Telkomsel Targetkan Pertumbuhan di Atas Industri

Telkomsel Targetkan Pertumbuhan di Atas Industri
Dirut Telkomsel Ririek Adriansyah memberikan pidato sambutan saat acara Telkomsel Next Wave, Jakarta, Jumat 22 Maret 2019. Turut hadir dalam acara tersebutDirector of Planning & Transformation Telkomsel Edward Ying dan CEO DBS Group Piyush Gupta hadir di acara Telkomsel Next Wave, Jakarta, Jumat 22 Maret 2019. Telkomsel Next Wave menawarkan beragam solusi yakni Digital Advertising, IoT, dan Big Data MSIGHT mengikuti perkembangan digital di era globalisasi. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Herman / FER Selasa, 21 Mei 2019 | 13:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Ririek Adriansyah optimistis di tahun 2019 ini kinerja industri telekomunikasi akan kembali membaik. Setelah tahun lalu mengalami pertumbuhan negatif sekitar 7,3 persen, di tahun ini prediksinya industri telekomunikasi akan tumbuh positif sekitar 4 persen sampai 5 persen.

Sejalan dengan prediksi pertumbuhan industri telekomunikasi tersebut, Ririek yang merupakan Direktur Utama Telkomsel juga berharap bisnis Telkomsel akan membaik di tahun ini. Pada 2018 lalu, pendapatan Telkomsel mengalami penurunan sebanyak 4,18 persen.

"Kita optimistis kondisinya akan lebih baik. Tahun ini, kita berharap pendapatan Telkomsel bisa tumbuh di atas rata-rata industri," kata Ririek Adriansyah, di acara buka puasa bersama media yang digelar Telkomsel, di Jakarta, Senin (20/5/2019).

Ririek juga mengungkapkan, penyebab melemahnya industri telekomunikasi pada tahun lalu, antara lain karena faktor penurunan layanan voice dan SMS yang telah digantikan oleh layanan baru dari penyelenggara over the top (OTT).

Selain itu, adanya regulasi registrasi SIM card. Dalam jangka pendek, Ririk mengatakan regulasi registrasi SIM card seperti yang terjadi di banyak negara lain memang bisa menurunkan revenue operator, karena sebagian pelanggannya otomatis diamputasi. Tetapi untuk dampak jangka panjang, menurunya akan sangat baik bagi industri telekomunikasi dan seluruh pelaku digital. Penyebab lainnya adalah perang tarif antaroperator di layanan data.

"Indonesia itu termasuk negara dengan tarif data termurah. Bagi konsumen, ini memang menguntungkan untuk jangka pendek. Tapi dalam jangka panjang, perang tarif justru mengurangi pendapatan dan menguras biaya operasional para operator seluler. Pada akhirnya, ini nantinya bisa berdampak pada layanan yang diterima konsumen. Untuk Q1 ini, saya melihat persaingannya sudah lebih bagus. Harga data sudah lebih rasional," kata Ririek.

Pada kuartal pertama 2019, Telkomsel menunjukkan kinerja yang baik dengan pendapatan sebesar Rp 22,18 triliun, EBITDA Rp 12,14 triliun dan laba bersih Rp 6,47 triliun. Pencapaian ini bila dibanding periode yang sama tahun lalu tercatat tumbuh 1,4 persen untuk pendapatan, 1,3 persen untuk EBITDA, dan 0,9 persen untuk laba bersih.

"Pendaatan Telkomsel di Q1 sudah tumbuh 1,4 persen. Walaupun masih di bawah industri, kalau melihat tahun lalu itu pertumbuhan kita praktis lebih cepat di kuartal ketiga dan keempat. Sehingga kita tetap optimistis bisa tumbuh di atas industri," kata Ririek.

Sampai dengan kuartal pertama 2019, jumlah pelanggan Telkomsel sudah mencapai 168,6 juta dengan basis pelanggan data 111,1 juta. Lalu lintas data juga terus meningkat 56,6 persen menjadi 1.408.872 Terabyte.

Telkomsel juga terus membangun Base Tranceiver Station (BTS) di kuartal 1/2019 sebanyak 8.405 dan seluruhnya berbasis 4G. Hingga saat ini, Telkomsel telah memiliki total BTS sebanyak 197.486 unit dengan BTS 3G dan 4G/LTE sebanyak 147.181 unit.



Sumber: BeritaSatu.com