Industri Serap 672 Ribu Tenaga Kerja per Tahun

Industri Serap 672 Ribu Tenaga Kerja per Tahun
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mewakili Wakil Presiden memberikan sambutan pada Rapat Kerja Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi (Rakernas HIPMI PT) Tahun 2018 di Jakarta, Sabtu (9/12). ( Foto: istimewa )
Harso Kurniawan / HK Senin, 22 April 2019 | 22:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berperan aktif menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten untuk memenuhi kebutuhan dunia industri. Serapan tenaga kerja di sektor industri terus meningkat, yakni dari 15,54 juta orang pada 2015 menjadi 18 juta orang pada 2018 atau naik 17,4%.

“Artinya, sektor industri menyerap tenaga kerja rata-rata 672 ribu orang per tahun,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Menperin menjelaskan, peningkatan penyerapan tenaga kerja tersebut merupakan bagian efek berantai dari pelaksanaan kebijakan hilirisasi industri. “Jadi, terjadi pertumbuhan sektor industri, yang sejalan pula dengan adanya penambahan investasi atau ekspansi di Indonesia,” tutur dia.

Airlangga menegaskan, pihaknya fokus mendorong pendalaman struktur industri di dalam negeri melalui peningkatan investasi. Tujuannya, selain mengintegrasikan sektor hulu sampai hilir, untuk mensubstitusi produk impor dan memenuhi pasar ekspor.

Kemenperin mencatat, investasi di sektor industri manufaktur pada 2014 mencapai Rp 195,74 triliun, lalu naik menjadi Rp 226,18 triliun pada 2018. “Ini mencerminkan iklim investasi di Indonesia masih tetap kondusif,” kata dia.

Penanaman modal tersebut, kata Menperin, membawa dampak positif bagi pertumbuhan sektor industri skala besar, sedang dan kecil. Selama 2014-2017, ada penambahan populasi industri besar dan sedang, dari 2014 sebanyak 25.094 unit menjadi 30.992 unit. Di sektor industri kecil, dia menegaskan, terjadi penambahan, dari 2014 sebanyak 3,52 juta unit menjadi 4,49 juta unit pada 2017.

“Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja paling aktif, salah satunya dilakukan oleh sektor industri otomotif yang telah menyerap 1 juta lebih tenaga kerja,” ungkap Menperin.

Di industri otomotif, dia menegaskan, empat pabrikan besar telah menjadikan Indonesia sebagai rantai pasok global. “Dalam waktu dekat, ada beberapa prinsipal otomotif lagi yang bergabung dan akan menjadikan Indonesia sebagai hub manufaktur otomotif di wilayah Asia,” kata dia.

Sektor manufaktur lainnya yang menyerap tenaga kerja banyak adalah industri makanan dengan kontribusi hingga 26,67%, disusul industri pakaian jadi (13,69%), serta industri kayu, barang dari kayu dan gabus (9,93%).

Selanjutnya, industri tekstil (7,46%), industri barang galian bukan logam (5,72%), serta industri furnitur (4,51%). Airlangga menyebutkan, ada tiga pilar utama yang perlu menjadi perhatian untuk memacu pertumbuhan industri nasional, yaitu investasi, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM).

Menurutnya, ketersediaan SDM yang terampil sangat diperlukan guna meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor industri. Apalagi, Indonesia punya potensi tersebut seiring dengan adanya bonus demografi yang sedang dinikmati hingga tahun 2030.

“Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo mengamanatkan agar tahun ini lebih fokus dan gencar menjalankan berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi, setelah fokus pada pembangunan infrastruktur,” paparn dia.



Sumber: Investor Daily