Angkutan Lebaran

Pertumbuhan Penumpang Pesawat Diprediksi Melambat

Pertumbuhan Penumpang Pesawat Diprediksi Melambat
Ilustrasi penumpang pesawat. ( Foto: Antara )
Herman / FER Selasa, 21 Mei 2019 | 20:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pada periode mudik Lebaran tahun ini, Kementerian Perhubungan (Kemhub) memprediksi akan terjadi perlambatan pertumbuhan jumlah penumpang pesawat udara, baik untuk rute domestik maupun internasional.

Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti menyampaikan, pada masa angkutan Lebaran yang dimulai 29 Mei hingga 13 Juni 2019 atau H-7 hingga H+7, diprediksi akan terjadi penurunan pertumbuhan jumlah penumpang pesawat untuk rute domestik dari 4,49 persen di 2018 menjadi 2,38 persen di 2019. Begitu juga dengan rute internasional yang turun dari 11 persen di 2018 menjadi 7,8 persen di 2019.

Polana tak ingin mengaitkan penurunan pertumbuhan ini akibat harga tiket pesawat yang tinggi sebelum akhirnya dikeluarkan aturan penurunan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat ekonomi sebesar 12 persen sampai 16 persen. Polana justru melihat penurunan ini lebih dikarenakan perpindahan moda transportasi ke jalur darat melalui tol maupun kereta api, apalagi Pemerintah juga sangat gencar membangun infrastruktur tersebut.

"Tahun ini prediksinya akan ada penurunan pertumbuhan jumlah penumpang. Kalau di rata-ratakan untuk rute domestik dan internasional, pertumbuhannya dalam 16 hari periode mudik Lebaran tahun ini sekitar 3,17 persen," kata Polana B. Pramesti, di gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa (21/5/2019).

Polana juga memprediksi puncak arus mudik Lebaran menggunakan pesawat udara akan terjadi pada 31 Mei 2019, sementara puncak arus balik pada 9 Juni 2019. Untuk penerbangan domestik, ada 36 bandara udara yang dipantau, sementara untuk penerbangan internasional sebanyak 7 bandara udara.

"Di setiap bandara udara, akan ada posko yang kita siapkan. Hal penting yang akan menjadi perhatian yaitu terkait pemantauan harga tiket pesawat. Kami akan memberian format untuk memantau apakah harga tiket dikurang ppn, iuran wajib Jasaraharha, dan PSC (jasa kebandarudaraan) itu melebihi TBA atau tidak. Di setiap posko juga akan disampaikan informasi kepada masyarakat bahwa harga tiket yang dibeli masyarakat itu adalah TBA ditambahkan dengan ppn, iuran wajib Jasaraharha, dan PSC," ujarnya.

Polana menambahkan pihaknya juga sudah melakkan inspeksi ke bandara udara, fasilitas bandara udara, fasilitas keamanan penerbangan, navigasi penerbangan, serta melalukan ramp check yang sudah dimulai sejak 13 Mei lalu. Kegiatan ramp check ini juga akan lebih diintensifkan mulai 27 Mei 2019.

Bila pertumbuhan penumpang pesawat udara diprediksi melambat, lain halnya dengan angkutan darat yang menggunakan fasilitas jalan tol. Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) memperkirakan volume kendaraan yang akan keluar dari Jakarta pada musim mudik Lebaran tahun ini (H-7 sampai dengan H-1) sebanyak 1.383.830 kendaraan, naik 7,58 persen dibandingkan musim mudik Lebaran tahun 2018.

Anggota BPJT dari unsur Pemerintah wakil dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera), Agita Widjayanto mengungkapkan, distribusi lalu lintas mudik 58,68 persen ke arah timur, 26,68 persen ke arah barat atau Sumatera, dan 14,64 persen ke arah selatan atau Bogor.

"Lalu lintas pemudik yang ke arah timur, setelah kita lihat mayoritasnya itu atau 54 persen ke arah Cikampek ke Timur, sedangkan 45 persen ke arah Bandung. Ini yang membuat kita harus memindahkan dari gerbang tol Cikarang Utama yang sekarang ini ada ke Cikampek Utama dan Kalihurip Utama yang ke arah Bandung," kata Agita Widjayanto.



Sumber: BeritaSatu.com