TP Rachmat: Tanpa Karakter Baik, RI Sulit Wujudkan Cita-cita Luhur
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

TP Rachmat Raih Doktor HC dari ITB

TP Rachmat: Tanpa Karakter Baik, RI Sulit Wujudkan Cita-cita Luhur

Rabu, 3 Juli 2019 | 11:06 WIB
Oleh : Primus Dorimulu / WBP

Bandung, Beritasatu.com - Tanpa karakter yang baik dan kokoh, bangsa ini kesulitan mewujudkan cita-cita luhurnya. Oleh karena itu, lembaga pendidikan tidak boleh monomorduakan pendidikan karakter. Generasi muda Indonesia tidak cukup hanya pandai secara intelektual dan kompeten secara teknis. Mereka harus dididik agar matang sebagai pribadi dan kokoh dalam memegang prinsip kebangsaan.

"Sangat besar harapan saya agar ITB terus berjuang menjadi entitas pendidikan yang imbang, berkualitas, dan produktif," kata Theodore Permadi (TP) Rachmat dalam pidatonya saat menerima penganugerahan gelar doktor kehormatan atau honoris causa (HC) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) di Kampus ITB, Rabu (3/7/2019). Acara penganugerahan doktor HC dipimpin oleh Rektor ITB Kadarsih Suryadi dan dihadiri guru besar ITB, pejabat negara, pengusaha, profesional, dan rekan-rekannya sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Hadir dalam acara itu antara lain Prof. Dr. Kuntoro Mangkusubroto, Prof. Dr. Sarwono Kusumatamadja, Charil Tanjung, HS Dillon, Prof. Dr. Didik J. Rachbini, Prof. Dr. Kusmayanto Kadiman, Betti Alisjahbana, Prof. Dr. Hermanto Siregar, Garibaldi Thohi (Presdir PT Adaro Energi Tbk), Prijono Sugiarto (Presdir PT Astra International Tbk), Edwin Soeryadjaya, Erry Ryana Hardjapamekas, Arwin Rasyid hingga Budi Setiadharma.

Pada pidato berudul "Karakter dan Mindset Sebagai Penentu Keberhasilan dan Kelangsungan Bangsa", pendiri Tripura Group itu mengatakan, pendidikan karakter dan mindset yang berkesinambungan menjadi kunci kemajuan bangsa. Pendidikan memajukan cara berpikir, membuka wawasan, meningkatkan kemampuan manusia untuk memahami dan menghargai perbedaan. Pendidikan karakter dan mindset memampukan manusia untuk tidak hanya hidup berdasarkan dogma yang bisa saja usang, tidak relevan, dan tidak selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Pendidikan karakter dan mindset yang berkesinambungan, kata Teddy, nama sapaan TP Rachmat, menjadi kunci. Pendidikan akan memajukan cara berpikir dan membuka wawasan. Pendidikan juga meningkatkan kemampuan manusia untuk memahami dan menghargai perbedaan. "Pendidikan karakter dan mindset memampukan manusia untuk tidak hanya hidup berdasarkan dogma yang bisa saja usang, tidak relevan, dan tidak selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan," kata TP Rachmat.

Pendidikan yang makin baik, demikian Teddy, adalah pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan kompetensi. Namun di atas itu, menanamkan values dan membangun mindset. Pengetahuan dan kompetensi akan terus berkembang sejalan jaman, tapi values dan mindset akan selalu relevan dengan segala zaman, dan akan menjadi pembeda yang sulit ditiru.

Pendidikan bagi generasi penerus adalah salah satu hal terpenting yang harus jadi perhatian bangsa. Bangsa-bangsa besar, kata Teddy, menaruh perhatian dan upaya yang begitu bersungguh-sungguh, untuk memastikan kualitas pendidikan. Karena mereka sadar, bahwa keberlangsungan, kemandirian, dan kesejahteraan bangsa di masa datang, ditentukan oleh kualitas manusianya.

Dalam bentuk apa pun, dan sekecil apa pun, demikian Teddy, setiap orang memiliki tanggung jawab yang sama, yakni membangun generasi penerus, yang lebih hebat dari kita. Hanya dengan begitu, maka Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan berdampak bagi manusia.

Menurut Teddy, pribadi yang matang memiliki sejumlah unsur penting, yakni rendah hati dan "grit". Mengutip Angela Duckworth, psikolog dari Amerika, "grit" adalah sikap positif yang ditandai oleh semangat hidup yang menyala-nyala (passion), daya tahan dalam menghadapi berbagai masalah (perseverance), dan keinginan kuat untuk memberi atau berbagai (givers). Pribadi yang matang tidak sekadar keinginan untuk menerima atau mengambil (takers).

Peran ITB
TP Rachmat mengatakan, pendidikan yang mampu mengubah sebuah bangsa adalah pendidikan yang imbang, berkualitas, dan produktif. Ketiga unsur itu, demikian Teddy, hendaknya terus dipertahankan oleh ITB. Imbang artinya terus-menerus mencetak generasi penerus yang tidak hanya pandai secara intelektual, kompeten secara teknis, namun juga matang sebagai pribadi dan kokoh dalam prinsip-prinsip kebangsaan.

Di era informasi seperti saat ini, lembaga pendidikan berperan sebagai palang pintu pencetak generasi penerus yang cinta bangsa dan setia pada prinsip kebangsaan yang telah ditetapkan oleh para pendiri bangsa. "Lembaga pendidikan harus menyatakan sikap dengan tegas tentang prinsip-prinsip kebhinekaan, NKRI, dan UUD 45," tegas Teddy.

Sebagai institusi pendidikan tinggi berkualitas, ITB diharapkan berupaya memastikan agar proses dan hasil pendidikannya terus relevan terhadap perubahan zaman. Selain itu, buah pendidikan serta risetnya memberikan dampak makin besar terhadap bangsa dan kemanusiaan secara luas.

ITB diharapkan tidak hanya mencetak lulusan yang berkualitas, namun juga produktif. ITB menjadi pabrik riset dan penemuan, serta menjadi tuan rumah dan inisiator dari berbagai upaya memajukan bangsa dan kualitas umat manusia melalui ilmu pengetahuan. "Saya akan terus mendukung upaya ITB untuk mewujudkan harapan para pendiri ITB, yang tercermin dalam lambang ITB. Ganesha adalah simbol pengetahuan, kebijaksanaan, dan kebajikan," papar Teddy.

Teddy berjanji akan terus mendukung upaya ITB mewujudkan harapan para pendirinya yang tercermin dalam lambang ITB Ganesha. Adapun Ganesha adalah simbol pengetahuan, kebijaksanaan, dan kebajikan. "Semoga ITB terus berkarya menjadi lembaga pendidikan yang selalu menjadi sumber pengetahuan, tidak pernah berhenti berbagi ilmu, tidak ragu berkorban untuk kepentingan yang lebih mulia, dan hidup suci dalam pengabdian bagi kemanusiaan," ujar TP Rachmat.

Mengaku bukan bukan tipe orang yang rajin belajar saat kuliah, Teddy menyatakan, proses pendidikannya di Departemen Teknik Mesin ITB tidak sepenuhnya mulus. "Banyak juga rintangannya, termasuk yang masih saya ingat, saya harus mengulang ujian mata kuliah Teknik Pengatur, sampai 17 kali sebelum dinyatakan lulus," papar TP Rachmat.

Namun ia bersyukur langsung ditangani pendidik yang memiliki jiwa mendidik luar biasa, dan memiliki standar tinggi. Semua itu mengasah dirinya untuk tumbuh menjadi pribadi yang adaptif, tidak mudah menyerah, dan berkomitmen terhadap pilihan hidupnya.

Pendidikan di ITB juga mengajarkan kepada dirinya untuk menegakkan integritas melalui fakta dan data, mengukur dan menimbang sebelum berpendapat atau memutuskan. Tidak semata-mata bergantung pada opini atau informasi yang belum tentu benar.

ITB mengajarkan kepada dirinya untuk memiliki nilai kepeloporan, kejuangan, pengabdian, dan keunggulan. Keempat nilai itu, selaras dengan nilai pribadinya. "Secara sadar maupun tidak, sepanjang hidup saya, saya mengamalkan keempat nilai luhur tersebut," jelas TP Rachmat.

Sebagai sebuah institusi pendidikan terkemuka, Teddy yakin, ITB akan terus berada di garis depan untuk membangun generasi penerus yang tidak hanya pandai secara intelektual, kompeten secara teknis, namun juga matang sebagai pribadi dan kokoh prinsip-prinsip kebangsaannya.

Masa kuliah di ITB dikenangkan Teddy sebagai masa yang sangat menyenangkan. Tidak hanya karena proses pendidikannya, namun juga karena ia belajar bermasyarakat dan berteman. Di kampus itu, ia tumbuh menjadi pribadi yang makin sadar akan keberagaman karakter manusia, pentingnya tolong-menolong, menghargai perbedaan satu sama lain, serta mengutamakan relasi antarmanusia di atas berbagai bentuk persaingan.

Pentingnya Values
Mengutip Conficius, Teddy mengatakan, “If you plan for one year, plant rice. If your plan is for ten years, plant tree. If your plan is for one hundred year, educate children". Ia yakin, kata-kata bijak dari Confusius itu sungguh benar.

Pendidikan yang benar harus memperhatikan penanaman values atau nilai-nilai. Almarhum Benny Subianto, rekan bisnisnya di Triputra Group dan rekan kerjanya di PT Astra International Tbk, kata Teddy, menggambarkan pentingnya values dengan sangat baik. “We have to change with changing time, but we have to hold on to unchanged values," ungkap TP Rachmat.

Manusia harus terus beradaptasi terhadap perubahan, namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai inti yang diwariskan oleh para pendahulu. "Bersamanya, kami membangun United Tractors, Astra, Adaro, dan sektor agribisnis di Triputra Group," kenang Teddy. Ia menyebut Benny sebagai sahabat yang tulus, setia, dan terus tumbuh sebagai pribadi.

Benny Subianto, demikian Teddy, cukup mempengaruhi hidupnya. "Benny dari Madura, saya dari Kadipaten. Benny pribumi, saya nonpribumi. Benny muslim, saya Katolik. Benny sabar dan hati-hati, saya lebih tidak sabar dan impulsif," kenang TP Rachmat.

Semua perbedaan itu, sama sekali tidak mempengaruhi kecocokan dan kepercayaan satu sama lain. "Persahabatan, dan bahkan persaudaraan yang begitu mendalam terus lestari puluhan tahun, melebar sampai kepada kedua keluarga besar, lintas generasi," tambah TP Rachmat.

Dari pergaulan, Teddy belajar bahwa perbedaan sama sekali bukan penghalang untuk berteman, bekerja sama, dan membangun cita-cita bersama. Perbedaan justru bisa menjadi pengikat dan pemersatu. Perbedaan justru dapat membantu kita untuk menjadi orang yang lebih baik.

Teddy mengaku banyak belajar dari almarhum Iman Taufik, Ketua Angkatan Departemen Teknik Mesin ITB Angkatan ‘61. Iman mengajarkan kepada dirinya bagaimana memaknai semangat "solidarity for ever" secara nyata dan konsisten. Satu sama lain saling membantu, mengingatkan, berbagi. Setia, senasib sepenanggungan dalam suka maupun duka.

Membangun Solidaritas
Merintis, membangun, dan membesarkan United Tractors, Astra Group, Triputra Group, Adaro Group, kata Teddy, adalah wujud rasa terima kasih melalui pembukaan kesempatan bekerja bagi ratusan ribu tenaga kerja, pemasukan pajak bagi negara, tumbuhnya ekonomi lokal-informal di banyak tempat dan yang tidak kalah penting, membantu bangsa membangun pola pikir dan values generasi penerus.

Melalui perusahaan-perusahaan itu, katanya, ratusan ribu kesempatan bekerja tersedia, belasan ribu engineer kompeten yang saat ini berkarya di banyak tempat di Indonesia, berkontribusi membangun engineering capability bangsa ini.

Setidaknya ada dua lembaga pendidikan yang pada saat itu dibangun di Astra untuk mengembangkan talenta-talenta muda yang kompeten, memiliki mindset yang benar, dan menghidupi nilai-nilai luhur. Pertama adalah AMDI, Astra Management Development Institute. Melalui AMDI, belasan ribu pemimpin Astra dari berbagai level dicetak, ilmu pengetahuan dilembagakan dan disebarluaskan. Kedua adalah Politeknik Manufaktur Astra. Sejak tahun 1995, Polman Astra telah mencetak ribuan tenaga muda terdidik terlatih dalam berbagai bidang manufaktur seperti mekatronika, teknologi manufaktur, teknologi pembuatan peralatan presisi.

Perusahaan-perusahaan itu juga mengadopsi kehebatan Toyota Production System, yang hari ini banyak dipakai perusahaan untuk meningkatkan operational excellence, tidak hanya di industri manufaktur otomotif, tapi berbagai industri lainnya.

Melalui Astra, berbagai usaha pembuatan komponen otomotif dilokalisasi, dan saat ini menjadi salah satu tulang punggung industri otomotif nasional. "Semoga semua itu secara langsung maupun tidak langsung, membantu meningkatkan daya saing bangsa, sehingga Indonesia makin dapat berdiri tegak diantara bangsa-bangsa, adil, dan sejahtera," ungkap Teddy.

Pluralisme
ITB adalah kontak pertama Teddy dengan pluralisme. "ITB adalah melting pot, tempat bertemunya mahasiswa dari beragam suku, latar belakang ekonomi, agama, pandangan politik, dan berbagai perbedaan lain," kenang TP Rachmat.

Di kampus ITB, ia mulai memahami keberagaman Indonesia. Dari pemahaman, timbul kesadaran, bahwa menerima, menghormati, dan merayakan keberagaman amat penting agar Indonesia bisa menjadi Indonesia yang raya. "Saya jadi makin paham, bahwa saya sendiri yang harus mulai membangun pemahaman dan menyikapi berbagai keberagaman itu dengan bijak. Saya harus mulai dari diri sendiri, untuk menghentikan perdebatan dan kekerasan yang dipicu karena rasa berbeda dan kehendak sepihak untuk menyeragamkan," jelas Teddy.

Sejak didirikan, Indonesia sudah beragam baik suku, agama, ras, dan golongan. Pendiri bangsa menegaskan, bahwa Indonesia harus tetap harus bersatu. Beda suku, beda, agama, beda ras, beda golongan, tidak seharusnya jadi pemecah-belah. Bhinneka Tunggal Ika.

Sejarah menunjukkan, begitu banyak bangsa yang runtuh, karena mereka mempermasalahkan perbedaan seperti itu. Perang saudara, pemusnahan ras, ketidakadilan sosial dan pendidikan. Begitu banyak tragedi yang terjadi karena umat manusia mempermasalahkan perbedaan yang tidak pantas dan tidak perlu diperselisihkan.

"Kebesaran hati dan kemampuan bangsa ini untuk menghargai dan menerima perbedaan menjadi salah satu kunci bagi kebesaran bangsa ini di masa yang akan datang. Karena sejak lahirnya, Indonesia itu bineka, beragam dan bukan seragam," kata pria kelahiran Majalengka, Jabat, 75 tahun lalu.

“Do the least you can do now, because the least you can do, might turn out to be the most significant for others," kata Teddy mengutip Lucila Hanane Takjerad, seorang anak pengungsi dari Aljazair dalam pidato inaugurasinya di Harvard University. Lucila berkesempatan sekolah di Harvard karena suatu ketika ada seorang asing yang membantu ibunya untuk mendaftarkan nama mereka sebagai imigran Amerika Serikat.

Sampai saat ini, Lucila belum mengenal orang itu, dan belum bisa berterima kasih atas bantuan orang asing itu. Tanpa bantuan dari orang asing itu, Lucila tidak akan pernah jadi imigran, mendapatkan kewarganegaraan Amerika Serikat, dan berkesempatan mengenyam pendidikan di Harvard University.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

ITB Anugerahi TP Rachmat Doktor HC karena Peduli Pendidikan

Sebagai profesional, TP Rachmat berperan besar dalam merintis dan membangun industri manufaktur nasional.

EKONOMI | 3 Juli 2019

Ketua IMF Dinominasikan Pimpin Bank Sentral Eropa

Christine Lagarde berkebangsaan Prancis, akan menjadi wanita pertama yang memimpin ECB.

EKONOMI | 3 Juli 2019

Awal Sesi, Rupiah Melemah Saat Mata Uang Asia Menguat

Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.145 - Rp 14.169 per dolar AS.

EKONOMI | 3 Juli 2019

Awal Sesi, IHSG Turun Sejalan Tekanan Bursa Asia

Pukul 09.30 WIB, IHSG turun 16,78 poin (0,26 persen) menjadi 6.368.

EKONOMI | 3 Juli 2019

Harga Minyak Turun 4% Meski OPEC Pangkas Produksi

Brent untuk pengiriman September jatuh US$ 2,66 atau 4,1 persen, menjadi US$ 62,40 per barel.

EKONOMI | 3 Juli 2019

Harga Emas Naik Tembus di Atas US$ 1.400 Per Ounce

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus, meningkat US$ 18,7 atau 1,35 persen, menjadi US$ 1.408 per ounce.

EKONOMI | 3 Juli 2019

Wall Street Menguat di Tengah Perselisihan Dagang AS-Uni Eropa

Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 69,3 poin (0,26 persen) mencapai 26.787.

EKONOMI | 3 Juli 2019

Pemerintah Komitmen Penuhi Paris Agreemennt Melalui Capaian Target Energi Terbarukan

Untuk memenuhi tercapainya Bauran Energi 23% sesuai dengan kebijakan energi nasional di tahun 2025, Pemerintah telah menerbitkan beberapa kebijakan.

EKONOMI | 2 Juli 2019

Tower Poros Maritim Siap Jadi Pusat Bisnis Maritim di Tanjung Perak

Topping Off Tower Poros Maritim dilakukan di Surabaya pada Selasa (2/7/2019).

EKONOMI | 2 Juli 2019

Akan ke Indonesia, Pangeran Saudi Bakal Investasi Besar-besaran

Pangeran Mohammad bin Salman (MbS), putra mahkota Arab Saudi akan mengunjungi Indonesia untuk melakukan investasi besar-besaran di Tanah Air.

EKONOMI | 2 Juli 2019


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS