Hadapi Industri 4.0, Peranan Instruktur di BLK Terus Diperkuat

Hadapi Industri 4.0,  Peranan Instruktur  di BLK Terus Diperkuat
Kepala BBPLK Cevest Bekasi, Helmiaty Basri. ( Foto: beritasatu.com / Edi Hardum )
Siprianus Edi Hardum / EHD Selasa, 9 Juli 2019 | 00:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menghadapi era revolusi industri 4.0 Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus memperkuat peranan para instruktur di Balai-balai Latihan Kerja ( BLK) agar selalu berinovasi dan kreatif dalam upaya menyiapkan tenaga kerja berkualitas dan berkompeten.

“Peranan instruktur di BLK harus diperkuat karena memiliki korelasi dengan pembangunan SDM dan sebagai pintu masuk dalam mewujudkan Indonesia kompeten,” ujar Staf Ahli Menteri Ketenagakerjaan bidang Ekonomi dan Sumber Daya Manusia (SDM, Aris Wahyudi dalam acara pembukaan Kompetisi Keterampilan Instruktur Nasion (KKIN) VII Regional Kalimantan Timur, di Samarinda, Kaltim, Senin (8/7/2019) sebagaimana dalam siaran pers yang diterima SP, Selasa (9/7).

Aris mengatakan, salah satu metode efektif dalam pembinaan percepatan peningkatan kompetensi instruktur di Indonesia yakni melakukan kompetisi antar instruktur yang terstruktur dan sistematis. "Kompetisi antar instruktur merupakan ajang untuk mengukur, meningkatkan dan pemerataan peningkatan kompetensi yang terintegrasi," ujar Aris.

Aris menambahkan, instruktur juga merupakan aktor utama di dalam pelatihan kerja yang berfungsi sebagai fasilitator dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, perubahan sikap, dan perilaku (etos kerja) dari tenaga kerja. "Peran instruktur sangatlah strategis sebagai ujung tombak dalam menghasilkan SDM yang kompeten,” kata Aris.

Aris mengungkapkan, secara nasional jumlah Balai Latihan Kerja (BLK) Pemerintah baik Unit Pelayanan Teknis Pusat (UPTP) maupun Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) saat ini berjumlah 305 BLK dan sebanyak 37 BLK atau 12,13%, berada di Pulau Kalimantan. Sedangkan LPK Swasta sebanyak 5.045 LPK, dan 345 LPK atau 6,84% berada di Pulau Kalimantan.

Secara nasional jumlah Instruktur Pemerintah saat ini berjumlah 3.013 orang, dan 282 orang atau 9,36% berada di Pulau Kalimantan. Sedangkan instruktur swasta sebanyak 16.379 orang, dan 1.224 orang atau 7,47% berada di Pulau Kalimantan.

Dengan jumlah sumber daya yang ada tersebut, maka perlu dijaga kualitasnya melalui kompetisi ketrampilan instruktur. "Kompetisi instruktur ini menjadi salah satu media dalam menjaga kualitas instruktur yang ada dan dapat menjadi indikator kemampuan instruktur pada tingkat regional maupun pada tingkat nasional, " kata Aris.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Abu Helmi, mengatakan, KKIN regional Kaltim mempertegas bahwa peran instruktur sangatlah strategis dalam rangka menciptakan calon tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing.

"Melalui ajang kompetisi ini, diharapkan menghasilkan para instruktur yang kompeten dan profesional sehingga akan terwujud calon tenaga kerja kompeten dan memiliki daya saing untuk memasuki pasar kerja, sehingga akan menurunkan tingkat pengangguran di Kaltim, " kata Abu Helmi.

Kepala BLK Samarinda Andri Susila menyatakan, KKIN VII Kaltim diikuti oleh 90 orang instruktur yakni Kalsel sebanyak 32 orang instruktur; Kaltim (27); Kalteng (21); dan Kaltara (10).

Andri menambahkan, ada sembilan bidang yang dikompetisikan dan masing-masing diikuti 10 orang. Kesembilan bidang itu yakni pengelasan (welding); otomotif kendaraan ringan (automotive technology); instalasi listrik (electrical installation); tata busana (fashion technology); pendingin dan tata udara (refrigeration and AC); elektronika, disain grafis (graphic design technology); perencanaan rekayasa mekanik CAD (mechanical engineering design CAD) dan solusi perangkat lunak teknologi informasi untuk bisnis (IT software solution for business).

KKIN VII Regional Kaltim bertema "Melalui Kompetisi Kita Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme Instruktur dihadiri Ketua Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (LALPK) sekaligus Ketua Tim Penyelia KKIN VII 2019 Suhadi; Kepala Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Sukasnaini; dan 90 orang peserta KKIN yang berasal dari Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.