Pemerintah dan 6 PTN Rampungkan Riset Fase 2 Mobil Listrik

Pemerintah dan 6 PTN Rampungkan Riset Fase 2 Mobil Listrik
Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kemperin Harjanto, di Denpasar, Bali, Selasa (23/4/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 23 April 2019 | 13:10 WIB

Denpasar, Beritasatu.com - Enam universitas negeri yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi 10 November (ITS), dan Universitas Udaya (Unud) telah menyelesaikan riset dan penelitian komprehensif kendaraan bertenaga listrik (Electrified Vehicle Comprehensive Research and Study) fase 2 yang mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian (Kemperin) dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

"Pemerintah mengapresiasi rampungnya pondasi awal penyusunan peta jalan industri otomotif Indonesia," kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kemperin Harjanto, saat memaparkan laporan akhir fase 2 riset komprehensif electrified vehicle dengan melibatkan perguruan tinggi di Denpasar, Bali, Selasa (23/4).

Harjanto mengatakan, hasil studi akan menjadi masukan yang berharga dalam penyusunan cost benefit analysis program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) maupun harmonisasi pajak pertambahan nilai barang mewah (PPnBM) yang saat ini sedang difinalisasi bersama Kementerian Keuangan dan kementerian/lembaga terkait.

Lima kategori penelitian yang dilakukan meliputi karakteristik teknik, kenyamanan pengguna, keekonomian, peraturan dan kebijakan, serta tahap pengembangan teknologi.

Adapun dua kesimpulan utama setelah menyelesaikan lima kategori penelitian tersebut adalah jenis mobil listrik kombinasi berbagai teknologi kendaraan elektrifikasi hybrid electric vehicle (HEV), plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan battery electric vehicle (BEV) direkomendasikan untuk dikembangkan di Indonesia dengan melihat aspek kelestarian lingkungan.

Namun para peneliti mengingatkan sejumlah tantangan yang harus diantisipasi dalam menciptakan permintaan pasar, seperti infrastruktur, biaya produksi, kenyamanan pengendara, kesiapan industri dan lain sebagainya.

Selain itu, pemerintah perlu menyusun peta jalan pengembangan kendaraan elektrifikasi dan membentuk gugus tugas untuk menetapkan target sekaligus rencana aksi guna menyelesaikan beragam tantangan itu terutama dari dengan insentif fiskal dan non fiskal.

Menurut Harjanto, hasil penelitian mobil listrik yang dikerjakan para akademisi sangat penting artinya dalam membantu pemerintah mewujudkan industri otomotif nasional sebagai salah satu sektor andalan dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

Harjanto menuturkan, pada 2030 mendatang pemerintah menargetkan Indonesia dapat menjadi pusat produksi mobil bertenaga Internal Combustion Engine (ICE) maupun listrik untuk pasar domestik sampai ekspor. Agar bisa menjual produk tersebut ke luar negeri, diharapkan industri nasional dapat memproduksi bahan baku dan komponen utamanya secara mandiri.

"Lima tahun sebelum mencapai target besar tersebut, Kemperin menginginkan 20 persen dari total produksi kendaraan baru di Indonesia sudah berteknologi electrified. Sehingga komitmen pemerintah untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dapat tercapai," kata Harjanto.

Selama beberapa bulan terakhir, para peneliti dari enam universitas tersebut membedah 18 unit mobil listrik dan konvensional yang disediakan Toyota Indonesia sebagai bahan penyusunan peta jalan industri otomotif Indonesia, seperti Toyota Prius, Toyota Prius Plug-in Hybrid, dan Corolla Altis.



Sumber: BeritaSatu.com