UT Habiskan Rp 6,5 Miliar untuk Program Kemanusiaan di Palu

UT Habiskan Rp 6,5 Miliar untuk Program Kemanusiaan di Palu
Direktur United Tractors, Edhie Sarwono (dua dari kiri) meninjau hunian tetap sementara untuk TNI di Palu, Jumat (19/7/2019) ( Foto: SP/Rully Satriadi )
Rully Satriadi / RSAT Sabtu, 20 Juli 2019 | 10:16 WIB

Palu, Beritasatu.com - Meskipun bencana alam di Palu dan Donggala sudah lama berlalu, namun gerak Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan alat berat United Tractors (UT) Tbk tidak berhenti.

UT yang merupakan bagian dari Astra Group senantiasa terus bergandengan tangan, tidak hanya saat bencana, tapi saat normal pun akan terus melakukan pembinaan dan pembangunan untuk generasi yang lebih baik di daerah ini.

Hal itu dikatakan Direktur United Tractors Edhie Sarwono dalam konpers Penutupan Program Kemanusiaan United Tracors Group bagi Palu, Sigi, dan Donggala, di Palu, Jumat (19/7/2019).

Edhie Sarwono mengatakan, program kemanusiaan UT di Palu, Sigi dan Donggala diwujudkan melalui posko kesehatan, membangun dapur darurat, penyediaan air bersih, pembangunan sekolah darurat, dan pembangunan hunian transisi tetap (huntrap). Sebelumnya, UT juga memberikan dukungan operasional unit alat berat untuk membersihkan puing bangunan yang runtuh, mengerahkan 1.300 orang untuk psikososial support untuk menghilangkan trauma akibat gempa dan tsunami, serta menyalurkan ribuan paket bantuan kebutuhan pokok

“Selama 6 - 8 bulan, pihaknya telah membangun 10 sekolah transisi, 20 huntrap bagi TNI, 3 instalasi penyediaan air bersih, merenovasi musholla dan tempat wudhu, mengerahkan 150 relawan dari karyawan UT, membantu 6 unit alat berat untuk pembersihan puing, menyalurkan 5.000 bantuan kebutuhan pokok, serta membangun 10 MCK umum,” ujar Edhie Sarwono.

Menjawab pertanyaan terkait berapa dana yang dihabiskan untuk program kemanusiaan tersebut, Edhie Sarwono menyebutkan selama program kemanusiaan di Palu, Sigi, dan Donggala menghabiskan sekitar Rp 6,5 miliar.

Dijelaskan, dalam misi kemanusiaan setelah berkordinasi dengan pihak TNI dan masyarakat setempat, pihaknya memfokuskan pada empat hal yakni pendidikan, peningkatan pendapatan masyarakat, kesehatan ibu dan anak, serta kesehatan lingkungan

Untuk pendidikan, tahap awal pihaknya secepat mungkin membangun kembali fasilitas pendidikan, dengan membangun 10 sekolah transisi dengan harapan anak-anak dapat cepat kembali belajar dan.menimba ilmu, karena mereka adalah generasi penerus yang kelak membangun wilayah ini ke depannya.

“Kita juga membangun 20 hunian transisi tetap bagi TNI. Karena waktu itu TNI dikerahkan untuk membantu mengevakuasi para korban, sementara keluarganya juga banyak menjadi korban, dan tidak ada yang memperhatikan. Maka kita berinisitif membangun hunian bagi TNI, yang kemudian diikuti oleh perusahaan lainnya,” ujar Edhie Sarwono.

“Pihaknya juga membangun 3 instalasi air siap minum yakni 1 di Donggala yang dapat mengubah air laut menjadi air siap minum, dan 2 lainnya di Sigi mengubah air tanah menjadi air siap minum,” pungkasnya.



Sumber: Suara Pembaruan