Larangan VG di Pakistan Dicabut, Ekspor Sawit Berpotensi Naik

Larangan VG di Pakistan Dicabut, Ekspor Sawit Berpotensi Naik
Seorang petani memanen tandan buah segar kelapa sawit di tengah banjir luapan Sungai Kampar di Desa Kualu Kabupaten Kampar, Riau, 9 Des. 2018. ( Foto: ANTARA )
Ridho Syukro / FMB Selasa, 28 Mei 2019 | 14:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Peluang ekspor produk minyak sawit Indonesia ke Pakistan semakin terbuka lebar karena Pakistan menghentikan rekomendasi pelarangan produksi Vanaspati Ghee (VG) yang berasal dari minyak sawit.

Keputusan ini diambil pada pertemuan Oil Seeds and Their Allied Products Technical Committee ke-117 Pakistan Standards and Quality Control Authority di Karachi Pakistan pada April lalu.

VG adalah minyak atau lemak makan dengan tekstur semisolid berupa suspensi yang terbuat dari minyak nabati yang telah mengalami proses penyulingan, pemutihan, deodorisasi dan hidrogenasi.

Jika bahan bakunya berasal dari minyak sawit, VG tidak melalui proses hidrogenasi, mempunyai titik leleh yang ideal pada suhu di atas suhu ruang.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemdag Iman Pambagyo mengatakan Indonesia menyambut berita positif ini karena pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga kepentingan sawit sebagai salah satu produk unggulan ekspor.

Pada pertemuan tersebut, diputuskan untuk mengurangi kadar asam lemak trans VG dari 10 persen menjadi 5 persen.

Dengan keputusan ini, produksi VG tetap diizinkan tetapi kadar lemak trans harus dikurangi secara bertahap hingga ke tingkat yang aman dikonsumsi.

Rekomendasi pelarangan VG dilakukan sejak Oktober 2017 setelah pemerintah negara bagian Pujab, Pakistan mengeluarkan aturan bahwa minyak VG yang berasal dari minyak sawit dilarang dikonsumsi sebagai bahan makanan.

Langkah ini diambil karena VG dianggap berbahaya bagi kesehatan masyarakat namun setelah melalui berbagai pertemuan baik resmi maupun tidak resmi, pembahasan antara pemerintah Pakistan dan pihak swasta di negara tersebut, rekomendasi pelarangan dihentikan.

Pemerintah negara bagian Pujab juga mengakui kontribusi sawit bagi ekonomi Pakistan termasuk dalam hal pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Iman mengatakan pada pertemuan ketiga Joint Commitee Meeting for the Review of Indonesia Pakistan Preferential Trade Agreement tahun 2017, delegasi Indonesia selalu mengangkat isu kelapa sawit.

Selain itu, Duta Besar Indonesia di Pakistan juga melakukan pendekatan agar sawit Indonesia diterima.

"Keputusan ini adalah keberhasilan diplomasi dagang yang secara konsisten dilakukan," ujar dia dalam siaran persnya yang diterima Investor Daily, di Jakarta, Selasa (28/5/2019).

Total perdagangan Indonesia Pakistan pada 2018 mencapai US$ 3,1 miliar dengan surplus sebesar US$ 1,8 miliar bagi Indonesia.

Ekspor Indonesia ke Pakistan tahun 2018 mencapai US$ 2,5 miliar atau naik 3 persen jika dibandingkan tahun lalu sebesar US$ 2,4 miliar. Komoditas ekspor Indonesia ke Pakistan adalah minyak kelapa sawit dan turunannya, batu bara dan alat transportasi. 



Sumber: Suara Pembaruan