Jepang Hapus Korsel dari "Daftar Putih" Ekspor

Jepang Hapus Korsel dari
Aktivitas di pusat belanja Ginza di Tokyo, Jepang. ( Foto: AFP )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 2 Agustus 2019 | 09:55 WIB

Tokyo, Beritasatu.com - Jepang berpotensi menghapus Korea Selatan dari apa yang disebut "daftar putih" atau tujuan ekspor terpercaya yakni negara-negara yang menikmati hak istimewa perdagangan dengan Tokyo menyusul meningkatnya ketegangan kedua sekutu AS itu yang akan merusak pasokan global. Bulan lalu, Jepang membatasi ekspor tiga bahan baku utama berteknologi tinggi ke Korea Selatan yang digunakan oleh perusahaan teknologi.

Kabinet Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe buka suara pada Jumat (2/8/2019) untuk menyerang tetangganya Korea Selatan dari apa yang disebut "daftar putih" yakni negara-negara yang mendapat manfaat perdagangan. "Hal ini akan berlangsung pada 28 Agustus," kata pemerintah.

Daftar tersebut sendiri berisi negara-negara dengan perlakuan khusus dari pemerintah. Dengan kebijakan itu, maka perusahaan asal Jepang akan memerlukan lisensi pemerintah untuk menjual produk apa pun yang berpotensi digunakan untuk aplikasi senjata dan militer ke perusahaan Korea Selatan.

Menteri Perdagangan Jepang Hiroshige Seko mengatakan kepada wartawan bahwa Jepang tidak berniat untuk merusak hubungan dengan Korea Selatan. Tetapi masalah ini dilihat oleh Seoul memiliki implikasi besar bagi ekonominya yang sudah berjuang.

Sementara Gubernur Bank of Korea Lee Ju-yeol berencana menggelar pertemuan untuk membahas dampak keputusan Jepang.

Dua raksasa teknologi Korea Selatan, Samsung Electronics Co dan SK Hynix Inc., sudah berjuang dengan pembatasan ekspor sebelumnya. Saham Samsung turun sebanyak 2 persen di Seoul pada Jumat, sementara Hynix turun sebanyak 3 persen.

Korea Selatan adalah mitra dagang terbesar ketiga Jepang, dengan nilai impor mencapai sekitar US$ 54 miliar dalam setahun, termasuk mesin industri, bahan kimia, dan mobil

Korea Selatan sebelumnya telah mendesak Jepang untuk untuk mencabut pembatasan ekspor bahan baku yang dibutuhkan perusahaan Korea Selatan untuk menghasilkan chip komputer. Jika tidak dicabut, akan memiliki konsekuensi besar dan mendorong pemikiran ulang kerja sama keamanan.



Sumber: Bloomberg