Investasi Hulu Migas Pertamina Bisa Tutup Defisit Neraca Perdagangan RI

Investasi Hulu Migas Pertamina Bisa Tutup Defisit Neraca Perdagangan RI
Ilustrasi eksplorasi hulu migas Pertamina. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Selasa, 21 Mei 2019 | 14:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Rencana Pertamina mengembangkan hulu migas dan melakukan eksplorasi di 98 proyek dinilai positif. Terobosan tersebut juga dinilai mampu menutup defisit neraca perdagangan Indonesia.

Guru besar ekonomi Universitas Hasanuddin, Hamid Paddu mengatakan, langkah Pertamina ini sangat diperlukan mengingat neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 mengalami defisit US$ 2,5 miliar atau setara Rp 36 triliun. Selain itu, investasi ini juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 6%.

“Neraca perdagangan per triwulan I sebesar US$ 2,5 miliar, di mana sektor migas menyumbang sebesar US$ 1,5 miliar. Berdasarkan angka ini tentu kita masih butuh pengembangan sektor migas, khususnya di hulu,” kata Hamid ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa (21/5/2019).

Dikatakan, dalam jangka menengah, investasi ini mampu menguatkan produksi migas nasional dan memberikan pengaruh terhadap neraca perdagangan. Ia menegaskan, investasi ini harus menyentuh kebutuhan minyak nasional dan mampu mengurangi impor minyak.

Karena itu, ia berharap, investasi pengembangan eksplorasi pengelolaan migas ini bisa dikelola secara efisien sebab pengelolaan sektor migas tak pernah lepas dari persoalan. Apalagi, paparnya, dana yang digunakan tak sedikit dan bersumber dari pinjaman. "Investasi ini harus dikelola secara efisien dan tidak sama dengan masa lalu agar tidak merugi," tandasnya.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara mengatakan, investasi yang dilakukan Pertamina akan membuat defisit perdagangan menjadi berkurang. Hanya saja, memang butuh waktu yang cukup untuk memperbaiki.

Dikatakan, untuk melakukan investasi ini Pertamina bisa menerbitkan surat utang tetapi tentu bunganya cukup tinggi. Alternatif lain yang bisa dipakai yakni, skema foreign direct investment atau investasi asing langsung untuk jangka panjang.

Sebagaimana diketahui, Pertamina tahun 2019 ini berencana melakukan eksplorasi minyak di 98 proyek dan mengembangkan industri hulu migas di Indonesia. Biaya investasi yang dianggarkan pada tahun ini mencapai US$ 1,9 miliar atau setara Rp 27,4 triliun.

Bahkan, komitmen investasi sektor hulu ini menjadi agenda prioritas BUMN tersebut pada 2019. Hal ini dibuktikan dengan nilai investasi sektor hulu yang mencapai US$ 2,6 miliar atau sekitar 60% dari keseluruhan investasi Pertamina pada RKAP tahun 2019 yang tercatat sebesar US$ 4,2 miliar.

Seluruh proyek tersebut dilaksanakan oleh anak usaha di sektor hulu migas Pertamina yang beroperasi di Indonesia. Proyek tersebut terdiri atas 47 proyek dilaksanakan oleh Pertamina EP, 29 proyek oleh PHE, 19 proyek oleh PHI, 2 proyek oleh PEPC, dan 1 proyek oleh PEPC ADK. Proyek-proyek migas tersebut meliputi kegiatan untuk mempertahankan base production seperti kegiatan pemboran, konstruksi fasilitas produksi, dan pengembangan struktur temuan migas.

Proyek-proyek ini penting mengingat perannnya dalam mempertahankan revenue generator hulu saat ini. Kegiatan eksplorasi new ventures dilakukan melalui akses ke wilayah kerja (WK) eksplorasi baru dan investasi untuk melakukan survei sesmik regional.



Sumber: Suara Pembaruan