Penurunan Neraca Dagang Tekstil Makin Memprihatinkan

Penurunan Neraca Dagang Tekstil Makin Memprihatinkan
Ilustrasi pabrik garmen ( Foto: Istimewa )
Monica Dina Putri / HA Rabu, 10 Juli 2019 | 20:51 WIB

Jakarta, BeritaSatu.com - Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi) mengungkap terjadinya penurunan dalam neraca perdagangan yang makin tajam, dan bisa mengancam industri tekstil di Indonesia.

“Pada tahun 2007 sampai dengan 2018, rata-rata pertumbuhan ekspor sebesar 3,1% sedangkan impor sebesar 12,3%," kata Sekretaris Jenderal Apsyfi Redma Gita Wirawasta dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (10/7/2019).

"Neraca terus tergerus dari US$ 6,7 miliar menjadi US$ 3,2 miliar,” tambahnya.

Di sisi lain, Redma mencatat bahwa di Vietnam justru terjadi peningkatan neraca perdagangan tekstil secara tajam dari US$ 2 miliar menjadi US$ 26 miliar dalam jangka waktu 10 tahun terakhir.

Atas dasar itu, dia menyimpulkan bahwa industri tekstil Indonesia menghadapi masalah yang sangat serius.

Apsyfi juga memperkirakan dalam tiga tahun ke depan industri ini akan terancam defisit neraca perdagangan. Diperkirakan semester pertana 2019 impor akan naik sekitar 7% menjadi sebesar US$ 4,4 miliar.

Menurut Redma, salah satu penyebab penurunan kinerja tekstil adalah Peraturan Menteri Perdagangan nomer 64 pada tahun 2007 yang membuka keran impor khususnya di sektor pembuatan kain.

Saat ini utilisasi produksi di sektor pertenunan, perajutan, dan pencelupan kain hanya berada di level 40%. Subsektor antara ini dalam lima tahun terakhir memang mengalami kelesuan karena banyaknya barang impor, ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com