Satoria Group Tunjuk CCEED Garap Satoria Tower

Satoria Group Tunjuk CCEED Garap Satoria Tower
Presiden Direktur Satoria Group, Alim Satria usai menandatangani kerjasama dengan perusahaan asal Tiongkok, China Construction Eight Engineering Development (CCEED) untuk menyelesaikan pembangunan konstruksi proyek gedung perkantoran Satoria Tower, di Surabaya. ( Foto: Istimewa )
Amrozi Amenan / FER Minggu, 19 November 2017 | 18:28 WIB

Surabaya - Satoria Group menggandeng perusahaan asal Tiongkok, China Construction Eight Engineering Development (CCEED) untuk menyelesaikan pembangunan konstruksi proyek gedung perkantoran modern bertingkat serbaguna (mixed-used high rise building), Satoria Tower, di kawasan Surabaya Barat, Jawa Timur (Jatim).

Presiden Direktur Satoria Group, Alim Satria, mengatakan, kerja sama dengan CCEED lebih didasarkan pada reputasi dan pengalaman yang dimiliki Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Tiongkok itu dan masuk salah satu perusahaan kontraktor terbesar dunia karena telah menggarap banyak proyek pencakar langit.

"Kita memilihnya karena kontraktor ini juga telah bekerjasama dengan banyak pengembang untuk pembangunan konstruksi properti. Dan untuk di Surabaya, kerjasama CCEED ini untuk yang pertama kalinya dengan Satoria Tower," kata Alim Satria, dalam siaran persnya, Minggu (19/11).

CCEED merupakan anak perusahaan dari China State Construction Engineering Company yang masuk dalam jajaran perusahaan konstruksi terbesar di dunia, dan perusahaan global dengan revenue terbesar di dunia pada urutan nomor 24 menurut Fortune Global 500 Company pada tahun 2017 ini, dengan asset total US$ 21 miliar.

Beberapa proyek gedung ikonik yang saat ini tengah dikerjakan CCEED adalah Signature Tower yang ada di Jakarta. Gedung ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara dan ke 3 di dunia dengan 111 lantai.

"Karena reputasi perusahaan ini kami mempercayakan proyek perkantoran Satoria ke perusahaan yang kita sendiri sudah tahu jejak rekamnya," kata Alim.

Dia berharap, dengan menggandeng CCEED proyek akan bisa dikerjakan secara tepat waktu sehingga calon konsumen akan segera melihat wujud aslinya bangunan.

"Memasarkan gedung perkantoran sangat berbeda dengan produk properti lain semisal apartemen. Gedung perkantoran harus jadi dulu baru calon kunsumen tertarik dan mau menempatinya sesuai kebutuhan," tandasnya.

Alin menambahkan, agar penyelesaian proyek bisa tepat waktu, pihaknya juga menggandeng Bank ICBC yang akan memberikan dukungan pendanaan untuk biaya konstruksi.

"Bank ICBC akan menyalurkan dananya sekitar 70 persen dari total kebutuhan biaya konstruksi bangunan sekitar Rp 380 miliar, dan sisanya 30 persen dari internal perusahaan," terang Alim.



Sumber: Investor Daily