Machfud Arifin

Berdasarkan hasil survei, calon wali kota Eri Cahyadi disebut-sebut lebih populer ketimbang Machfud Arifin.

NASIONAL | 22 November 2020

BMKG: 30 Provinsi Berpotensi Dilanda Cuaca Ekstrem Pekan Ini

BMKG memperkirakan cuaca ekstrem yang ditandai hujan dengan intensitas lebat akan melanda 30 provinsi di Indonesia pekan ini.

NASIONAL | 22 November 2020

Menpora Puji Kepri Jadikan Panahan Olahraga Unggulan

Menpora mengapresiasi Kepri melirik cabor yang mempersembahkan medali perak di Olimpiade Seoul 1988.

NASIONAL | 22 November 2020

Granat yang Ditemukan di Timika Tidak Diketahui Asal Usulnya

Granat tersebut ditemukan oleh Nanang Riyadi (39), seorang pekerja Jembatan Waker II saat mengecek tabung oksigen di bawah jembatan.

NASIONAL | 22 November 2020

PJJ Bisa Dibuat Menyenangkan agar Siswa Tak Jenuh

Guru bisa membuat permainan dan menggunakan cara-cara kreatif lainnya untuk membuat kegiatan PJJ menjadi lebih menyenangkan bagi siswa.

NASIONAL | 22 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS