Perlu Pembangunan Nilai di Era Teknologi

Perlu Pembangunan Nilai di Era Teknologi
Preskom PT Triputra Agro Persada (TAP) Arif Patrick Rachmat. ( Foto: Beritasatu / Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / HA Kamis, 16 Mei 2019 | 03:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pembangunan nilai-nilai sangat penting di era teknologi. Ibarat pisau, teknologi bisa digunakan untuk berbagai hal yang bermanfaat, tetapi bisa juga untuk hal negatif. Karena itu, pendidikan nilai-nilai perlu menjadi perhatian, termasuk media massa.

"Agar teknologi tidak dimanfaatkan untuk tujuan buruk, pendidikan nilai-nilai menjadi sangat penting," kata Preskom PT Triputra Agro Persada (TAP) Arif Patrick Rachmat pada acara buka puasa bersama dengan para pemimpin media massa di Jakarta, Rabu (15/5/2019). Kemajuan teknologi yang begitu dahsyat perlu diimbangi oleh pembangunan nilai-nilai agar teknologi dimanfaatkan untuk kemajuan peradaban manusia.

Pilpres sudah hampir selesai. Mudah-mudahan, kata Arif, setelah pengumuman hasil pemilu 22 Mei 2019, suasana menjadi lebih tenang. Keterbelahan yang terjadi selama masa pencalonan dan kampanye pemilu sekitar tujuh bulan diharapkan kembali cair. Berpegang pada nilai-nilai bangsa, semua pihak yang terbelah ke dalam dua kubu ekstrem, kembali menyatu sebagai satu bangsa. Di sinilah pentingnya peran media.

"Ini adalah pesan Pak Teddy (TP Rachmat, chairman dan founder Triputra Group --Red) pada acara buka puasa tahun lalu. Saya melihat pesan ini penting bagi kami sebagai bangsa," ungkap Arif, putra kedua TP Rachmat itu.

Iklim investasi
Untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan mendorong bangsa ini ke level yang lebih sejahtera, demikian Arif, Indonesia perlu memperhatikan tiga hal. Pertama, memiliki leader yang hebat di berbagai bidang dan level. Pemimpin yang dimaksudkan adalah mereka yang mampu memimpin dengan contoh dan bersedia tidak populer demi kepentingan yang lebih besar.

"Pemimpin yang hebat berani mengambil jalan yang sulit demi kemajuan masa depan," ungkap Arif. Pemimpin yang hebat berani mengambil risiko atas keputusannya yang tidak populer. Namun, demi kebaikan masyarakat, mereka rela berkorban. Jika Indonesia memiliki banyak pemimpin hebat seperti ini, kemajuan akan segera diraih.

Baca juga: TP Rachmat: Indonesia Perlu Belajar dari Vietnam

Kedua, memperbaiki iklim investasi. Sebagai negara yang menjunjung tinggi rule of law, Indonesia perlu memiliki perangkat hukum yang baik dan law enforcement yang konsisten. Indonesia Juga perlu menerapkan meritokrasi. Mereka yang dipercaya untuk tugas tertentu harus memiliki kompetensi, tak memandang suku, agama, ras, dan golongan.

"Singapura maju karena multiculturism values dan diversity values," kata Arif. Perbedaan dijadikan kekuatan. Jabatan penting dipercayakan kepada orang yang tepat sesuai asas meritokrasi, tanpa memandang layar belakang budaya.

Ketiga, bangsa Indonesia harus lebih kompetitif. UU Ketenagakerjaan perlu lebih mendorong kompetisi dan produktivitas para pekerja. Di era Industry 4.0, peningkatan kualitas tenaga kerja harus menjadi perhatian agar tenaga kerja tidak tersingkir oleh penggunaan teknologi.



Sumber: BeritaSatu.com