Angkie Yudistia: Kaya Materi dan Rohani

Angkie Yudistia: Kaya Materi dan Rohani
Angkie Yudistia adalah penyandang tunarungu yang sukses menjadi sociopreneur. Dia membangun sebuah perusahaan di bidang pelatihan tenaga kerja khusus penyandang disabilitas, bernama Thisable Enterprise. ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / FMB Minggu, 7 Juli 2019 | 16:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kata siapa, satu-satunya jalan menjadi kaya raya hanya bisa diraih oleh para entrepreneur? Perempuan berusia 32 tahun, Angkie Yudistia langsung menepis pernyataan tersebut dengan argumen lengkap yang tertulis dalam buku terbarunya berjudul, Become Rich As a Socio-preneur.

Berhasil membangun sebuah perusahaan di bidang pelatihan tenaga kerja khusus penyandang disabilitas, bernama Thisable Enterprise, membuat dirinya yakin, bahwa menjadi sociopreneur bisa menjadikan dirinya kaya. Tidak hanya kaya akan materi, tetapi juga rohaninya.

"Walaupun tujuan utama seorang sociopreneur bukanlah profit tetapi lebih untuk meluaskan gerakan yang dilakukannya ke lingkungan masyarakat yang lebih luas. Maka dari itu, berbisnis untuk kegiatan sosial, tapi kita memastikan bahwa kebutuhan diri sendiri dan keluarga juga terpenuhi. Hal ini sangat penting karena untuk bisa berbisnis secara berkesinambungan, dibutuhkan kesejahteraan dari si pelaku bisnis sosial itu sendiri,” terangnya saat dijumpai SP, beberapa waktu lalu.

Perempuan yang telah menjadi tunarungu sejak usia 10 tahun ini memprediksi sociopreneur di Indonesia akan semakin banyak. Khususnya untuk generasi muda, karena mereka juga berusaha ingin memecahkan masalah atau ketidakseimbangan yang terjadi di masyarakat.

Dengan berbisnis untuk kepentingan sosial, seorang sociopreneur Indonesia membutuhkan modal, business plan, hingga sistem marketing yang jelas dan efektif agar berjalan konsisten hingga bertahun-tahun lamanya dan semakin besar dampak positif yang dihasilkan.

"Banyak yang awalnya mengira, jadi sociopreneur susah menjadi kaya. Gimana mau kaya, keuntungannya dipakai untuk kegiatan sosial. Tapi makin ke sini banyak kok yang berminat untuk menjadi seorang sociopreneur. Saat ditanya, jawabannya beragam. Salah satunya polling terbanyak adalah ingin melakukan sesuatu yang lebih baik. Bagi mereka, senyum di wajah orang-orang yang mereka bantu merupakan suatu kekayaan yang sangat bernilai,” ungkapnya.

Keberhasilan seorang sociopreneur tidak hanya dilihat dari profit atau keuntungannya saja, tetapi juga dampak yang dihasilkan dari usahanya. Kalau tidak bisa menghasilkan keuntungan finansial dari usahanya, bagaimana mungkin bisa terus melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

"Jadi, seorang sociopreneur sama seperti entrepreneur lainnya, yakni harus pandai berhitung. Memiliki modal untuk usaha, dan juga harus menghasilkan keuntungan demi mengembangkan usahanya. Lantas, hasilnya tidak hanya menguntungkan dari segi materi, tetapi rohani saya juga menjadi kaya. Saya sangat bahagia ketika banyak orang yang meneima manfaat dari usaha ini,” terangnya.

Kemudian, apa sesungguhnya yang mendasari Angkie Yudistia menulis buku ini? Ia pun menjawab, kali pertama saat terjun langsung ke dunia komunitas disabilitas sekitar tahun 2009, membuat Angkie merasa memiliki banyak teman yang seperjuangan, walaupun dengan layar belakang pendidikan yang berbeda.

Sebagai mahasiswi S1 dan S2 komunikasi sekaligus dengan program akselerasi memiliki pandangan yang berbeda dalam mengembangkan isu disabilitas. Setelah itu dirinya terus belajar mencari lebih banyak tentang isu disabilitas baik dalam skala nasional dan internasional.

"Waktu itu saya mengikuti program di Bangkok, Thailand. Lalu skala Eropa di Strasbourg, Prancis, skala United States, Washington DC - San Fransisco, Ohio, Minessota. Dan selalu kembali ke Tanah Air dengan kaya akan ilmu pengetahuan tentang perkembangan isu disabilitas secara global," jelasnya.

Dia pun melanjutkan dari sinilah dasar dirinya membuat buku ini setelah 10 tahun lamanya berkecimpung langsung di dunia social enterprise. "Dulu, di Indonesia sangat jarang sekali hingga tidak ada teman diskusi, tapi sekarang banyak sekali yang mendirikan social enterprise, bahagia rasanya semakin banyak yang terus berjuang. Buku ini adalah pengalaman teknis seluk beluk social enterprise," kata ibu dua anak ini.

Untuk mewujudkan buku ini, dia melakukan banyak hal untuk riset tidak sekadar membaca lebih banyak buku. Bahkan, karena merasa buku ini sangat penting untuk pembaca, dirinya membutuhkan waktu kurang lebih dua tahun pengerjaan.

Tantangannya pun banyak. Angkie sebagai Chief Executive Officer di @thisable.id, seorang istri, dan ibu dari anak-anak harus pintar-pintar untuk membagi waktu menyelesaikan buku ini yang tentu saja bolak-balik direvisi. Tapi karena memang niatnya ingin diselesaikan, maka dijalankan dengan riang gembira.

"Juga flashback pengalaman, browsing , dan berdiskusi, itu perlu berbulan bulan lamanya hingga buku ini berhasil diterbitkan. Saya ingin buku ini memiliki dampak yang besar. Pasalnya sangat jarang ada buku praktis tentang sociopreneur dijual di pasaran,” tukasnya.



Sumber: Suara Pembaruan