AS-Tiongkok Kembali Memanas, Perdagangan RI Ikut Terancam

AS-Tiongkok Kembali Memanas, Perdagangan RI Ikut Terancam
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi nasional. ( Foto: Antara )
Herman / WBP Sabtu, 11 Mei 2019 | 21:19 WIB

Jakarta, Beritasatu - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad mengingatkan pemerintah untuk kembali waspadai ancaman perang dagang antara Tiongkok dengan Amerika Serikat (AS) yang kembali memanas, terutama di sektor perdagangan. Apalagi di triwulan I-2019, kinerja ekspor Indonesia mengalami perlambatan, bahkan tumbuh -2,98 persen (yoy) atau jauh lebih rendah dibandingkan triwulan I-2018 yang tumbuh 5,94 persen (yoy).

"Jadi memang ada efek yang merugikan Indonesia jika ada perang dagang antara AS dan Tiongkok. Pemerintah perlu mewaspadai perang dagang ini," kata Tauhid Ahmad dalam acara diskusi yang digelar Indef, Sabtu (11/5/2019).

Seperti diketahui, Presiden Donald Trump telah mengumumkan kenaikan tarif impor dari 10 persen menjadi 25 persen beberapa hari lalu untuk seluruh produk, kecuali untuk yang telah dikapalkan. Menurut Tauhid, apabila dalam kurun waktu dekat Tiongkok juga membalas dengan kenaikan tarif impor sebesar 25 persen, maka kedua negara dan seluruh dunia akan terkena dampaknya.

Dikatakan Tauhid, jika tanpa ada efek penularan ke negara lain (contagion), maka pertumbuhan Tiongkok akan terkoreksi sebesar hampir 1 persen produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2021 (tahun kedua sejak kebijakan). Sementara AS akan kehilangan ekonominya sebesar 0,9 persen PDB pada tahun keempat (2023). Eropa akan kehilangan 0,37 persen PDB pada tahun keempat (2023) dan perekonomian dunia akan terkoreksi sebesar 0,6 persen setelah tahun keempat. "Ini artinya jika benar-benar perang dagang, maka sudah pasti ekonomi Indonesia juga akan terkena imbas lebih besar," imbuhnya.

Dikatakan Tauhid, penurunan PDB Tiongkok akan menurunkan permintaan ekspor ke Indonesia, sehingga akan menurunkan PDB Indonesia. Penurunan 1 persen PDB Tiongkok akan menurunkan PDB Indonesia sebesar 0,14 persen, sementara apabila penurunan 1 persen PDB Amerika akan menurunkan PDB Indonesia sebesar 0,05  persen. "Artinya, PDB kita akan terkoreksi kurang lebih secara bersamaan dapat mencapai 0,19 persen tanpa contagion efek. Efek ini akan lebih besar apabila menjalar ke negara-negara lain yang kemudian berdampak bagi Indonesia," papar Tauhid.

Untuk mengatasi persoalan perang dagang ini, menurut Tauhid diversifikasi tujuan ekspor perlu dilakukan ke negara Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah dan negara Non Tiongkok dan Amerika. Indonesia menurutnya juga perlu mengurangi impor produk Tiongkok yang memang dapat diproduksi di dalam negeri dan diiringi dengan peningkatan industri, misalnya terkait dengan produk elektronik, tekstil dan sebagainya.

Hal lainnya adalah peningkatan layanan investasi untuk investor-investor lain, disamping perbaikan dari sumberdaya manusia Indonesia. Yang juga tidak kalah penting adalah perlu adanya motivasi kuat dengan slogan "Made In Indonesia" sebagai jati diri kita.



Sumber: BeritaSatu.com