Cegah Krisis, KUMKM Perlu Lakukan Restrukturisasi Usaha

Cegah Krisis,  KUMKM Perlu Lakukan Restrukturisasi Usaha
Asisten Deputi Pemetaan Kondisi dan Peluang Usaha, Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Sri Istiati, saat diskusi dengan pelaku UKM di Yogyakarta,Selasa (2/4/2019). ( Foto: Ismewa )
Siprianus Edi Hardum / EHD Rabu, 3 April 2019 | 14:12 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com-Restrukturisasi usaha bagi koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas kinerja dan daya saing KUMKM sehingga tidak terjadi krisis usaha.

Restrukturisasi usaha tidak hanya dilakukan saat usaha KUMKM mengalami penurunan usahanya. Restrukturisasi juga harus dilakukan secara terus-menerus agar kinerja KUMKM lebih baik.

Asisten Deputi Pemetaan Kondisi dan Peluang Usaha, Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Sri Istiati, dalam siaran persnya, Rabu (3/4/) mengatakan, untuk melakukan restrukturisasi usaha para pelaku usaha harus didampingi oleh para konsultan dan para pendamping KUMKM sampai usahanya baik kembali.

Sri Istiati mengatakan itu saat membuka Pelaksanaan Restrukturisasi Usaha kepada Koperasi dan UMKM binaan PLUT-KUMKM bagi Konsultan PLUT, Pendamping KUMKM (Konsultan Keuangan Mitra Bank/KKMB, Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan/PPKL, Inkubator bisnis), pengurus Koperasi dan UMKM untuk Provinsi D.I Yogyakarta di PLUT-KUMKM Yogyakarta, Selasa (2/4/2019).

Acara ini diselenggarakan untuk memberikan pemahaman bagaimana melakukan proses pelaksanaan restrukturisasi usaha kepada KUMKM yang benar sesuai aturan yang berlaku.

"Untuk melakukan restrukturisasi usaha para konsultan dan pendamping KUMKM terlebih dahulu mengukur kondisi kesehatan Koperasi dan UMKM yang akan direstrukturisasi, apakah usahanya sehat, kurang sehat atau tidak sehat," kata Sri Istiati.

Dalam mengukur kondisi kesehatan koperasi dan UMKM tersebut, Kemkop dan UKM telah menyediakan Aplikasi Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) sebagai alat diagnosa kinerja usaha Koperasi dan UMKM.

Sistem ini mampu mendeteksi dari tiga aspek yaitu aspek kelembagaan/organisasi, aspek finansial/keuangan dan aspek portofolio bisnis/usaha. Dari hasil diagnosa akan terlihat aspek dan indikator mana yang tidak sehat dan perlu dilakukan restrukturisasi.

Sri Istiati menambahkan, selain aplikasi EWS juga ada Skema dan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk memberikan solusi yang tepat dan benar sehingga aspek-aspek yang dinilai kurang sehat dapat ditata kembali agar menjadi sehat dan tetap berdaya saing.

Sri Istiati menambahkan, dengan Pelaksanaan Restrukturisasi Usaha ini, diharapkan para konsultan PLUT dan pendamping KUMKM dapat memanfaatkan dengan baik EWS, skema dan SOP yang merupakan satu paket alat untuk melakukan restrukturisasi usaha koperasi dan UMKM dengan benar.

Salah seorang konsultan PLUT-KUMKM Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yuli Apriyandi, mengatakan, kegiatan tersebut, sangat membantu mereka dalam memberikan pemahaman yang lebih baik lagi terhadap kinerja KUMKM yang selama ini mereka dampingi. 

"Terbukti setelah menginput data UMKM dan dilakukan pendampingan, Ibu Hana Sukemi dari My Café merasakan sangat terbantu sekali dan kondisi kinerjanya lebih baik lagi," kata Yuli Apriyandi.

Hal senada juga diutarakan salah seorang petugas PPKL Provinsi DI Yogyakarta, Hanif Hidayatullah, yang telah menginput data Nugroho dari Koperasi Istiqomah.

Menurutnya Pelaksanaan Restrukturisasi Usaha kepada Koperasi dan UMKM binaan PLUT-KUMKM ini tentunya menambah wawasan mereka sebagai PPKL dalam penyuluhan bagi koperasi. Khususnya untuk menjadikan koperasi yang ada lebih bergairah menghadapi tantangan ke depan, yaitu menjadi koperasi yang lebih maju.



Sumber: BeritaSatu.com