Negara-negara G20 Incar Pajak Raksasa-raksasa Teknologi

Negara-negara G20 Incar Pajak Raksasa-raksasa Teknologi
Logo Amazon. ( Foto: AFP )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Minggu, 9 Juni 2019 | 13:01 WIB

Fukuoka, Jepanng, Beritasatu.com - Menteri-menteri keuangan G20 sepakat menutup ruang gerak perusahaan teknologi raksasa -seperti Facebook, Google, dan Amazon- untuk menghindari membayar pajak.

Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa ini sering kali memanfaatkan celah dalam sistem perpajakan untuk menghindari bayar pajak dengan cara mencatatkan laba mereka di negara yang memiliki pajak rendah, seperti Irlandia dan Luksemburg.

Sebagai contoh, laba Amazon melonjak menjadi US$ 11 miliar pada tahun 2018, tetapi tidak membayar pajak sepeser pun selama dua tahun berturut-turut. Demikian disampaikan Institute on Taxation and Economic Policy (ITEP), Sabtu (16/2/2019). Amazon seharusnya membayar pajak 21 persen atas pendapatannya di AS. Namun, melalui berbagai skema pembebasan pajak dan kredit, Amazon mendapatkan potongan pajak US$ 129 juta.

"Kami menyambut baik kemajuan yang dicapai dalam mengatasi masalah perpajakan yang timbul dari era digitalisasi," tulis rancangan komunike G20 yang didapat Reuters.

Inggris dan Prancis adalah dua negara yang paling vokal menyuarakan untuk mengejar pajak perusahaan-perusahaan teknologi besar yang menghindar bayar pajak. Hal ini membuat Inggris dan Prancis berseberangan dengan AS yang merasa perusahaan-perusahaannya menjadi sasaran pajak yang tidak adil.

"AS memiliki kekhawatiran yang signifikan atas pajak perusahaan yang diusulkan Prancis dan Inggris," kata Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin di Fukuoka, Sabtu (8/6/2019).

Raksasa-raksasa teknologi AS mengatakan mereka mematuhi peraturan perpajakan tetapi jumlah pajak yang mereka bayarkan di Eropa kecil sekali, karena pendapatan mereka dicatatkan di negara-negara yang kebijakan pajaknya longgar, seperti Irlandia dan Luksemburg.



Sumber: Reuters