Pasar Sarung Tangan Kesehatan di Negara Berkembang Menjanjikan

Pasar Sarung Tangan Kesehatan di Negara Berkembang Menjanjikan
Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk, Ridwan Goh. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
L Gora Kunjana / AO Selasa, 30 April 2019 | 11:42 WIB

Deli Serdang, Beritasatu.com – Indonesia dan beberapa negara di kawasan Asia memiliki tingkat konsumsi sarung tangan kesehatan per kapita yang rendah dibandingkan dengan sebagian negara Eropa. Menurut Ridwan Goh, Direktur Utama PT Mark Dynamics Indonesia Tbk, tingkat konsumsi di Indonesia tercatat hanya tiga sarung tangan per kapita dan hanya mengalahkan India yang konsumsinya satu sarung tangan per kapita.

“Tingkat konsumsi sarung tangan di Tiongkok masih jauh lebih baik, yaitu empat sarung tangan per kapita. Namun, kita masih kalah dibandingkan dengan Denmark sebagai negara dengan tingkat konsumsi sarung tangan kesehatan terbesar, yaitu 335 sarung tangan per kapita,” kata Ridwan dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa (30/4/2019).

Berdasarkan data yang diperoleh dari MARGMA 2019, secara statistik pasar menunjukkan perbedaan besar dalam konsumsi per kapita antara negara maju dan negara berkembang. Negara-negara dengan konsumsi sarung tangan rendah per kapita yang memiliki populasi besar dan pertumbuhan PDB yang tinggi menunjukkan peluang besar untuk pertumbuhan permintaan sarung tangan.

Diperkirakan pertumbuhan konsumsi global akan terus berasal dari peningkatan dari negara-negara berkembang di mana konsumsi per kapita yang ada jauh lebih rendah daripada negara-negara maju.

Lebih jauh Ridwan Goh menyatakan, peluang pasar menguat di beberapa negara berkembang menyusul larangan penggunaan sarung tangan kesehatan berbasis PVC di Tiongkok. Hal ini membuat sarung tangan kesehatan berbahan baku karet dan nitrile memperoleh peluang tumbuh yang lebih besar.

“Pasar yang masih tumbuh antara 8% hingga 10% per tahun dan dalam 15 tahun terakhir berpotensi tumbuh semakin besar akibat bergesernya bahan produksi sarung tangan,” ungkap Ridwan Goh.

Sebagai produsen cetakan sarung tangan kesehatan, informasi pasar ini memberi peluang besar bagi pertumbuhan Perseroan. Tren pertumbuhan yang dicapai setidaknya dalam tiga tahun terakhir akan terus berlanjut.

Ridwan menilai, meskipun konsumsi dalam negeri masih rendah, peluang menjaga pasokan ke pasar ekspor akan menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Indonesia sendiri menurut laporan MARGMA, sudah menjadi sasaran ekspor sarung tangan kesehatan bagi produsen sarung tangan kesehatan (khususnya sarung tangan untuk surgical) di Malaysia, yaitu mencapai 2,5% dari total ekspor sarung tangan surgical. Hal ini menunjukkan konsumsi sarung tangan kesehatan di dalam negeri akan terus meningkat.

Ridwan Goh menambahkan, saat ini Perseroan memiliki beberapa pabrik dengan total kapasitas produksi sebesar 610.000 unit per bulan. Tahun lalu Perseroan telah melakukan investasi untuk pengembangan kapasitas produksi dan diharapkan akan berkontribusi positif mulai 2019.

“Kami sedang dalam proses meningkatkan kapasitas produksi, dimana akan bernilai positif bagi kinerja kami dan tentunya memberikan nilai tambah yang lebih baik bagi Perseroan,” kata Ridwan.



Sumber: Investor Daily