Koperasi Harus Mampu Bertransformasi di Era Revolusi Industri 4.0

Koperasi Harus Mampu Bertransformasi di Era Revolusi Industri 4.0
Pelatihan yang digelar Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan Kota Jakarta Timur.
Siprianus Edi Hardum / EHD Senin, 29 Juli 2019 | 00:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Indrawan, menegaskan, tantangan baru koperasi tidak sekedar cara berbisnis di era digital, melainkan juga mengubah mindset dalam sistem tata kelola secara menyeluruh.

"Koperasi harus melakukan reformasi total agar mampu melewati era revolusi Industri 4.0. Koperasi harus mampu beradaptasi dan bertransformasi secara dinamis,” kata Rully dalam siaran persnya, Senin (29/7/2019).

Rully menambahkan, koperasi juga harus kreatif dan inovatif dalam menjalankan strategi bisnisnya. "Harus sudah mengembangkan aplikasi-aplikasi, termasuk aplikasi pelayanan anggota dan bisnis, untuk meningkatkan kinerja usahanya,” kata Rully.

Menurut Rully, teknologi bisa dijadikan sebagai alat koperasi dalam menerapkan strategi efisiensi usaha dan dapat meningkatkan daya saing. "Saat ini, rapat anggota tahunan (RAT) sudah bisa dilakukan secara online. Artinya, dengan anggota koperasi yang mencapai ratusan ribu orang, berapa anggaran yang bisa dihemat dan bisa dialokasikan untuk pengembangan usaha,” tandas Rully.

Dengan begitu, lanjut Rully, koperasi akan mampu menjawab tantangan zaman dan mampu bersaing dengan sektor usaha lainnya. "Koperasi saat ini sudah banyak yang berkembang menjadi besar dan masuk ke sektor-sektor usaha modern,” kata Rully.

Rully mengakui, jumlah koperasi dalam lima tahun terakhir memang mengalami penurunan secara signifikan. Namun, hal itu terjadi karena Kemkop dan UKM menggulirkan program Reformasi Total Koperasi, dimana ke depan hanya akan ada koperasi yang berkualitas.

"Kita tidak lagi bicara kuantitas, melainkan kualitas. Kalau ada koperasi yang sudah tidak aktif, ya akan kita bubarkan. Itulah fenomena yang terjadi dalam lima tahun terakhir", jelas Rully secara menyebutkan bahwa jumlah koperasi yang aktif di Indonesia sebanyak 126.000 koperasi.

Rully meyakini bahwa program rebranding dan menampilkan citra baru bagi koperasi akan membuahkan hasil, khususnya di kalangan generasi milenial. "Kita terus membangun citra baru koperasi yang selama ini masih dianggap jadul. Saatnya membangun generasi baru,” kata Rully.

Bupati Sleman Sri Purnomo menjelaskan, pihaknya terus berupaya mengangkat image koperasi di tengah masyarakat. Bahkan, mengenalkan koperasi di kalangan masyarakat kelas menengah dan atas.

"Tak hanya itu, kita juga akan terus membuka peluang jalinan usaha diantara koperasi, khususnya di Yogyakarta. Yang jelas, koperasi itu bukan bisnis ecek-ecek,” kata Sri Purnomo.

Di samping itu, kata Sri Purnomo, pihaknya juga mengenalkan perkoperasian untuk kalangan usia dini seperti PAUD dan TK. "Jadi, ketika mereka beranjak dewasa atau masa SMA, sudah paham dan mengerti tentang sistem ekonomi bernama koperasi,” kata kata Purnomo.

Purnomo memaparkan, saat ini jumlah koperasi di Sleman sebanyak 415 koperasi, dan sudah masuk kategori koperasi bagus dan sehat. Dari jumlah itu, 48% diantaranya merupakan koperasi sektor riil, sedangkan 52% koperasi simpan pinjam.

"Kita juga baru saja melaunching aplikasi satu data UMKM, Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUKM, dan Sleman Mart. Khusus Sleman Mart, merupakan portal pemasaran online yang dikelola koperasi,” kata dia.