Wujudkan Swasembada Pangan, Pemerintah Dorong Petani Milenial

Wujudkan Swasembada Pangan, Pemerintah Dorong Petani Milenial
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi (tengah) bersama mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor. ( Foto: Dok )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 2 Agustus 2019 | 20:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kemtan) Dedi Nursyamsi mendorong generasi muda untuk berkecimpung di sektor pertanian dan menjadi petani milenial.

“Petani milenial itu adalah masa depan kita, masa depan bangsa,” kata Dedi Nursyamsi menyapa ratusan mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor seperti dikutip dalam keterangan yang diterima redaksi Jumat (2/8/2019).

Dia berharap kepada semua mahasiswa untuk bisa belajar dengan baik penjadi petani milenial yang tangguh di lapangan, cerdas, melek ilmu pertanian teknologi serta dapat memanfaatkan era 4.0 ini. “Ke depan pembangunan pertanian harus didominasi oleh petani milenial,” kata Dedi Nursyamsi.

Di hadapan mahasiswa, Dedi Nursyamsi mengutip pesan utama Presiden pertama Indonesia Soekarno bahwa
pangan merupakan soal mati hidupnya suatu bangsa. Apabila kebutuhan pangan tidak dipenuhi, maka menjadi malapetaka. Oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal dan revolusioner. "Perkataan Presiden Soekarno terbukti di beberapa event besar dunia dan nasional," ujar Dedi Nursyamsi.

Dedi Nursyamsi mengungkapkan, runtuhnya Uni Soviet, hingga orde lama dan orde baru berawal dari pangan yang diikuti krisis sosial hingga krisis politik dan moneter. Uang tidak lagi ada harganya karena mengalami devaluasi saat itu.

Dedi Nursyamsi menambahkan salah satu Nawacita Presiden Joko widodo adalah kedaulatan pangan yaitu Indonesia harus berdaulat, dan mampu mengatur pangan sendiri. Kemandirian pangan membuat Indonesia tidak tergantung pada negara lain. Hal ini adalah keharusan pada saat kita dalam kondisi krisis. “Kita harus swasembada pangan yaitu mampu menyediakan pangan dengan tangan kita sendiri dengan keringat dan lahan petani kita sendiri,” kata Dedi Nursyamsi.

Kementerian Pertanian kata dia, melaksanakan upaya khusus (upsus) yang dilakukan secara besar-besaran, revolusioner dan radikal. Pada 100 tahun Indonesia di 2045, Indonesia tidak hanya swasembada, tapi bisa menghidupi negara lain. "Indonesia harus menjadi lumbung pangan dunia 2045. Kita harus mampu meningkatkan produktivitas pertanian," kata Dedi Nursyamsi.

Dedi mengingatkan bahawa ada tiga hal utama dalam peningkatan produktivitas pertanian yaitu infrastruktur, inovasi teknologi dan pemberdayaan SDM pertanian. "Petani kita berikan penyuluhan, demplot alat mesin pertanian (alsintan), lalu kita bantu pupuk, jaringan irigasinya," kata Dedi Nursyamsi.

Menurut Dedi, pemberdayaan manusia menjadi pengungkit produktivitas yang paling penting dibanding faktor lain. Untuk itu pemerintah terus meningkatkan kemampuan petani milenial yang mampu membaca kesulitan dan mengatasi masalah. Ke depan milenal yang dapat mentrasnformasi pertanian tradisional ke pertanian modern. "Segala sesuatunya otomatis menggunakan teknologi internet of things, menggunakan big data Artificial intelligence," kata Dedi Nursyamsi.

Kemtan kata dia, menggerakkan 1 juta petani milenial yang berorientasi ekspor, dan mampu mengemas memasarkan produk berdaya saing. "Di sektor hortikultura, salak kita sudah diekspor ke Taiwan. Manggis sudah diekspor ke Tiongkok. Pisang dan Nanas ke Spanyol bahkan kambing kita sudah diekspor ke Papua Nugini dan Timor Leste. Jagung kita ekspor ke Filipina, Vietnam dan Malaysia," kata Dedi Nursyamsi.

Dalam rangka meningkatkan SDM, kata dia, petani milenial difasilitasi magang di luar negeri di Taiwan dan Jepang. Dari sana, mereka bisa menjadi inspirasi petani milenial yang memiliki jiwa entepreneurship.



Sumber: BeritaSatu.com