Populasi Ternak Sapi di NTT Tembus 1 Juta Ekor

Populasi Ternak Sapi di NTT Tembus 1 Juta Ekor
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. ( Foto: Suara Pembaruan/Yoseph Kelen )
Yoseph A Kelen / PCN Kamis, 17 Agustus 2017 | 08:17 WIB

Kupang - Pengembangan ternak sapi yang merupakan salah satu dari enam tekad pemerintah provinsi (pemprov) untuk menjadikan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai provinsi ternak, menunjukan tanda-tanda kemajuan. Hal ini dapat dilihat dari tingkat populasi sementara ternak sapi di NTT hingga Maret 2017 yang telah menembus angka 1.003.704 ekor.

Kondisi perkembangan populasi ternak sapi itu, dikemukakan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, ketika menyampaikan pidato dalam rangka memperingati HUT ke-72 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), di Aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT, Rabu (16/8).

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, menyebutkan bila dibandingkan dengan populasi ternak sapi tahun 2016 lalu terjadi peningkatan sebesar 9,4 persen. "Tingkat populasi di tahun 2016 sebanyak 984.508 ekor sehingga angka sementara populasi ternak sapi di NTT sampai Maret 2017 sebanyak 1.003.704 ekor," kata Frans Lebu Raya.

Sedangkan untuk produksi daging sapi sebesar 12.441.780 kilogram atau 12.441 ton lebih (2016) dan produksi daging di tahun 2017 angka produksi sementara mencapai 12.718 ton lebih. Untuk tingkat perdagangan sapi antarpulau, terjadi peningkatan setiap tahun yaitu sebesar 52.811 ekor (2015) dan meningkat menjadi 63.429 ekor sapi pada tahun 2016.

Kemudian untuk tekad pemprov NTT yang lainnya, seperti pembangunan bidang koperasi hingga Juni 2017 terdapat 4.062 unit, yaitu koperasi aktif 3.754 unit dan tidak aktif sebanyak 307 unit koperasi. Sedangkan koperasi di NTT yang memiliki modal sendiri per 31 Juli 2017 sebesar Rp 2,4 triliun dan koperasi dengan modal dari luar Rp 3,3 triliun lebih disertai sisa hasil usaha (SHU) mencapai Rp 414 miliar lebih.

Dalam upaya pengembangan jagung untuk mewujudkan tekat NTT menjadi provinsi jagung, menurut Gubernur Frans Lebu Raya, produksi jagung tahun 2016 sebesar 688.432 ton atau meningkat 0,49 persen jika dibandingkan dengan produksi jagung pada 2015 lalu, 505.981 ton.

Jika dilihat dari musim tanam, lanjut gubernur, produksi jagung musim tanam Januari hingga April 2017, sebanyak 619.605 ton, meningkat signifikan dibanding periode 2016 yang hanya 511.773 ton. Juga pada musim tanam 2016/2017, luas areal tanam naik menjaid 318.617 hektare dibanding musim tanam 2015/2016 yang hanya 283.108 hektare. Dengan demikian terjadi peningkatan luas areal tanam 35.505 hektare. Provinsi NTT, tuturnya, mendapat penghargaan pada penambahan luas areal tanam jagung tertinggi di Indonesia.

 

 



Sumber: Suara Pembaruan