Atasi Defisit Neraca Perdagangan, Industri Manufaktur Harus Dibenahi

Atasi Defisit Neraca Perdagangan, Industri Manufaktur Harus Dibenahi
Ilustrasi industri manufaktur ( Foto: Beritasatu.com/Danung Arifin )
Herman / FER Rabu, 15 Mei 2019 | 22:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 mengalami defisit sebesar US$2,50 miliar. Angka tersebut berasal dari nilai ekspor US$ 12,60 miliar dan impor US$ 15,10 miliar. Jika diakumulasikan, neraca perdagangan Indonesia pada Januari - April 2019 telah mengalami defisit sebesar US$2,56 miliar.

Baca Juga: Neraca Perdagangan April Defisit US$ 2,5 M

Angka defisit neraca perdagangan di April 2019 tersebut juga menjadi yang paling besar sepanjang sejarah Indonesia. Sebelumnya, defisit terdalam terjadi pada Juli 2013 sebesar US$ 2,31 miliar.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengungkapkan, sulitnya Indonesia terlepas dari persoalan defisit neraca perdagangan disebabkan oleh faktor eksternal maupun internal.

Dari sisi eksternal, Faisal melihat permasalahannya ada pada pertumbuhan ekonomi global yang masih mengalami perlambatan sejak tahun lalu sampi sekarang, terutama di negara-negara utama tujuan ekspor. Akibatnya, negara-negara tersebut mengurangi permintaan terhadap barang impor, termasuk barang dari Indonesia.

Faisal juga melihat persaingan antara negara eksportir sudah semakin ketat. Contohnya, Vietnam yang telah tumbuh menjadi negara industri baru dan merupakan pesaing terkuat Indonesia.

"Vietnam punya banyak kesamaan dengan Indonesia dari sisi produk yang diekspor. Ini yang kemudian menghambat kita memelakukan penetrasi lebih luas lagi di negara-negara tujuan ekspor," kata Faisal, di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Sedangkan dari sisi domestik, Faisal melihat daya saing industri manufaktur Indonesia relatif stagnan atau tidak meningkat. Harga produk yang diekspor cenderung lebih mahal karena dipengaruhi oleh biaya produksi yang tinggi dan juga biaya logistik. Hal lainnya adalah kemampuan Indonesia dalam melihat selera konsumen di negara tujuan ekspor.

"Dari sisi impor, kemampuan kita untuk mengontrol impor juga lemah sekali. Hambatan tarif kita termasuk yang paling rendah atau lemah dibandingkan negara-negara besar seperti Tiongkok, Brazil, atau India. Di luar itu, hambatan non tarif kita juga relatif sedikit. Jumlahnya sekitar 290 sampai 300, sementara negara maju bisa sampai ribuan. Bahkan negara tetangga seperti Thailand sampai 1.000, sehingga penetrasinya ke negara tersebut jauh lebih susah," kata Faisal.

Ketergantungan Impor Migas

Sementara itu diungkapkan Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad, persoalan defisit neraca perdagangan Indonesia salah satunya juga disebabkan oleh ketergantungan impor migas yang cukup dominan. Apalagi kemampuan Indonesia memproduksi minyak hanya sampai 780.000 barel per hari, sementara kebutuhannya saat ini mencapai sekitar 1,4 juta barel per hari.

"Ketergantungan impor migas ini jadi salah satu penyebab defisitnya neraca perdagangan. Makanya pemerintah kemarin melakukan pengurangan impor solar, kemudian B20 ke B30 dan sebagainya dalam rangka mengurangi defisit di sektor migas," kata Tauhid.

Selain itu, Tauhid juga melihat adanya faktor penurunan harga sejumlah komoditas ekspor, terutama yang bersumber dari alam.

"Beberapa ekspor kita memang mengalami penurunan akibat faktor harga yang sedang turun. Beberapa komoditas kita seperti batubara dan produk yang berbasis sumber daya alam mengalami penurunan harga, begitu juga dengan karet dan kopi. Kemudian berkaitan dengan trade war, itu juga akhirnya memengaruhi stuktur ekspor kita," papar Tauhid.

Untuk mengatasi persoalan desifit neraca perdagangan, menurut Tauhid pemerintah perlu mengendalikan impor migas. Misalnya dengan meningkatkan produksi migas melalui pemberian insentif yang besar, supaya eksplorasi ladang minyak baru bisa tumbuh dengan cepat.

Selain itu, Tauhid juga memandang perlu adanya pengaturan kembali terkait pengendalian konsumsi. Misalnya konsumsi yang berbasis minyak dan gas.

"Saya setuju dengan kebijakan penggunaan energi listrik secara besar-besaran. Infrastruktur kendaraan listrik juga harus dibangun, terutama untuk kendaraan roda pribadi. Sejauh ini yang paling besar konsumsen BBM-nya kan kendaraan roda dua, itu yang harusnya dikembangkan. Pemerintah harus kasih insentif, harga motor listrik harus bisa terjangkau supaya banyak masyarakat yang bisa pakai," kata Tauhid.

Diversifikasi tujuan ekspor juga harus dilakukan. Model seperti AFTA atau ASEAN Free Trade Area menurutnya harus diperluas ke negara pasar baru yang lain.

"Free Trade yang sifatnya bilateral harus dibangun lebih besar, sehingga membuka peluang ekspor yang lebih besar, misalnya dengan Timur Tengah dan sebagainya. Ini yang harus dibangun, sehingga kita punya peluang ekspor yang lebih tinggi ke mereka. Tetapi dengan catatan selama kita masih bisa surplus. Jangan sampai seperti dengan Tiongkok, di mana kita membuka pasar bebas, tetapi kita malah mengalami defisit," ujar Tauhid.

Ditambahkan Mohammad Faisal, revitalisasi industri manufaktur juga harus dilakukan untuk mereformasi struktur ekonomi menjadi lebih kompetitif.

"Kita harus membenahi dari sisi daya saing ekspor manufaktur. Saat ini sebagian besar ekspor kita masih di komoditas, padahal negara-negara tetangga yang berkembang lainnya sudah semakin besar porsi ekspor industri manufakturnya. Sehingga kinerja perdagangan mereka menjadi lebih kuat. Pembenahan ini yang harus dilakukan di industri manufaktur dalam negeri, supaya punya daya saing dan berorientasi ekspor," kata Faisal.



Sumber: BeritaSatu.com