Perjanjian Dagang Dorong Perbaikan Neraca Perdagangan

Perjanjian Dagang Dorong Perbaikan Neraca Perdagangan
Ilustrasi ekspor dan impor. ( Foto: Antara )
Ridho Syukro / FER Sabtu, 29 Juni 2019 | 22:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Faktor perekomian global yang tengah melambat lantaran terdampak perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, diakui menyulitkan langkah ekspor. Langkah Kementerian Perdagangan (Kemdag) untuk terus melakukan penetrasi pasar baru dianggap sudah tepat dengan tujuan menjaga kondisi ekspor Indonesia stabil.

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, mengatakan, upaya pemerintah melakukan perjanjian-perjanjian baru dengan negara-negara lain setelah tahun-tahun sebelumnya tampak vakum, dinilai sebagai hal positif yang diharap bisa mendongkrak neraca perdagangan ke depan.

"Dalam dua tahun terakhir Kemdag terus memperbanyak perjanjian dagang. Namun, ada hal yang harus diantisipasi. Untuk mengantisipasi timbal balik impor yang makin deras dari adanya perjanjian dagang, harus ada penguatan manufaktur. Kalau tidak, Indonesia akan sulit bersaing dengan produk luar," ujar Ahmad Hari Firdaus dalam keterangan pers yang diterima Sabtu (29/6/2019).

Menurut Ahmad Heri Firdaus, pemilihan negara berkembang, misalnya di kawasan Amerika Latin dan Afrika, pun diapresiasi karena dianggap bisa meminimalkan risiko lesunya perdagangan dari mitra dagang besar Indonesia yang sedang terlibat perang dagang.

Sementara, Ekonom Universitas Indonesia (UI), Lana Soelastianingsih, mengakui upaya serius pemerintah terlihat dalam melakukan perluasan pasar. Walaupun masih dirasa minim pengaruhnya terhadap peningkatan ekspor. Namun, upaya pemerintah membuka akses pasar baru tetap patut diapresiasi.

"Ya itu patut diapresiasi. Harus kita hargai dong. Nggak boleh kita abaikan, karena yang namanya market diversification is a must, suatu keharusan," ujar Lana Soelastianingsih.

Lana menilai, perluasan pasar dapat menyelamatkan Indonesia dari pelemahan ekonomi dunia, terutama yang disebabkan oleh perang dagang seperti yang terjadi sekarang. Pasalnya, perang dagang antara AS dan Tiongkok, membuat ekspor Indonesia menurun.

"Untuk jangka pendek, ekspor kita masih dipengaruhi oleh permintaan global, yaitu pasar-pasar tradisional Indonesia," kata Lana.

Lana menambahkan, efek perjanjian dagang baru bisa terasa dalam kisaran setidaknya setahun. "Terkait hal ini, sosialisasi yang gencar diperlukan supaya para pengusaha mampu memanfaatkan perjanjian dagang yang ada," tandas Lana.

Untuk diketahui, kondisi pada Mei kemarin, ekspor Indonesia tercatat sebear US$14,74 miliar. Nilai tersebut naik 12,42 persen dibandingkan bulan April 2019. Namun dibandingkan Mei tahun lalu, nilainya masih minus -8,99 persen.

Di sisi lain, nilai impor menurun 17,71 persen secara tahunan. Besarannya pada Mei 2019 berada di angka US$14,53 miliar. Dengan kondisi tersebut, neraca dagang Indonesia tercatat surplus US$0,21 miliar.



Sumber: Investor Daily