Boeing Bantu Rp 1,4 T pada Keluarga Korban Lion dan Ethiopian Airlines

Boeing Bantu Rp 1,4 T pada Keluarga Korban Lion dan Ethiopian Airlines
CEO Boeing Dennis Muilenburg ( Foto: istimewa )
/ WBP Kamis, 4 Juli 2019 | 09:55 WIB

Seattle, Beritasatu.com - Produsen pesawat asal Amerika Serikat (AS) Boeing Co pada Rabu (3/7/2019) menjanjikan US$ 100 juta (Rp 1,4 triliun) untuk membantu keluarga korban kecelakaan pesawat jet 737 Max Lion Air di Indonesia dan Ethiopian Airline di Ethiopia.

Juru bicara Boeing menyatakan pembayaran bantuan secara multi tahun (bertahap) itu tidak mempengaruhi tuntutan hukum yang diajukan keluarga 346 korban tewas dalam dua kecelakaan yang terjadi Oktober 2018 dan Maret 2019.

Dana tersebut tidak akan langsung diberikan kepada keluarga, namun akan diberikan kepada pemerintah setempat dan organisasi nirlaba untuk membantu keluarga korban di bidang pendidikan dan biaya hidup guna meningkatkan perekonomian keluarga korban.

Boeing mengatakan akan mengumpulkan sumbangan dari karyawan perusahaan itu hingga Desember 2019. "Kami berharap bantuan awal ini dapat memberi kenyamanan," kata CEO Boeing Dennis Muilenburg.

Berbagai tuntutan hukum telah diajukan terhadap Boeing oleh keluarga korban Lion Air di Indonesia dan Ethiopian Airlines. Perusahaan industri pesawat terbang AS itu sedang dalam pembicaraan penyelesaian atas litigasi Lion Air dan secara terpisah menawarkan untuk bernegosiasi dengan keluarga korban Ethiopian Airlines.

Janji bantuan tunai datang pada Rabu waktu setempat, ketika Boeing menghadapi penyelidikan oleh regulator global dan anggota parlemen AS atas pengembangan Boeing 737 MAX.

Perusahaan itu telah dikritik karena terlihat lamban merespons kecelakaan itu. Muilenburg dan eksekutif lainnya di Boeing mengatakan keselamatan adalah prioritas Boeing dan telah bersumpah untuk belajar dari kecelakaan itu.

Pesawat Boeing 737 MAX telah dilarang terbang di seluruh dunia pada Maret 2019, setelah dua kecelakaan tragis tersebut. Boeing sedang mengerjakan perbaikan perangkat lunak yang telah diidentifikasi terkait dua kecelakaan maut itu, yang hasil perbaikannya harus disetujui oleh regulator udara AS sebelum 737 Max kembali mengudara.



Sumber: Xinhua, Antara