Antisipasi Ketergantungan Listrik, Pakar UGM Sarankan Bangun Pembangkit EBT Tersebar

Antisipasi Ketergantungan Listrik, Pakar UGM Sarankan Bangun Pembangkit EBT Tersebar
Foto udara suasana kompleks PT PLN (Persero) Pusat Pengatur Beban (P2B) Area Pengatur Beban (APB) Jateng-DIY di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (5/8/2019). Menurut PT PLN (Persero) peristiwa pemadaman listrik pada Minggu (4/8/2019) kemarin di wilayah Jabodetabek, sebagian Jawa Barat dan Jawa Tengah disebabkan gangguan yang terjadi pada sisi jaringan transmisi SUTET 500 kV Ungaran-Pemalang I (Span 434-435), yang mengakibatkan kegagalan transfer energi dari timur ke barat. ( Foto: ANTARA FOTO / Aji Styawan )
Fuska Sani Evani / FMB Rabu, 7 Agustus 2019 | 09:56 WIB

Yogyakarta, Beritasatu,com - Perusahaan listrik negara (PLN) perlu memperkuat sistem kelistrikan se-Jawa-Bali karena menjadi tulang punggung kelistrikan nasional.

Sistem pembangkit listrik yang dibangun interkoneksi dari Jawa hingga Bali, menurut pakar energi terbarukan Fakultas Teknik UGM, Ahmad Agus Setiawan, bukan tidak mungkin justru akan menganggu distribusi listrik jika salah satu jaringan terganggu.

“Apabila sistemnya tidak dikondisikan dalam posisi aman maka salah satu saja mengalami gangguan maka akan terkena seluruhnya. Jadi ini sistem besar, yang kita tawarkan itu distribusi model kecil-kecil dan bisa on tapi cakupannya area kecil,” katanya, Selasa (6/8/2019) petang.

Jabodetabek dan sebagian Jawa Barat serta Jawa Tengah mengalami mati listrik pada hari Minggu (4/8/2019). Bahkan, hingga Senin paginya, masih ada sejumlah wilayah yang belum teraliri listrik secara normal. Berhentinya pasokan listrik hampir separuh pulau Jawa ini membuat layanan publik terganggu. Dari Presiden hingga masyarakat pun mengeluhkan pemadaman yang terjadi selama hampir seharian itu. Sebab konsumen merasa dirugikan, dari layanan transportasi hingga kegiatan jual beli online melalui internet juga terganggu.

Kejadian semacam ini sebaiknya jangan terulang kembali. Menurut Ahmad Agus Setiawan, sudah saatnya PLN membangun pembangkit listrik tersebar atau distributed power generation. “Pembangkit listrik tersebar menjadi opsi saat ini, kalau di sistem pemerintahan itu, semacam otonomi daerah namun masih dikelola oleh PLN,” katanya.

Menurutnya, kejadian listrik padam hampir separuh pulau Jawa pada hari Minggu kemarin bisa saja akibat gangguan kecil namun bisa memutus aliran listrik yang interkoneksi dari Jawa hingga Bali. Dia menyebutkan pernyataan PLN soal penyebab pemadaman sering berubah, terakhir menyebutkan soal pohon sengon yang terlalu tinggi menyentuh kabel SUTET dan sebagainya.

Namun, Ahmad Agus menilai pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang tersebar ini perlu mendapat dukungan pemerintah dan PLN. Selanjutnya peluang harus dibuka seluas-luasnya bagi masyarakat untuk turut berpartisipasi. “Peraturan harus mendukung, harga dibuat menarik dan masyarakat diajak berpartisipasi aktif,” katanya.

PLN, menurutnya harus mengkoordinasikan pemanfaatan EBT tersebut karena sebagai lembaga yang melakukan monopoli distribusi listrik. “Sistem PLN juga harus siap untuk era baru ini apalagi sudah ada peraturan menteri tentang ini,” katanya.

Selain memperkuat sistem kelistrikan yang interkoneksi, pemerintah menurutnya juga perlu memperkuat sistem distribusi pembangkit tersebar dengan memanfaatkan EBT. Salah satunya menelurkan kebijakan memberikan keleluasaan agar konsumen juga bisa menjadi produsen listrik. “Seperti memanfaatkan tenaga surya atap sehingga bila terjadi gangguan konsumen bisa disconnect dengan sistem besar PLN, sementara sistem kecilnya secara otonom bisa menghasilkan listrik untuk kebutuhan sendiri,” ujarnya.

Meski saat ini PLN masih mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sebagai pembangkit listrik yang dianggap praktis namun menurutnya sesuai dengan target bauran energi terbarukan 23 persen pada tahun 2025, PLN seharusnya membangun pembangkit menyesuaikan dengan potensi sumber energi yang ada di lokasi wilayah seperti energi matahari, angin, air, biomassa dan sebagainya.

Saat ditanya apakah setiap pembangkit memiliki genset, menurut Ahmad Agus Setiawan, sesuai dengan standar dan prosedurnya setiap pembangkit memiliki genset sendiri namun namun jumlah kapasitas sangat kecil untuk mencakup distribusi wilayah yang tersebar luas.



Sumber: Suara Pembaruan