Permintaan Komoditas Melemah, Ekonomi RI Bakal Tertekan

Permintaan Komoditas Melemah, Ekonomi RI Bakal Tertekan
Truk mengangkut batubara di sebuah tambang. ( Foto: istimewa )
Monica Dina Putri / HA Selasa, 30 Juli 2019 | 21:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Melemahnya permintaan dunia terhadap ekspor komoditas Indonesia bisa berdampak pada pelambatan pertumbuhan ekonomi tahun ini, menurut analisis Center Of Reform On Economics (CORE).

CORE memperkirakan pertumbuhan ekomoni tahun ini akan berada pada kisaran 5,1% - 5,2%.

Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal mengatakan berdasarkan pengamatan terhadap kondisi enam bulan terakhir hingga akhir tahun nanti, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

“Yang jelas untuk kuartal II kami perkirakan pertumbuhannya juga tidak akan jauh dari kuartal I yaitu 5,01 persen," kata Faisal di acara CORE Midyear Review 2019 di Hong Kong Cafe, Jakarta, Selasa (30/7/2019)

Kondisi yang relatif lemah itu, menurutnya, tak lepas dari dampak pelemahan permintaan global serta perang dagang yang turut menekan ekonomi Indonesia.

“Melemahnya permintaan dunia berakhibat pada penurunan komoditas termasuk minyak sawit dan juga batubara yang merupakan andalan ekspor Indonesia. Harga rata–rata minyak sawit pada bulan Juni 2019 hanya US$ 552,19 per metrik ton, atau kurang dari separuh harga rata- rata Januari 2018 yang mencapai US$ 1.265 per metrik ton," bebernya.

"Harga batubara rata–rata pada bulan Juni 2019 sebesar US$ 72,49, jauh dari rata–rata bulan Juli 2018 yang mencapai US$ 119,57 per metrik ton. Selain itu juga, lemahnya permintaan global berdampak juga pada harga minyak dunia yang secara rata–rata dari bulan Januari sampai Juni 2019 masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.”

Sejumlah badan internasional termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) melakukan koreksi tajam terhadap pertumbuhan ekonomi dunia 2019. Pada Oktober tahun lalu IMF sebenarnya masih optimistis ekonomi dunia akan tumbuh lebih cepat dari 3,6% pada tahun 2018 dan menjadi 3,94% pada 2019. Namun, pada April 2019 IMF mengkoreksi pertumbuhan ekonomi global menjadi hanya 3,33%.

“Perlambatan ini terutama dipicu oleh melambatnya perumbuhan tiga ekonomi terbesar yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, dan Uni Eropa,” Kata Faisal.

Faisal menilai prediksi itu masih dimungkinkan mengalami perbaikan. Asalkan, ada keseriusan dari pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan.

"Khususnya tim ekonomi pada Oktober nanti, juga akan bergantung pada keseriusan Presiden Jokowi dan tim ekonominya dalam menjalankan agenda ekonominya, serta sejauh mana konsistensi dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan tersebut," kata Faisal.



Sumber: BeritaSatu.com