Limbah Batu Bara Dapat Dimanfaatkan sebagai Produk Industri

Limbah Batu Bara Dapat Dimanfaatkan sebagai Produk Industri
Ilustrasi batu bara. ( Foto: Antara / Prasetyo Utomo )
Feriawan Hidayat / FER Sabtu, 13 Juli 2019 | 10:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Industri manufaktur berperan penting dalam implementasi konsep circular economy atau ekonomi berkelanjutan. Selain akan menjadi tren dunia, konsep tersebut dinilai mempunyai kontribusi besar dalam penerapan pola produksi dan konsumsi berkelanjutan.

Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian (Kemperin), Teddy Caster Sianturi, mengemukakan, fly ash dan bottom ash (Faba) sebagai limbah padat yang dihasilkan dari pembakaran batu bara pada pembangkit tenaga listrik, sebenarnya masih dapat dimanfaatkan lagi menjadi substitusi bahan baku sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Dalam perkembangannya, Faba dapat diolah menjadi produk lain yang bermanfaat seperti genteng atau produk lain seperti paving block. Masalahnya, prosedur yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terlalu rigid, karena didasarkan kepada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 tahun 2014 yang memasukkan Faba sebagai limbah B3, dan dilakukan dalam rangka pengendalian dampak lingkungan hidup,” jelas Teddy kepada Beritasatu.com melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (13/7/2019).

Teddy mengatakan, pemerintah sudah beberapa kali menggulirkan sejumlah paket penyederhanaan peraturan dalam bentuk paket kebijakan ekonomi, namun khusus untuk faba masih tetap dikategorikan sebagai limbah B3. Dengan dikategorikan sebagai limbah B3, prosedur yang harus dilalui dirasa sangat sulit oleh pengusaha yang bergerak dalam industri tersebut.

"Berbagai dokumen yang harus dilengkapi oleh pengusaha agar dapat memanfaatkan faba, antara lain harus menyertakan salinan izin lingkungan, salinan persetujuan pelaksanaan uji coba pengolahan limbah B3, bukti penyerahan limbah B3 dari penghasil limbah B3 kepada pengolah limbah B3," jelasnya.

Menurut Teddy, batu bara dijadikan alternatif sumber energi karena terjadi transformasi kebutuhan energi dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya mengandalkan pada minyak dan gas bumi yang terbukti telah membebani APBN, beralih pada batu bara yang cadangannya lebih besar, diperkirakan masih dapat dipergunakan sampai 50 tahun ke depan, dibanding cadangan migas yang hanya akan bertahan sekitar 20 tahun sampai 30 tahun ke depan.

Sejalan dengan hal tersebut, sejumlah industri seperti TPT, petrokimia, semen, dan pupuk, dan berbagai manufaktur lainnya juga mulai mengganti sumber energinya ke batu bara. Termasuk juga PT PLN (Persero) banyak membangun PLTU yang energi primernya adalah batu bara. Dengan tingginya penggunaan batu bara, FABA dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar atau campuran, untuk pembangunan infrastruktur dan sebagainya.

"Apabila ada arahan, nantinya Kementerian Perindustrian akan berinisiatif mengajukan Peraturan Presiden (Perpres) yang dapat mengakomodasi kepentingan pihak industri. Diharapkan Menteri Koordinator Perekonomian ataupun Menteri Koordinator Maritim dapat mewadahi menteri-menteri terkait. Dengan demikian, tujuan pengendalian polusi udara tetap terjaga, tetapi di sisi lain faba juga dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bermanfaat,” papar Teddy.

Mendorong EBT

Tingginya tingkat polusi di Indonesia, khususnya DKI Jakarta, menjadi peluang bagi industri memanfaatkan berbagai sumber energi, di luar fosil dan batubara, yakni energi baru dan terbarukan (EBT). Disinyalir, salah satu penyebab buruknya kualitas udara di Jakarta, adalah berasal dari asap kendaraan bermotor, serta pesatnya pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor.

Melalui perencanaan yang tertuang dalam peta jalan pemanfaatan batubara, seperti tercantum dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN), perlu perencanaan penggunaan batu bara dalam kurun waktu yang sudah pasti.

Menanggapi soal polusi tersebut, Executive Vice President (EVP) Corporate Communication PT PLN (Persero), I Made Suprateka, mengatakan, bukan PLTU yang menjadi salah satu pencemar buruknya kualitas udara di DKI Jakarta akhir-akhir ini, mengingat lokasi PLTU dan PLTGU Muara Karang dan juga PLTGU Priok terletak di bagian utara Jakarta. Demikian pula PLTU Batubara Lontar ada di Provinsi Banten.

Perihal radius sebaran dampak emisi PLTU batubara SOX atau NOX terjauh adalah 30 km, dengan asumsi adanya emisi gas buangnya terdekat batu bara Lontar Banten, yang jaraknya 70 km dari pusat kota Jakarta.

Saat ini, menurut Made, sejumlah PLTU yang pembangunannya dilakukan baik oleh PT PLN (Persero) ataupun oleh para perusahaan sebagai IPP (Independent Power Producer), kebanyakan sudah menggunakan teknologi berbasis Super Ultra Critical Represitator, di mana debu yang keluar ditangkap dan dapat diendapkan, sehingga dapat dicegah penyebarannya.

Dengan demikian tidak ada lagi sebaran debu, karena volumenya sangat minim (hanya 2 persen) dari produksi energi batu bara dari operasional PLTU. Dari batu bara yang dikonsumsi, maksimal hanya 20 persen yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Sementara dari 20 persen PLTU tersebut, hanya 2 persen yang berpotensi menghasilkan polusi.

"Saat ini sudah berkembang teknologi penangkap debu (Super Ultra Critical Represitator). Hal tersebut dapat disaksikan juga pada Shanghai Energy Power Plant, di mana pembangkit listrik di Shanghai tersebut, tingkat kebersihannya setara atau sama dengan rumah sakit. Ada pun suplai kebutuhan listrik di Indonesia kebanyakan berasal dari PLTU, mengingat belum dapat terpenuhinya kebutuhan energi di lokasi tersebut yang berasal dari EBT," jelas Made.



Sumber: BeritaSatu.com