Jumlah Perusahaan yang Jalankan Program Cegah HIV&AIDS Meningkat

Jumlah Perusahaan yang Jalankan Program Cegah HIV&AIDS Meningkat
Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri berbicara saat memberikan sambutan dalam Malam Penganugerahan Penghargaan K3 Tahun 2019 di Jakarta, Senin (22/4/2019). ( Foto: Ismewa )
Siprianus Edi Hardum / EHD Selasa, 23 April 2019 | 00:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Jumlah perusahaan yang menjalankan program Pencegahan dan Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus Infection and Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV&AIDS) dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada tahun 2018 sebanyak 123 perusahaan dan tahun 2019 sebanyak 172 perusahaan sehingga mengalami peningkatan sebesar 28,5%.

Demikian dikatakan Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri saat memberikan sambutan dalam Malam Penganugerahan Penghargaan K3 Tahun 2019 di Jakarta, Senin (22/4/2019).

Penghargaan K3 merupakan agenda tahunan Kemnaker yang bertujuan untuk meningkatkan pelaksanaan K3 kepada perusahaan, pemerintah daerah, pekerja, dan berbagai pihak yang terkait dalam penerapan K3.

Penghargaan ini meliputi penghargaan kecelakaan nihil (zero accident), penghargaan sistem manajemen K3 (SMK3), penghargaan program pencegahan dan penanggulangan HIV –AIDS di tempat kerja, dan penghargaan pembina K3 (untuk gubernur).

Data yang dikumpulkan Kemnaker, tidak hanya pekerja tambang yang terjangkit HIV, pekerja yang berada pada sektor transportasi juga berisiko tinggi terkena HIV.

Sebelumnya, Executive Director Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA), Ramdani Sirait, mengatakan, jika dilihat dari peta HIV, karyawan laki-laki masuk dalam kategori berisiko tinggi terkena HIV. Selain mereka memiliki kemampuan untuk menggunakan uang, mereka juga berisiko jika jauh dari istri.

Ramdani Sirait menambahkan, dari 260 juta penduduk Indonesia saat ini sebanyak 115 juta diantaranya merupakan pekerja dari sekitar 220.000 perusahaan. Bayangkan bila dari sekitar 220.000 perusahaan memiliki satu pekerja yang terinfeksi HIV di setiap perusahaan, maka dalam satu bulan akan keluar sekitar Rp 61 miliar per bulan untuk biaya kesehatan.

Karena itu, Hanif Dhakiri meminta seluruh perusahaan di Indonesia agar terus menjalankan program pencegahan HIV dan AIDS di lungkungan perusahaan. “Datangkan penyuluh-penyuluh yang hebat,” kata Hanif Dhakiri.

Dalam penghargaan K3 tahun 2019, penghargaan kecelakaan nihil diberikan kepada 1.052 perusahaan, penghargaan SMK3 diberikan kepada 1.466 perusahaan, penghargaan program pencegahan HIV - AIDS di tempat kerja di berikan kepada 172 perusahaan.

Selanjutnya penghargaan pembina K3 terbaik untuk 17 gubernur, yakni Gubernur Jawa Timur, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Banten, Sumatera Utara, Riau, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Nangroe Aceh Darussalam, Bali, Lampung,Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara.

Hanif Dhakiri meminta agar dunia usaha tidak menjadikan masalah K3 sebagai beban bagi perusahaannya. K3 justru merupakan investasi sangat baik agar produktivitas perusahaan bisa terus dijaga dan ditingkatkan serta penerapan K3 di tempat-tempat kerja bisa semakin kita optimalkan.

“K3 dilakukan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta menjamin tenaga kerja dan orang lain yang berada di tempat kerja mendapat perlindungan atas keselamatannya, “kata Hanif Dhakiri.

Acara penghargaan K3 dihadiri Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Sekjen Kemnaker, Khairul Anwar; Dirjen Pembinaan Pengawas Kenagakerjaan (Binwasnaker) dan K3, Sugeng Priyanto; Dirjen Pembinaan Penempatan dan Perluasan Kerja, Maruli A. Hasoloan; Staf Ahli Hubungan Antarlembaga, Irianto Sumbolon; para gubernur penerima penghargaan dan beberapa Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi, Kabupaten/Kota di Indonesia.

Hanif Dhakiri menambahkan, dunia industri tengah memasuki era revolusi industri 4.0. Dimana ada sejumlah jenis pekerjaan lama yang hilang dan muncul seiring pendekatan digital. “Dengan munculnya jenis pekerjaan baru maka akan timbullah potensi-potensi bahaya baru yang perlu strategi pengendalian agar tidak terjadi kecelakaan dan penyakit akibat kerja,” kata Hanif Dhakiri.

Hanif Dhakiri mengingatkan kembali bahwa K3 dilakukan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta menjamin setiap tenaga kerja dan orang lain yang berada di tempat kerja mendapat perlindungan atas keselamatannya. “Pelaksanaan K3 menjamin setiap sumber produksi dapat dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien; dan menjamin bahwa proses produksi dapat berjalan lancar di perusahaan,” kata Hanif Dhakiri.

Menurut Hanif Dhakiri, berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka meningkatkan pelaksanaan K3 meliputi kampanye, seminar, sosialisasi, training dan peningkatan pengawasan K3. Upaya tersebut sudah memperlihatkan hasil dimana perusahaan yang mempertahankan nihil kecelakaan setiap tahun mengalami peningkatan.



Sumber: BeritaSatu.com