Kemenperin Pacu Hilirisasi dan Standardisasi Industri

Kemenperin Pacu Hilirisasi dan Standardisasi Industri
Sekretaris Jenderal Kemperin, Haris Munandar. ( Foto: Ismewa )
Leonard AL Cahyoputra / HK Senin, 1 Juli 2019 | 20:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu kebijakan hilirisasi industri, karena diyakini dapat meningkatkan nilai tambah bahan baku di dalam negeri. Hal itu dilakukan penerapan standardisasi produk industri agar mampu kompetitif di pasar domestik hingga ekspor.

Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar menerangkan potensi sumber daya alam (SDA) di Indonesia masih sangat tinggi dan bervariasi, sehingga menjadi peluang untuk dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk industri yang bernilai tambah melalui pengembangan dan diversifikasi produk industri. Kemenperin bertekad mendorong pengembangan industri pengolahan, salah satunya potensi yang ada di provinsi Riau. Upaya ini dijalankan dengan memperkuat peran kelembagaan Balai Pengembangan Produk dan Standardisasi Industri (BPPSI) Pekanbaru.

“Peran BPPSI Pekanbaru sebagai unit pelaksana teknis atau perpanjangan tangan Kemenperin perlu terus ditingkatkan, salah satunya dengan peningkatan sarana dan prasarana perkantoran yang lebih representatif dan laboratorium pengujian yang memenuhi,” ucap dia di Jakarta, Senin (1/7).

Haris menjelaskan, seiring bertambahnya dan berkembangnya industri di provinsi Riau, peran standardisasi akan semakin vital untuk pemenuhan standar dan peningkatan daya saing industri itu sendiri. Di samping itu, dengan potensi SDA, terutama hasil perkebunan dan pertanian yang berlimpah di Riau, potensi untuk pengembangan produk industri melalui hilirisasi dan diversifikasi produk semakin besar.

Pada acara peresmian kantor dan laboratorium BPPSI Pekanbaru ini, yang dihadiri stakeholders industri mulai dari pemerintah, pelaku industri, sampai dunia akademik, Haris menyampaikan harapan Kemenperin untuk berkolaborasi dan bersinergi dengan para pihak terkait tersebut. “Ini sebagai upaya mendorong pengembangan produk industri di Riau, terutama yang berbasis SDA,” ucap dia.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara menyatakan, salah satu tujuan pendirian BPPSI Pekanbaru adalah mendorong terjadinya diversifikasi produk yang berbasis sumber daya alam lokal, terutama di provinsi Riau.

Pengembangan teknologi dan inovasi menjadi salah satu faktor kunci dalam upaya pengembangan produk industri. Kemampuan sumber daya manusia di (SDM) BPPSI Pekanbaru, terutama perekayasa, akan terus ditingkatkan agar mampu menjawab tantangan dalam litbangyasa industri, khususnya untuk mendorong terjadinya diversifikasi dan peningkatan nilai tambah.

Dia mencontohkan, kelapa sawit, komoditas ekspor utama bagi Provinsi Riau. Luas area perkebunan kelapa sawit di Riau sebesar 2,8 juta hektare (ha) atau 19,8% dari total perkebunan sawit di Indonesia. Potensi lahan ini, menghasilkan produksi CPO sebanyak 9 juta ton per tahun atau 24% dari total volume ekspor nasional. Saat ini, ada tiga jalur hilirisasi industri CPO yang potensial untuk terus dikembangkan. Pertama, hilirisasi oleopangan (oleofood complex), hilirisasi oleokimia (oleochemical complex), dan hilirisasi biofuel (biofuel complex). 

 



Sumber: Investor Daily