Petani Sawit Keberatan dengan Pungutan Ekspor

Petani Sawit Keberatan dengan Pungutan Ekspor
Petani Sawit. ( Foto: Antara / Raisan Al Farisi )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Minggu, 23 Juni 2019 | 14:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Para petani sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Plasma Kelapa Sawit Indonesia (APPKSI) berharap pemerintah mencabut kebijakan pungutan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Pungutan US$ 50 per ton CPO tersebut mengakibatkan harga tandan buah segar (TBS) merosot, sehingga memberatkan petani.

Ketua Umum APPKSI Andri Gunawan menegaskan pihaknya terpaksa menggelar aksi unjuk rasa pada Kamis, lalu (20/6/2019) di depan kantor Kementerian Keuanggan (Kemkeu) Jakarta setelah tersiar kabar pemerintah akan kembali melakukan pungutan CPO. "Kami akan menyurati pemerintah," kata Andri Gunawan dalam keterangan yang diterima Beritasatu.com, Minggu (23/6/2019)

Menurut Andri Gunawan, pungutan ekspor CPO akan berdampak secara sistemik pada kehidupan keluarga ekonomi petani sawit yang jumlahnya hampir 5 juta petani.

Selain itu, selama tiga tahun, hasil pungutan ekspor CPO yang dihimpun Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawi (BPDKS) hanya dinikmati industri biodiesel sebagai dana subsidi. "Hanya 0,1 persen, dana pungutan ekspor CPO digunakan untuk program replanting kebun petani, itu pun petani dibebani bunga pinjaman bank jika ikut program replanting dari BPDKS," kata Andri Gunawan.

Menurut Andri Gunawan, dalam tiga bulan terakhir, petani sawit baru menikmati peningkatan harga TBS. Setelah sejak Mei 2016 diadakan pungutan ekspor CPO, harga tandan buah segar sawit anjlok hingga mencapai harga yang merugikan petani sawit Hal ini membuat kebun sawit petani terbengkelai akibat tidak terawat, dan petani tak sanggup beli pupuk.

Menurutnya, pungutan ekspor CPO juga menyebabkan jatuhnya harga CPO dari Indonesia dan sulit bersaing dengan produk ekspor CPO Malaysia yang tidak dibebani pungutan.

Diketahui, Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit pada Mei 2015.



Sumber: BeritaSatu.com