Produksi Minim, Penyebab Kenaikan Harga Cabai

Produksi Minim, Penyebab Kenaikan Harga Cabai
Cabai merah. ( Foto: Antara )
Ridho Syukro / FER Senin, 5 Agustus 2019 | 18:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pertanian (Kemtan) mengakui kenaikan harga cabai merah karena kurangnya produksi di tingkat petani. Minimnya produksi membuat harga cabai di tingkat petani menyentuh angka Rp 60.000 per kilogram (kg).

Direktur Jenderal Hortikultura Kemtan, Prihasto Setyanto mengatakan, minimnya produksi disebabkan petani cabai tidak merawat tanaman dan memanen cabai. Harga cabai merah di tingkat petani 2-3 bulan yang lalu sempat jatuh hingga berada di level Rp 5.000 per kg. Jatuhnya harga membuat petani malas memanen cabai merah karena biaya panen lebih mahal daripada harga jual, di mana ongkos panen sekitar Rp 6.000 per kg.

"Petani akhirnya tidak merawat dan tidak memanen tanaman cabainya sehingga membuat produksi cabai berkurang," ujar Prihasto Setyanto, dalam keterangan persnya, Senin (5/8/2019).

Menurut Prihasto, harga cabai Rp 60.000 per kg di tingkat petani memang cukup mahal. Pasalnya, harga normal cabai merah di tingkat petani berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kg.

"Harga itu dianggap sebagai level paling rasional di mana tetap menguntungkan petani, tapi juga tidak terlalu mahal di tingkat masyarakat," jelasnya.

Namun, Prihasto menyebutkan, harga cabai merah sebesar Rp 60.000 per kg di tingkat petani yang terjadi saat ini masih masuk kategori relatif terkendali. Hal itu dikarenakan, harga cabai merah di tingkat petani pada tahun 2017 pernah melonjak lebih tinggi hingga ke level Rp 90.000 hingga Rp 100.000 per kg.

Prihasto menambahkan, berdasarkan laporan dari dinas pertanian sentra cabai, petani sudah mulai menanam dan mengurus tanaman cabainya kembali. Kemtan sendiri berani menargetkan harga cabai di tingkat petani akan kembali ke angka aman sekitar Rp 30.000 per kg pada akhir Agustus 2019.

Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Eko Listiyanto menyebutkan, cabai masuk dalam kategori bumbu-bumbuan yang kerap menyumbang inflasi cukup besar bersama dengan komoditas bawang putih dan bawang merah.

"Minimnya pasokan cabai kerap diikuti lonjakan harga komoditas tersebut. Selalu, kenaikan harga cabai itu persentasenya tinggi bahkan bisa dua kali lipat," ujar Eko.

Eko menekankan cabai menjadi komoditas konsumsi pangan yang selalu mengalami kenaikan harga di musim kemarau. Kali ini, di bulan Juli kondisi kemarau juga turut membuat persediaan cabai langka sehingga harganya melonjak.

"Sayangnya, cabai adalah komoditas yang penanamannya membutuhkan perawatan khusus. Pasalnya, ketika kemarau cabai seringkali hanya tumbuh sedikit. Sebaliknya, musim hujan juga kurang bersahabat dengan tanaman cabai karena bisa membuat bunga rontok," tandas Eko.



Sumber: Investor Daily