Kontribusi Grab Rp 46,14 T dalam Surplus Konsumen di Jabodetabek

Kontribusi Grab Rp 46,14 T dalam Surplus Konsumen di Jabodetabek
Kepala Departemen Ekonomi CSIS, Yose Rizal ( Foto: Herman / Herman )
Herman / MPA Selasa, 23 Juli 2019 | 17:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Center for International and Strategic Study (CSIS) dan Tenggara Strategics melakukan sebuah riset yang menempatkan perusahaan aplikasi Grab sebagai studi kasusnya. Riset tersebut mencoba untuk mengukur peningkatan kesejahteraan masyarakat dari sisi konsumen, berupa surplus konsumen yang dirasakan oleh konsumen GrabBike dan GrabCar di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek).

Kepala Departemen Ekonomi CSIS, Yose Rizal menyampaikan, surplus konsumen adalah manfaat yang diperoleh konsumen dari membeli barang atau jasa pada harga yang lebih rendah dari jumlah harga maksimal yang sebenarnya rela mereka bayar. Harga tertinggi yang bersedia dibayar konsumen dikurangi harga pembelian dari suatu transaksi adalah surplus konsumen.

Sebagai contoh, jika seseorang bersedia membayar Rp 200.000 untuk sebuah perjalanan dari rumahnya ke Bandara Soekarno-Hatta sementara harga yang diberikan Grab untuk perjalanan tersebut adalah Rp 150.000, maka orang tersebut memperoleh surplus konsumen sebesar Rp 50.000.

Untuk menyingkap kesediaan konsumen dalam membayar (willingness to pay) agar dapat mengetahui harga tertinggi yang sebenarnya konsumen bersedia bayarkan, CSIS dan Tenggara Strategics menggunakan mahadata yang dimiliki oleh Grab. Perhitungan surplus konsumen dengan menggunakan analisis big data ini pertama kalinya dilakukan di Asia Tenggara.

“Riset menemukan bahwa teknologi Grab berkontribusi sekitar Rp 46,14 triliun dalam surplus konsumen untuk wilayah Jabodetabek pada 2018. Surplus konsumen yang diperoleh konsumen GrabBike adalah Rp 5,73 triliun, sementara GrabCar berkontribusi sebesar Rp 40,41 triliun,” papar Yose Rizal, di Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Riset ini mengungkapkan bahwa layanan Grab memungkinkan pelanggan menghemat uang yang awalnya telah mereka persiapkan untuk melakukan perjalanan dari titik A ke titik B. Uang yang dapat disimpan dari sebelumnya dialokasikan untuk melakukan perjalanan, sekarang dapat digunakan untuk membeli barang-barang lainnya. Artinya, pelanggan dapat memanfaatkan surplus yang dinikmati untuk membeli barang atau jasa yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Temuan surplus konsumen ini konsisten dengan hasil survei CSlS-Tenggara Strategies yang dilakukan pada November-Desember 2018 terhadap pelanggan Grab. Dengan mewawancarai 500 pelanggan di lima kota yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan menggunakan penarikan sampel acak sistematis, survei tersebut menemukan bahwa walaupun 72% konsumen memiliki kendaraan pribadi roda dua dan 28% memiliki kendaraan pribadi roda empat, mereka lebih memilih untuk menggunakan layanan GrabBike dan GrabCat karena beberapa alasan, di antaranya yaitu harga yang lebih terjangkau serta pelayanan yang lebih aman dan nyaman.

Tersedianya pilihan moda transportasi dengan harga yang lebih terjangkau, seperti GrabBike dan GrabCar, memungkinkan setiap pelanggan untuk mendapatkan surplus konsumen. Selain itu, kesempatan untuk berhemat melalui surplus konsumen ini menjadi lebih berarti bagi 41, 2% pelanggan yang memiliki tanggungan.

"Hasil studi surplus konsumen Grab dan survei mitra Grab menunjukkan bahwa manfaat yang dihasilkan oleh perusahaan teknologi ini jauh lebih besar dari yang kita sangka, baik untuk konsumen dan mitra,” kata Direktur Eksekutif Tenggara Strategics, Riyadi Suparno.

Sebelumnya, riset Tenggara Strategics dan CSIS yang hasilnya telah dipublikasikan pada April 2019 lalu juga menyimpulkan bahwa kehadiran Grab telah memberi kontribusi sebedar Rp 48,9 triliun terhadap perekonomian Indonesia melalui pendapatan para pengemudi GrabBike dan GrabCar, mitra GrabFood, dan agen Kudo individual.

Mengomentari temuan tersebut, Head of Public Affairs Grab Indonesia, Tri Sukma Anreianno menyampaikan bahwa riset ini telah menunjukkan kontribusi yang nyata dari Grab bagi perekonomian Indonesia.

“Semangat dari Grab adalah teknologi untuk kesejahteraan. Bagaimana dengan teknologi bisa meningkatkan kesejahteraan bukan hanya mitra pengemudinya, tetapi juga konsumennya. Dan terbukti hasil riset ini menunjukkan bagaimana manfaat nyata dari kontribusi Grab di Indonesia,” kata Tri Sukma Anreianno.



Sumber: BeritaSatu.com