Kado PLN untuk Jokowi: PLTU Jawa 7

Kado PLN untuk Jokowi: PLTU Jawa 7
Petugas PLN Unit Induk Pusat Pengaturan Beban (UIP2B) Gandul melakukan inspeksi harian berupa thermovisi atau pengukuran suhu panas pada paralatan kelistrikan yang ada di UIP2B Gandul Depok, Jawa Barat, Kamis (23/5/2019). PLN menjamin ketersedian suplai listrik ke masyarakat untuk kebutuhan Lebaran dan diperkirakan pada saat Lebaran terjadi penurun beban puncak listrik pada sistem kelistrikan sistem Jawa Bali sebesar 56 persen hingga 60 persen dikarenakan banyak Industri dan perkantoran yang libur. ( Foto: ANTARA FOTO / Muhammad Iqbal )
Rangga Prakoso / FMB Jumat, 5 Juli 2019 | 17:28 WIB

Serang, Beritasatu.com - Proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa 7 dalam fase penyelesaian (finishing). Hal itu ditandai dengan beroperasinya secara perdana terminal batu bara pada 5 Juli kemarin. Pembangkit yang berada di Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Serang, Banten itu berkapasitas 2x1000 megawatt (MW). Unit pertama 1.000 MW PLTU Jawa 7 ditargetkan beroperasi pada Oktober mendatang. Sementara 1.000 MW unit 2 bakal beroperasi di awal 2020.

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat PLN Haryanto WS mengatakan pengoperasian terminal batu bara merupakan tonggak strategis dalam pembangunan PLTU Jawa 7. Dengan beroperasinya dermaga tersebut maka target rampungnya PLTU di April 2020 bisa dipercepat menjadi Oktober 2019. "Kita harapkan pengoperasian Jawa 7 ini, akan menjadi kado untuk Presiden yang dilantik 20 Oktober nanti," kata Haryanto di Serang, Jumat (5/7/2019).

Haryanto menuturkan sejumlah tahapan yang menjelang beroperasinya unit 1 di Oktober nanti. Dilakukan berbagai rangkaian performance test seperti realibility run test, boiler test hingga mendapat Sertifikat Laik Operasi (SLO). Dengan begitu mempercepat proses menuju beroperasi secara komersial. " 15 Agustus nanti sudah first sinkron, sudah menyambung ke jaringan sistem Jawa Bali," ujarnya.

Dikatakannya listrik yang dihasilkan Jawa 7 bakal dialirkan melalui jaringan Suralaya-Balaraja 500 kV menuju interkoneksi Jawa-Bali. Pasokan 1.000 MW ini nantinya mendukung kebutuhan beban puncak Jawa Bali yang diprediksi meningkat pada akhir tahun ini. "Beban puncak naik jadi 28.000 MW. Tahun lalu beban puncaknya 27.000 MW," ujarnya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) Iwan Agung Firstantara menerangkan proyek PLTU Jawa 7 merupakan hasil kerja sama antara PJB dengan China Shenhua Energy Company Limited. Adapun komposisi kepemilikannya yakni 30 persen dikantongi oleh PJB dan 70 persen dipegang oleh BUMN asal Tiongkok tersebut. Dia mengungkapkan PLTU Jawa 7 akan menjadi PLTU batu bara terbesar dan pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi boiler Ultra Super Critical (USC). Adapun bahan bakar yang dibutuhkan batu bara low rank yang memiliki nilai kalor 4000 hingga 4600 kCal/kg. "Konsumsi batu bara sekitar 7 juta ton per tahun bila sudah beroperasi 2 unit," ujarnya.

Iwan mengungkapkan teknologi USC dapat meningkatkan efisiensi pembangkit 15 persen lebih tinggi dibandingkan non USC sehingga menurunkan biaya bahan bakar per kWh. Selain itu, PLTU Jawa 7 dalam operasinya menggunakan SWFGD (Sea Water Fuel Gas Desulfurization) sehingga sangat ramah lingkungan karena penyaluran batu bara dari tongkang menggunakan coal handling plant sepanjang 4 kilometer sehingga tidak ada batu bara yang tercecer hingga coal yard.



Sumber: BeritaSatu.com